Senin, 09 April 2012

Kesetaraan Gender, Perlukah?


“Tidak adil” dan “tertindas” adalah dua bekal gerakan feminism dan kesetaraan gender. Wanita diseluruh dunia ini dianggap tertindas dan diperlakukan secara tidak adil. Wajah peradaban umat manusia memang diwarnai oleh dua kata tersebut. Tapi masing-masing peradaban memiliki solusi masing-masing.


Islam lahir disaat peradaban jahiliyah tidak dan salah menghargai wanita. Anak wanita yang tidak dikehendaki harus dikubur hidup-hidup. Tapi wanita saat itu juga berhak menikah dengan 90 orang suami. Keperkasaan Hindun, otak pembunuhan Hamzah, sahabat Nabi, adalah bukti keperkasaan wanita.


Itulah sebabnya tidak ada alasan bagi Islam untuk menyamakan hak laki dan wanita secara mutlak 50-50. Misi Islam tidak hanya membela wanita tertindas tapi juga mendudukkan wanita pada tempatnya. Meletakkan sesuatu pada tempatnya, dalam Islam, disifati sebagai adil. Islam justru meneguhkan hubungan laki dan wanita dengan merujuk pada watak dasar biologis dan implikasi sosialnya.


Barat lahir disaat wanita ditindas dan diperlakukan secara tidak adil. Sebutan feminis, konon memiliki akar kata fe-minus. Fe artinya iman, minus artinya kurang. Feminus artinya kurang iman. Terlepas dari sebutan itu, yang pasti nasib wanita di Barat sungguh buruk. Mayoritas korban inquisisi adalah wanita. Wanita dianggap setengah manusia. Contoh kasus penindasan tidak sulit untuk ditelusur lebih lanjut.


Dari negara-negara Barat solusi tidak lahir dari ajaran agama. Solusinya datang dari tuntutan masyarakat wanita, berbentuk gerakan feminisme. Mulanya hanya ingin memberantas penindasan dan ketidak adilan terhadap perempuan. Tapi, tidak puas dengan itu, para feminis di London tahun 1977 merubah strategi. Mungkin mengikuti teori Michael Foucault, feminism bisa menghemoni dunia dengan menjual wacana gender (gender discourse). Persis seperti Amerika memberantas teroris. Biaya meliberalkan pikiran umat Islam lebih murah dibanding biaya menangkap teroris.


Nalarnya cemerlang, penindasan dipicu oleh pembedaan dan pembedaan disebabkan oleh konstruk sosial, bukan faktor biologis. Jadi, target wacana gender adalah merubah konstruk sosial yang membeda-bedakan dua makhluk yang berbeda itu.


Konon, gender juga membela laki-laki yang tertindas, tapi ketika wacana ini masuk PBB tahun 1975 konsepnya berjudul Women in Development (WID). Sidang-sidang di Kopenhagen (1980), Nairobi (1985), dan Beijing (1995) malah meningkat menjadi Convention for Eliminating Discrimination Against Women (CEDAW), bukan CEDAM. Namun, ketika dijual ke pasar internasional programnya diperhalus menjadi Gender and Development. Dan ketika menjadi matrik pembangunan menjadi Gender Development Index (GDI). Suatu Negara tidak bisa disebut maju jika peran serta wanita rendah. Untuk mengukur peran politik dan social lain wanita dibuatlah neraca Gender Empowerment Measure.


Indonesia, tak ketinggalan segera ikut arus. Pemerintah lalu membuat Inpres No.9/2000 tentang pengarus utamaan Gender dalam pembangunan. Kini bahkan sudah akan menjadi undang-undang. Padahal enam Peraturan Pemerintah, empat Peraturan dan satu Instruksi Menteri serta satu kebijakan Kementerian tidak berjalan. Tidak semua wanita menginginkan kesetaraan.


Memang preseden historis gerakan ini memang hanya di Barat. Gerakan seperti ini tidak pernah ada dalam sejarah Islam. Tapi, wacana ini tiba-tiba menjadi universal dan menjelma menjadi gerakan internasional dan wajib diikuti oleh umat Islam. Bahkan ketika wacana kesetaraan gender ini disorotkan kepada agama-agama semua agama seperti diam. Semua agama bias gender. Nyatanya memang dalam Islam tidak ada Nabi wanita, dalam Katholik tidak pernah ada Paus wanita. Juga sami dalam Hindu, Bhiksu dalam Buddha adalah laki-laki.


Ketika Negara-negara di dunia diukur prosentase kesetaraan gendernya, tidak ada satu negarapun yang dapat mencapainya secara sempurna. Jika pun tercapai tidak menjadi indikasi bahwa Negara itu maju. Keterlibatan wanita di negara Cuba dibanding Jepang terbukti lebih tinggi, tapi tidak terbukti Jepang lebih mundur. Bahkan Indonesia lebih besar dari Jepang atau sama, tapi tidak ada pengaruh pada kemajuan.


Di Indonesia wanita-wanita di kampung dianggap tertindas karena mereka mengerjakan kerja laki-laki. Tapi di Pakistan, khususnya di kawasan utara, wanita tidak boleh bekerja dan hanya tinggal dirumah. Ini pun dianggap tertindas.


Masyarakat Islam secara konseptual maupun historis tidak menjunjung konsep kesetaraan 50-50. Dihadapan Tuhan memang sama, tapi Tuhan tidak menyamakan cara bagaimana kedua makhluk berlainan jenis kelamin ini menempuh surgaNya. Meski tidak berarti peran wanita dalam Islam dikalahkan oleh laki-laki, Islam mengatur peranaan sosial wanita dari aspek yang paling mendasar yiatu biologis. Sebab dalam konsep Islam aspek biologis terkait erat dengan aspek psikologis dan bahkan saling mempengaruhi.


Bahkan, seperti dikutip Ratna Megawangi, Time edisi 8 Maret 1999 memuat artikel berjudul The Real Truth About Women Bodies. Ide pokoknya wanita secara alamiyah, biologis dan genetik memang berbeda. Tidak mudah merubah factor ini dalam kehidupan social wanita. Maka dari itu perjuangan meraih kesetaraan gender bukan hanya tidak mungkin tapi juga tidak realistis.


Jika demikian adanya, kita berhak bertanya. Apakah gerakan pengarus utamaan gender benar-benar untuk membela kepentingan wanita sesuai aspirasi dan kodratnya? Ataukah hanya sekedar untuk memenuhi tuntutan tren kultural dan ideologis dunia yang kini dibawah hegemoni Barat? Pendek kata apakah wanita benar-benar memerlukan kesetaraan?


Bagi Muslim apa yanag salah pada gerakan ini? Salahnya ketika merubah konstruk sosial, agama tidak diperdulikan. Tafsir-tafsir para pemikir liberal bersifat sepihak, tendensius dan melawan arus para mufassir yang otoritatif dalam tradisi ulama Islam. Jika para anggota DPR meluluskan undang-undang ini tanpa mempertimbangkan dampak keagamaan maka Undang-undang itu dijamin sedang menabur angin dan segera menuai badai. Wallahu a’lam.


Selasa, 04 Oktober 2011

Kualitas Diri



Apakah kita berpikir…

Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…

Sebab hebatnya retorika di hadapan manusia…

Sedang jumlah kata sia-sia yang keluar dari lisan di setiap detiknya lebih banyak dari dzikrullah??


Apakah kita berpikir…

Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…

Sebab telah menjadi orang ternama…

Sedang mata masih lebih banyak digunakan memandang hal yang sia-sia bahkan berbuah dosa??


Apakah kita berpikir…

Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…

Sebab punya kelas/jabatan dan banyak harta…

Sedang diri masih sering “lalai” di setiap pertemuan dengan Allah dalam shalat oleh urusan dunia??


Apakah kita berpikir…

Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…

Sebab merasa telah banyak beramal…

Sedang hati masih berbunga menyimpan segumpal ujub dan riya??


Apakah kita berpikir…

Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…

Sebab telah menunaikan separuh agama membentuk sebuah keluarga…

Sedang hak-hak suami/isteri/anak/tetangga terlebih hak-hak Allah masih sering diabaikan dan terlupa??


Apakah kita berpikir…

Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…

Sebab merasa telah luas pergaulan dalam berbagai tingkat kehidupan masyarakat…

Sedang adab-adab dan batasan syar’I masih sering dilanggar dan disepelekan dosanya??


Apakah kita berpikir…

Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…

Tanpa rasa malu di hadapanNya…

Sedang tak satu pun amal unggulan yang dapat kita andalkan di hadapanNya??


***


Mengapa kita begitu angkuh berjalan di muka bumi…

Padahal tak satu pun bagian diri merupakan hak milik pribadi…


Mengapa kita begitu sombong akan berbagai kelebihan diri kita…

Padahal semua dapat ditarikNya kapan saja…


Mengapa kita begitu susah berempati terhadap sesama…

Padahal musibah dapat menemui kita kapan dan dimanapun jua…


Mengapa kita begitu susah memaafkan dan hilangkan rasa`benci pada sesama…

Padahal masih lebih banyak alpa diri yang diampuni olehNya…


Mengapa kita begitu susah menebarkan jalinan ukhuwah dengan sekadar wajah ceria, salam erat dan pelukan hangat terhadap saudara…

Padahal kehangatan itu adalah penguat ta’liful qulub kita…


Mengapa??


***


Demi Allah…

Zaman boleh berganti…

Namun jangan pernah biarkan dunia dan isinya membeli prinsip dan izzah diri…

Jangan pernah biarkan tawadhu’ terkikis oleh ujub, riya dan benci…

Jangan pernah biarkan diri dan siapapun juga menggoyahkan dan mengoyak batasan syar’i dan hijab hati yang sejak dulu telah kita sepakati…

Jangan pernah biarkan ukhuwah kita meredup dan kemudian mati…


***


Demi Allah…

Hidup hanya sebentar…

Hanya sebentar…

Tak bisakah kita jaga prinsip dan izzah kita di waktu yang sebentar ini??

Bukankah segala nikmat hari ini tak kan kekal??

Tak bisakan kita berikan kualitas diri dan kontribusi terbaik bagi peradaban ini??


Bukan…

Bukan untuk Allah…

Sebab Allah tak butuh apapun dari kita…

Melainkan untuk diri kita sendiri…

Dan demi cita-cita peradaban kita yang begitu menjulang tinggi…

Berharap kelak terus dikuatkan dari generasi ke generasi…


Laiknya para shahabiyah yang rela menyobekkan kain-kain gorden mereka ketika ayat tentang hijab pertama kali diturunkan…

Laiknya keteguhan Yusuf menjaga izzah dan cintanya pada Allah yang tak tergoyahkan…

Laiknya keteguhan prinsip Bilal yang tak terpatahkan oleh siksa dunia…

Laiknya ketawadhu’an, terlebih kesempurnaan akhlaq Rasulullah nan mempesona…


***


Bertanyalah…

Bertanyalah pada diri kita…

Prinsip apa yang telah terkikis dari diri kita hari ini…

‘Amal mana yang telah memudar dan hilang dari diri kita hari ini…


Dan bertanyalah…

Kelemahan apa yang telah menggurita dan meninabobokan diri kita hari ini…

Penyakit hati jenis apa yang mulai membenih dalam diri kita hari ini…

Kenikmatan apa yang telah melalaikan hati kita hari ini…


Sekali lagi…

Zaman boleh berganti…

Namun jangan pernah biarkan dunia dan isinya membeli prinsip dan izzah diri…

Jangan pernah biarkan tawadhu’ terkikis oleh ujub, riya dan benci…

Jangan pernah biarkan diri dan siapapun juga menggoyahkan dan mengoyak batasan syar’i dan hijab hati yang sejak dulu telah kita sepakati…

Jangan pernah biarkan ukhuwah kita meredup dan kemudian mati…


Tanyakanlah pada diri kita…

Kemudian jawablah dengan perbaikan kualitas diri dan amal nyata tanpa jeda…


***


Temukan potensimu…

Lejitkan ia…

Lalu melangkahlah tanpa ragu…

Hingga syahid menjemputmu…

Salam JIHAD!!! (mf)

Nuur Ila Nuur (Part 2)



Februari telah tiba di pertengahannya… Hampir satu bulan dari saat awal proposal itu sampai ke tanganku… Namun, belum juga ada kabar kapan kami akan bertemu untuk ta’aruf…


“Jadikah? Diakah jodohku? Harapan palsukah yang kunanti? Meragukah dia? Ingin mundurkah dia? Hmm.. Entahlah…”, gumamku dalam hati… Sepertinya galau mulai menggerogoti pikiranku…


***


Hari-hariku masih disibukkan dengan praktek kerja profesi di RS Wahidin dan sebuah apotek swasta… Tak kurang dari jam 10 malam aku tiba di asrama setiap harinya… Kesibukan yang padat tentunya… Namun, ketidakpastian proses itu selalu mengacaukan pikiranku… Seolah sengaja menghambatku untuk fokus pada aktivitas profesi dan amanahku…


Yah… Perfeksionis dan tidak sabaran… Segalanya harus jelas, rasional, tersistematis, dan cepat… Semua keputusan harus diambil dengan tepat… dan terpenting, cepat… Tak pernah bisa tenang bila ada sesuatu yang belum tuntas dibenakku… Aku tak suka bila ada sesuatu yang masih menggantung dan serba lambat… Yah… Itulah diriku…


Ketidakjelasan saat itu benar-benar menggangguku…


***


Saat itu, kemana pun aku pergi, biodatanya selalu menyertaiku… Bahkan ketika mendapatkan amanah untuk mengisi pengkaderan KAMMI di Bulukumba selama beberapa hari, proposal itu selalu setia bersama mushaf kesayanganku dalam tas di sepanjang perjalanan… Setidaknya di tengah kesibukan, proposal itu masih bisa membuatku tersenyum sendiri dalam hati kala kepenatan menderu… Aneh memang, tapi itulah yang terjadi padaku…


***


“Hmm.. Jika dia ingin mundur… Ya sudahlah… Tapi, kenapa secepat itu dia mengambil keputusan? Setidaknya dia menyampaikannya ke ustadzahku… Dan tentu saja harus ada alasan yang syar’i… Kenapa dia ingin mundur?? Ah… Jangan-jangan hanya karena dia sedang sibuk? Belum ada waktu? Tapi kenapa sampai selama ini? Nyaris satu bulan sejak biodatanya diserahkan oleh ustadzah kepadaku.. Ataukah… dia sedang berproses lagi di sana?? Huft… Ah… AstaghfiruLlah… Kalau itu benar, bukankah itu berarti memang yang terbaik untukku… dan untuknya…”, pikirku dalam ketidakpastian.


Kurasa, aku tak bisa hanya menunggu… Aku harus segera mencari tahu kejelasannya… Aku harus segera menanyakannya pada ustadzahku…


AlhamduliLlah, sesegera itu pula, beliau pun membantu menanyakan kejelasan proses itu untukku…


Selang satu pekan, kuterima info dari ustadzahku… Penjelasan yang tentu saja telah begitu lama kutunggu…


***


SubhanaLlah… Mahasuci Allah…


Ternyata… dia pun sedang menunggu kejelasan dariku… Dia pun sedang menunggu informasi kapan aku bersedia untuk ta’aruf…


Allahu akbar… Entah bagaimana jika tidak kutanyakan segera waktu itu pada ustadzahku… Tentu kami pun akan saling menunggu tanpa kejelasan…


***


Yah begitulah… Dalam proses seperti ini memang dapat dengan mudah terjadi kesalahpahaman jika tidak dikomunikasikan secara baik, sebab ikhwan dan akhwat yang sedang berproses tidak berkomunikasi secara langsung… Tentu saja agar lebih bisa menjaga diri dari fitnah… Ada pihak-pihak penghubungkan sebagai jalur informasi bagi si ikhwan dan si akhwat… Dan tentunya harus orang-orang yang terpercaya dan telah berkeluarga… Biasanya adalah ustadz dari si ikhwan, ustadzah dari si akhwat, atau pihak lain yang diberi wewenang dan memenuhi syarat…


Alhamdulillah aku dibantu oleh ustadzahku yang cukup sigap merespon apapun informasi yang kubutuhkan dalam proses itu… Sebab, terkadang ada pula yang mungkin karena kesibukan sehingga kurang sigap dan minim dalam merespon hal-hal semacam itu… sehingga proses antara ikhwan dan akhwat itu cenderung menjadi relatif lambat, menggantung, bahkan bisa berhenti di tengah jalan…


Kurasa itu menjadi pembelajaran berharga bagiku…


***


Saat itu, perasaanku kembali campur aduk… Antara lega dan tegang… Lega karena proses itu rupanya masih berlanjut… Dan tegang karena berarti sebentar lagi aku akan berta’aruf dengan pemilik biodata itu… Berati aku harus sudah menyusun pertanyaan-pertanyaan apa yang akan kuajukan padanya nanti…


Hmm… Hari itu adalah hari yang cukup menguras pikiran… Kususun sederet panjang pertanyaan untuknya di benakku… yang jika dia menjawab keseluruhannya maka akan cukup membuatnya berbusa-busa menjelaskan di forum ta’aruf nantinya… :D


***


Baiklah… pikirku, proses ta’aruf tentu saja harus dilaksanakan di Makassar… Sebab jadwalku masih cukup padat di kota itu…


Maka kuminta waktunya untuk ke kota Mks, tentu saja melalui ustadzahku… Sebab ketika itu ternyata si ikhwan sedang bekerja di Medan…


Hmm, tampaknya butuh sedikit perjuangan darinya, pun dariku… Berusaha mencocokkan jadwal kami untuk bisa bertemu di proses ta’aruf…


Baginya, butuh perjuangan untuk mengatur timing cutinya terbang dari Medan-Mks… Dan bagiku, butuh perjuangan untuk menyesuaikan dengan shift jagaku di apotek… Terlebih, ternyata akhir Februari itu aku harus hadir di Muskerda KAMMI Sulsel untuk memberikan laporan hasil kinerja BKM (Badan Kemuslimahan)…


***


Jadwal kami telah berusaha dicocokkan… Ustadzahku memberitahu bahwa ikhwan itu punya waktu tiga hari di Mks menjelang akhir Februari…


SubhanaLlah… Rupanya satu pekan ke depan… Tepat di saat puncak kesibukanku… Bersamaan dengan Muskerda Kammda Sulsel… Kabarnya, beliau akan tiba di bandara Mks ba’da maghrib… Dan aku memang mendapatkan shift jaga di siang harinya… sehingga aku bisa minta izin pulang lebih awal dari apotek agar bisa berada di lokasi ta’aruf ba’da mahrib…


Sebenarnya saat itu aku sangat ragu… Sebab menurutku, laporan kinerja BKM dan jadwal shift apotekku lebih penting… Tetapi alhamduliLlah ustadzahku menguatkan dengan 1 kalimat yang cukup membuatku tersadar… Beliau bilang, “De’… Ini menentukan ‘masa depan’…yang jauh lebih penting.”


Kalimat itu cukup membuatku menarik napas panjang… dan aku pun setuju.


***


Tibalah harinya…


MasyaaLlah… Hari itu hari yang tak hanya padat… tapi juga sangat menegangkan bagiku…


Sejak pagi aku berada di lokasi muskerda… hingga siang harinya, aku meminta izin pada panitia sebab harus tugas jaga di apotek Wahidin, kemudian ke apotek swasta…


“Saya insyaaLlah besok baru ke lokasi muskerda lagi…”, tegasku pada anggota BKM lainnya saat itu.

“Lagi praktek profesi ya?”, Tanya salah satu dari mereka.

“Iya”, jawabku singkat sambil tersenyum.


Saat itu, di lokasi muskerda yang mengetahui bahwa pada malamnya aku akan berta’aruf tentu saja hanya adik kandungku tercinta, yang ketika itu juga sebagai pengurus BKM. Sehingga kuminta padanya untuk membantu mengurus tentang BKM seperlunya. Setidaknya ada yang memberiku semangat ketika melangkah ke luar lokasi muskerda… :-)


Hujan deras menyambutku di sepanjang perjalanan menuju apotek… Hmm… Lengkap… :-)


***


Siang itu resep obat yang masuk di apotek cukup banyak dibanding biasanya… Cukup melelahkan bagiku… Ditambah ketegangan yang tiba-tiba hadir di saat yang tidak tepat… Sebab otakku dipenuhi pikiran bahwa malam ini aku akan bertemu seseorang dalam forum ta’aruf, yang jika Allah izinkan, akan menjadi imam di sepanjang perjalanan hidupku…


“Oh Allah…, mudahkan urusanku…”, doaku ketika itu.


***


Tepat jam 6 sore, aku izin pulang lebih awal dari apotek dan segera meluncur ke rumah Ustadzahku, tempat kami akan berta’aruf…


Cukup jauh perjalanan yang kutempuh dari apotek ke rumah ustadzahku… Dan tentu saja itu memberikan cukup banyak waktu untuk menenangkan diri di sepanjang perjalanan dengan banyak beristighfar dan memuji kebesaran Allah… Berharap aku bisa lebih tentram dan menata hati di proses ta’aruf nanti…


Dua kali angkot… dan setelahnya harus dijemput menggunakan motor oleh ustadzahku untuk bisa sampai ke rumah beliau…


Setibanya…, astaghfirullah… sudah hampir jam 7 malam, pertanda waktu maghrib hampir habis… Kuletakkan ransel kesayanganku di kamar tamu yang telah disiapkan ustadzahku, dan segera kutunaikan shalat maghrib, baru kemudian mandi dan berbenah diri…


Tentu saja ustadzahku menyarankan agar aku menginap di rumah beliau sebab akhwat memang tidak diizinkan untuk bepergian di malam hari terkecuali ada uzur dan itu pun harus sepengetahuan ustadzahnya masing-masing atau seizin suami bagi yang telah berkeluarga… That is the rule, Girls… :-)


***


Waktu shalat isya pun tiba… Namun belum juga ada kabar apakah si ikhwan telah tiba di Mks…


Hatiku mulai kembali gelisah… Resah… Khawatir jika terjadi suatu musibah padanya… Astaghfirullah… Saat itu kuharap Allah memberiku ketenangan hati melalui pertemuan denganNya di shalat isya…


Shalat isya, berdoa dan tilawah usai kutunaikan… hatiku pun mulai tenang…

***


Ketika itu, rasa resah akan ketidakjelasan informasi sebelumnya dan kegelisahanku karena belum adanya kabar kedatangannya di Mks membuatku kembali merenung akan kemahakuasaan Allah…


SubhanaLlah… Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim…


Sepasang manusia baru dikatakan berjodoh setelah ijab qabul diucapkan atas mereka… Sebelum itu, tentu saja semua masih dalam ketidakpastian dalam ukuran manusia, kecuali bagi Allah…


Dalam susuran ikhtiar panjang perjalanan menemukan jodoh, ta’aruf barulah langkah kecilnya…


SubhanaLlah… Jelang ke proses ta’aruf ini pun, begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa membatalkan proses kami untuk dikatakan berjodoh… Sebab dalam perjalanannya, ada ribuan detik dan ribuan alasan yang bisa menghentikan proses tersebut… Entah sebab faktor individu, ajal, bahkan hal-hal lain yang dalam takaran akal manusia tidak mungin, namun bagi Allah tentu saja segalanya adalah mungkin…


Maka, di sepanjang proses itu, sangat penting menjaga keikhlasan niat dan kemurnian cinta pada Allah... Bahwa segalanya kita serahkan pada Allah… Agar Allah membukakan mata hati kita untuk memutuskan segala yang terbaik bagi kita…


Sebelum ijab qabul dilantunkan atasku, dia belum tentu adalah jodoh bagiku… Tetapi, ikhtiar tentu saja harus tetap kuperjuangkan…


“Allahurrahmaan… Jika dia benar jodohku, mudahkan proses kami… Namun jika dia bukan jodohku, berikan yang terbaik bagi kami…”

***


Selang beberapa menit, ponselku pun berbunyi… Cukup mengejutkanku yang saat itu sedang sendiri di kamar tamu… Rupanya sms dari adikku…


“Kak, katanya file laporan kinerja BKM yang di laptop akhwat itu hilang. Laptopnya kena virus dan lagi diinstal ulang. Tapi ini kami lagi coba susun ulang laporannya. Mudahan bisa selesai malam ini Kak. Trus,Ketua KAMMDA dan pengurus yang lain juga tadi nanya, sepertinya ada yang mau dibicarakan sama kk…”, isi smsnya.


Fiuh… Panik…

Astaghfirullah… Pikiranku jadi tertuju ke muskerda… Seolah aku sudah lupa kalau malam ini akan ta’aruf… Semua pertanyaan yang kupersiapkan untuk ta’aruf meluap begitu saja… Fokusku malam itu berubah total jadi tertuju pada laporan kinerja BKM…


Segera kubalas smsnya dan memohon maaf karena tidak bisa membersamai mereka malam itu… Sedih dan panik menyatu… Tak terpikirkan lagi olehku tentang ta’aruf malam itu …

***


Hampir pukul 08.30 malam… Namun belum juga ada kabar bahwa si ikhwan telah tiba…


Aku merebahkan diri sejenak di kamar tamu… Tidak rela bila tiba-tiba besok aku sakit… Kurasakan tubuhku sangat kelelahan… Tetapi tetap saja pikiranku terfokus pada muskerda… Tidak pada ta’aruf…


Ustadzahku dan suaminya masih menyaksikan acara televisi…


Sekitar 15 menit kemudian… terdengar ada yang mengetuk pintu kamar… Segera kubuka dengan penasaran…


“Ternyata ikhwannya sudah tiba di Mks sejak tadi, De’.. Tapi beliau siap-siap dulu di tempat temannya.. Dan sekarang sedang dalam perjalanan ke sini… Siap-siap mi nah…”, kata ustadzahku dengan logat bugisnya.


Kujawab dengan anggukan…dan sepertinya kebingungan sedang melandaku…


“Tapi… Alhamdulillah lah klau begitu… Berarti dia tidak apa-apa…”, legaku sambil bersiap-siap dan menuju ruang tengah.


Aku berusaha tetap santai… Setidaknya aku harus bisa terlihat lebih santai oleh ustadzahku…yang saat itu sepertinya terus memperhatikanku sambil tersenyum-senyum kecil…seolah sengaja ingin menggodaku…


Mataku sengaja kuarahkan ke televisi dan berusaha bermimik santai… Tapi tetap saja hatiku berdebar kencang… Lebih kencang dari sebelumnya, dan sepertinya terus bertambah kencang di setiap detiknya…


Seketika itu pula tanganku menjadi sangat dingin… Dan bibirku seolah kaku…


Kucoba menarik napas dalam-dalam sambil berusaha mengingat pertanyaan-pertanyaan yang akan kuajukan… Cukup lama…


Dan… alhmduliLlah… Sepertinya sudah mulai ingat… :-)

***


Tak lama kemudian, “Assalamu’alaikum…”, terdengar ada suara laki-laki mengucapkan salam dan mengetuk pintu di luar… Jantungku sepertinya hampir rontok mendengar itu…


Ustadzahku dan suaminya pun menuju ruang tamu, menjawab salam dan membukakan pintu…


Setelah dipersilakan masuk, mereka terdengar berbincang-bincang di ruang tamu… Aku tak tahu apa yang terjadi di ruang tamu sebab aku tetap di ruang tengah… Saat itu aku merasa bersyukur karena kupikir aku tidak harus berhadapan langsung dengan ikhwan itu…


Aku hanya mencoba meraba isi pembicaraan mereka… Sejenak suasana menjadi hening…


Kemudian ustadzahku tiba-tiba memanggilku… “Ke sini mi, De’..”


“Apa?? Harus ke situ??”, gumamku dalam hati… Kecepatan detak jantungku jadi tidak beraturan… Sepertinya aku jadi tidak mampu berdiri…

“Haduh… kenapa jadi begini?? Tenanglah…”, kucoba memberi semangat pada diri sendiri yang entah mengapa tiba-tiba jadi kikuk dan salah tingkah.


“Ke sini mi… Tidak terdengar suaranya kalau di situ De’.. Tidak apa-apa ji..”, panggil ustadzahku lagi.


AstaghfiruLlah… AstaghfiruLlah… Kembali kuatur napasku sambil beristighfar…


Akhirnya kuberanikan diri menuju ruang tamu… Dan langsung duduk merapat di sebelah ustadzahku…


Ada tiga orang ikhwan di sana, termasuk suami dari ustadzahku… Mereka bercerita ringan… sehingga aku pun mulai bisa merasa lebih tenang… Namun tiba-tiba suasana menjadi hening… Tentu saja itu mempengaruhi pikiranku…


Pembicaraan pun kembali mengalir… Di mulai dengan sambutan dari tuan rumah, kemudian penyampaian maksud kedatangan si ikhwan dalam pertemuan tersebut… Saat itu aku hanya mendengarkan (tidak menyimak) isi pembicaraan tersebut… dengan berusaha memberi respon mimik wajah yang santai… Meskipun pikiranku sepertinya kembali melayang ke laporan kinerja BKM… Pandanganku hanya fokus pada lantai di hadapanku dan sesekali memandang ke arah ustadzahku…


Tiba-tiba ustadzahku mengejutkanku ketika beliau bertanya sambil melihat ke arahku,

“jadi silakan… siapa yang mau lebih dulu bertanya...”

“Ikhwannya aja dulu, Kak”, jawabku spontan pada ustadzahku.

“Oh gitu… Ya sudah… silakan ikhwannya bertanya lebih dulu…”, sahut ustadzahku mempersilakan si ikhwan untuk mengajukan pertanyaan apapun padaku.

“Sebaiknya… Akhwatnya saja dulu…”, jawab si ikhwan.


Mendengar jawaban kami yang saling mempersilakan itu, mereka pun tertawa…


“Huh… Ni ikhwan bikin jengkel aja!”, gumamku dalam hati.


“Ya udah saya aja dulu, Kak…” jawabku pada ustadzahku.


Tapi tiba-tiba saja… aku jadi tidak ingat sama sekali apa yang akan kutanyakan… Deretan panjang pertanyaan yang sebelumnya telah kubuat kembali meluap entah kemana… Aku terdiam sejenak… Dan tiba-tiba terlintas kembali di benakku tentang BKM…


Maka pertanyaan pertama yang kuberikan saat itu sepertinya lebih mirip pertanyaan untuk debat kandidat calon ketua KAMMI… Bukan untuk calon suami… :p

“Bagaimana pandangannya tentang pergerakan muslimah?”, tanyaku.


Si ikhwan terdiam sejenak… Sepertinya beliau sedikit kaget dan bingung dengan pertanyaanku yang mungkin tidak terpikirkan olehnya bahwa akan muncuk pertanyaan seperti itu…


Kemudian ustadzahku berusaha menterjemahkan isi pertanyaanku pada si ikhwan…

“Jadi gini… Akhwatnya ini kan punya amanah sebagai ketua di kemuslimahan KAMMI di sini… Dan juga beberapa amanah lainnya… yang mungkin sedikit berbeda dari biasanya… Nah…akhwatnya ini ingin tetap bisa menjalankan amanah-amanahnya itu meskipun dia sudah menikah nantinya… jadi bagaimana menurut ikhwannya tentang hal itu? Gitu…”


“Oh… Kalau ana sih tidak masalah dengan hal itu… Ana persilakan beliau untuk aktif di kegiatan atau amanah apapun, insyaaLlah…”, tegas si ikhwan.


Hmm… Sebenarnya waktu itu aku belum puas dengan jawaban itu… Aku lebih mengharapkan suatu pandangan secara komprehensif darinya tentang pergerakan muslimah… Tapi, jawaban itu lumayan lah… Setidaknya aku tidak perlu khawatir terhadap fenomena yang terjadi pada beberapa akhwat yang setelah menikah justru amanah-amanahnya dilepaskan dengan alasan tidak diizinkan oleh suami…


“Apa lagi pertanyaannya, De’? Tanya mi apa saja… Mumpung lagi ada momennya di ta’aruf ini…”, Tanya ustadzahku padaku…

“Hmm… Bagaimana kesiapannya dan orang tuanya?”, tanyaku lagi.


Kali ini si ikhwan langsung menjawab tanpa jeda…

“InsyaaLlah dari ana sendiri sudah siap… Mengenai orang tua, ana sudah sampaikan pada mereka tentang niat ana… Ibu juga sudah tahu bahwa ana malam ini datang ke Mks untuk bertemu calonnya… InsyaaLlah besok ibu dan adik ana akan datang ke Mks di daerah sudiang untuk bertemu ana dan katanya juga mau ketemu sama calon ana… Jadi kalau akhwatnya ada waktu, mungkin besok sore bisa diluangkan waktunya untuk bertemu ibu ana…”, jelas si ikhwan.


“Haaa? Ketemu calon mertua? Besok sore? Memangnya kita sudah pasti, gitu? Kalau tiba-tiba ibunya ga suka denganku gimana? Berarti harus dandan baik-baik donk… Lagian sepertinya besok aku akan sangat sibuk di muskerda… Tapi.. Ga enak juga…orang tuanya sudah jauh-jauh datang ke Mks untuk ketemu denganku.. Hmm.. InsyaaLlah akan kuusahakan deh… ”, gumamku sendiri dalam hati.


“Hmm… Gitu… Ok, insyaaLlah ana usahakan besok… Tapi besok itu seharian ana ada di lokasi Muskerda yang jaraknya hampir ujung pukul ujung dari daerah Sudiang… tapi tetap ana usahakan kok, insyaaLlah…”, jawabku.


Suasana jadi hening kembali…

Kemudian ustadzahku kembali bertanya, “Masih ada pertanyaannya De’?”

“Untuk sementara itu dulu Kak…”, jawabku.

“Oh… kalau begitu silakan ikhwannya sekarang yang bertanya…”, tegas ustadzahku.

“Orang tuanya sudah tahu tidak tentang proses ini? Kesiapan mereka bagaimana?”, Tanya si ikhwan padaku.

“Hmm… Sebenarnya orang tua ana masih awam… Tapi secara proses keseluruhan sih mereka sudah mengerti dan cukup menerima bahwa dalam Islam tidak dikenal yang namanya pacaran… Yang ada hanya ta’aruf sebelum menikah…dan prosesnya diserahkan ke ustadzah ana… Nanti kalau sudah ok diproses oleh ustadz/ustadzah, maka orang tua akan bertemu, menilai dan mendengarkan langsung permintaan lamaran/ khitbah dari si ikhwan ke mereka… Tentang proses walimah pun ana sudah pahamkan ke orang tua, tentang hijab dll, insyaaLlah mereka bisa menerima…”, jawabku.


Lantas ustadzahku menambahkan pertanyaan padaku…

“oh iya coba anti jelaskan juga ke ikhwannya tentang bagaimana adat di tempat anti… Karena kan kalau di Bugis itu ada yang namanya uang panai’ gitu…”

“Oh iya, jadi kalau tentang asal suku, ana kan orang Buton… Secara budaya tidak jauh berbeda dengan Bugis… Tapi karena ana lahir dan tinggal di Kaltim (Samarinda), jadi adatnya digabungkan gitu… Tentang sejenis uang panai’ itu, di Smd ada yang namanya uang jujuran… Itu digunakan untuk biaya pernikahan/walimah di tempat pihak perempuan…”, jawabku.

“Itu jumlahnya kira-kira berapa yah?”, Tanya si ikhwan lagi.


“Ni ikhwan to the point banget…”, ketusku dalam hati…


Aku terdiam sejenak… Sebab masih belum tahu jumlah pastinya… Namun karena seingatku dulu aku pernah menanyakan hal itu pada orang tuaku… dan orang tuaku pernah menyebutkan angka, dan mereka dulu juga mengatakan bahwa itu masih bisa dibicarakan kemudian jika sudah ada laki-laki yang benar-benar datang pada keluargaku untuk serius melamar anak mereka… Maka perkiraan jumlah itulah yang kusebutkan… Dan aku berjanji untuk menanyakan kepastian hal tersebut secepatnya pada orang tuaku di malam itu juga setelah proses ta’aruf…


Tampaknya si ikhwan sedikit merasa lega… Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya, pun mimik wajahnya ketika itu… Sebab pandanganku hanya terpaku pada lantai di hadapanku… Namun dari nada bicara dan warna suaranya, sepertinya beliau cukup puas dengan jawabanku…


“Jadi kira-kira kapan kesiapannya?”, Tanya si ikhwan lagi.


Aku tentu saja terkejut dengan pertanyaan itu… Dan tidak bisa langsung menjawab…


Namun ustadzahku yang langsung menjawab, “Ya kalau bisa sih secepatnya…” lalu mereka tertawa kecil bersama. Aku jadi tidak bisa berkata-kata.

“Coba kita lihat dulu kalender… Anti kapan liburannya?”, Tanya ustadzah padaku sambil memegangi kalender dengan wajahnya yang dibalut senyum simpul… membuatku kembali salah tingkah…


“Hmm… InsyaaLlah sih awal Maret praktek profesi di apotek dan RS selesai… Kemudian, masih ada`praktek di industri farmasi selama satu bulan di pulau Jawa, tapi waktunya belum pasti… Kemungkinan pertengahan maret sampai pertengahan april… Jadi setelah itu bisa`libur sambil mengerjakan penelitian akhir apoteker di Mks lagi…” jawabku.


“Berarti bisa sekitar awal Mei di’?”, Tanya ustadzahku.


“Kemungkinan sih begitu, Kak… Tapi untuk kepastiannya, pertengahan Maret ini baru bisa diketahui…”, jawabku pada ustadzahku.


“Ok, ikhwannya bagaimana?”, Tanya ustadzahku pada si ikhwan.

“Kalau ana insyaaLlah menyesuaikan saja dengan jadwal akhwatnya…” jawab si ikhwan.


“Jadi kira-kira kapan ikhwannya bisa bertemu orang tua akhwatnya di Smd?” Tanya ustadzahku pada si ikhwan.

“Ana tergantung kesiapan orang tua akhwatnya… Kalau bisa secepatnya… Supaya saya bisa bicarakan semuanya dengan orang tua akhwatnya.. Ana izin dari tempat kerja sampai hari ahad ini, senin akan balik ke Medan untuk kerja…” jawab ikhwannya.


“Apa?? Berarti besok/ lusa?? Cepat amat… Baru juga dia sampai di Mks dari Medan, masa’ sudah mau ke Kaltim lagi?? Serius nih?? Hmm... Wow.. Berani juga ya.. AlhamduliLlah, berarti dia benar2 serius..” celotehku dalam hati.


“Oh, kalau gitu ana akan tanya ke orang tua ana dulu malam ini… InsyaaLlah besok sudah ada infonya”, tambahku.


Setelah jawabanku itu, tidak ada lagi pertanyaan yang melekat di benakku… Tampaknya begitu pun dengannya… Sehingga ta’aruf malam itu disudahi dengan beberapa PR yang harus segera kutanyakan pada orang tuaku… Berharap segalanya Allah mudahkan… berharap hati kami semua Allah lembutkan…

***


Aneh… Lucu… tapi cukup mengesalkan…


Selang beberapa menit si ikhwan dan rekannya meninggalkan rumah ustadzahku, barulah semua pertanyaan yang sebelumnya telah ana rancang langsung bermunculan dan mengantri di memoriku…


Di antara sederet pertanyaan itu, sebenarnya ada satu pertanyaan yang sejak lama membuatku penasaran…

Kenapa dia memilihku?? Kenapa bukan yang lain?? Akhwat kan banyak…


Tapi… Setelah kupikir-pikir lagi…

AlhamduliLlah itu tidak sempat kutanyakan... Sebab pasti aku akan tersipu-sipu malu kalau mendengar jawabannya… Pikiranku pun langsung berkelana pada jawaban-jawaban yang aneh…

Huh… GR benar aku… :p

Padahal jawabannya bisa saja begini “Iya afwan… Ana pilih anti karena sudah tidak ada pilihan yang lain…”

Waah… Bisa tensin aku di forum itu… :p

***


Ta’aruf malam itu membuatku bisa menarik napas panjang dengan lega… Meskipun banyak pertanyaan yang belum kusampaikan, setidaknya beberapa poin penting bagiku telah cukup memuaskan…


Segera kumainkan ponselku… Menghubungi bapak dan ibu yang semoga saja belum tertidur malam itu… Antara gembira dan takut… Allah… Lembutkan hati kedua orang tuaku…


Perasaanku campur aduk… Awalnya pembicaraan kami baik-baik saja… Bapak dan ibuku menyambut dengan baik hasil ta’arufku tadi… Mereka berbicara santai dan seperti biasa, penuh nasehat dan kasih sayang padaku… Tapi tiba-tiba, segalanya berubah saat aku menceritakan tentang pembicaraan mengenai uang jujuran… Warna suara ibu tiba-tiba jadi datar, bapak tiba-tiba lama terdiam...


Ups, sepertinya angka yang kusebutkan saat ta’aruf tidak sesuai harapan mereka saat itu… Cukup lama aku menunggu jawaban bapak dan ibu…


Dan kemudian Bapak akhirnya bersuara kembali sekaligus menutup pembicaraan kami dengan mengatakan, “Ya sudah, suruh saja calonmu itu datang ke Smd untuk berbicara langsung dengan keluarga besar kita… Biar kami yang menilai seberapa besar kesiapan dan keberaniannya…”


“Iya, Pak. Wassalamu’alaikum… ” Jawabku singkat dan pelan. Terdengar suara bapak dan ibu menjawab salamku dengan datar… Kemudian… “Tuut…tuut…” teleponnya mati.


Hampir setengah jam setelahnya aku terduduk kaku. Tatapanku kosong dan sedikit berkaca-kaca...


AstaghfiruLlah… Tanpa kusadari malam telah larut… Sepertinya aku tidak akan bisa terbangun di sepertiga malam setelah tidurku nanti… Segera kutunaikan shalat witir tiga raka’at, dan kuakhiri dengan doa dan simbah air mata… Menyerahkan segalanya hanya pada Sang Maha Pemilik Hati… Yang Maha Berkuasa membolak balikkan hati orang tua dan diri ini…

***


Shalat subuh, tilawah, Matsurat pagi, tilawah dan dhuha…


Berusaha menatap hari itu lebih jauh ke depan… Bahwa segalanya insyaaLlah akan baik-baik saja…


Allah tak kan menyia-nyiakan ikhtiar dan doa hambaNya yang telah berkomitmen selalu menjaga hak-hakNya…

Tentu saja akan selalu yang terbaiklah yang akan diperolehnya…

Dan seperti biasa, kukuatkan azzam dalam hati dan pikiranku dengan berteriak dalam hati, “Tetap ZMANGATT!!! Allahu akbar!!!”


Aktivitas jum’at pagi kumulai seperti biasa… dengan kesibukan yang cukup membuat pikiran dan waktuku tersita… Aku dapat tugas di RS jam 9 pagi itu… Siangnya akan ke muskerda, sore hingga malam tugas di apotek, kemudian langsung ke lokasi muskerda lagi dan akan menginap di sana hingga hari ahad…


Usai berbenah dan sarapan nasi goreng buatan ustadzahku, aku pun pamit pulang ke asrama untuk bersiap menuju RS dan meneruskan agendaku hari itu…

***


Ba’da jum’at ustadzahku menghubungiku via telepon…

“Ikhwannya minta informasi hasil komunikasi anti dengan orang tua, De’…”


Aku pun menceritakan hasil pembicaraanku dengan orang tuaku di malam sebelumnya… Kusampaikan bahwa pada intinya orang tua dan keluarga besarku ingin bertemu dan berbicara langsung dengan si ikhwan. Ustadzahku pun berjanji akan menyampaikan informasi tersebut pada si ikhwan.


Selang beberapa jam, ponselku kembali bordering. Rupanya sms dari ustadzahku yang berisi forward dari sms si ikhwan…

“InsyaaLlah ana akan ke Smd hari ahad ini. Mohon didoakan agar semuanya Allah mudahkan.” isi sms beliau.


“AlhamduliLlah… Sepertinya si ikhwan benar-benar serius... Ya Rabb… Lembutkanlah hati kedua orang tua dan keluarga besarku… Mudahkan segalanya ya Rabb… Berikan yang terbaik bagi hamba…”, doaku dalam hati.

***


Jum’at sore itu orang tua si ikhwan datang ke Mks, mereka juga ingin bertemu denganku… Namun karena aku benar-benar tidak bisa meninggalkan apotek maka aku pun tidak sempat bertemu dengan mereka…


Tapi kemudian kudengar kabar bahwa orang tua si ikhwan menyukaiku…

Dari mana mereka tahu aku?? Ternyata hanya dari melihat fotoku… Hehe

“AlhamduliLlah… Foto itu cukup membantuku… Padahal belum tentu aslinya sebagus di foto itu… :-)

***


Sepanjang sabtu kucurahkan seluruh waktu dan pikiranku di muskerda… Dan semuanya berjalan dengan cukup baik… Meskipun sesekali kegundahan menghampiriku kala memikirkan tentang pertemuan yang akan terjadi besoknya antara si ikhwan dengan keluarga besarku…


Malamnya, ustadzah menghubungiku, beliau meminta alamat lengkapku di Smd untuk si ikhwan… Kabarnya, si ikhwan akan bertemu keluargaku ahad siang seorang diri… Padahal beliau belum pernah ke Kalimantan sebelumnya… SubhanaLlah… Aku salut dengan ikhwan itu…


Usai agenda acara malam itu di muskerda, para akhwat tampak asik berdiskusi santai sebelum tidur… Aku pun sesekali turut menyambut diskusi mereka meskipun sebenarnya hatiku sangat galau… Beruntung di setiap agenda seperti itu, selalu diramaikan oleh para akhwat yang menghidupkan sepertiga malam dengan qiyamullail berjamaah dan kultum ba’da shubuh… Membuat hatiku sangat tentram dan menjadi lembut… Aku selalu rindu aktivitas berjama’ah seperti itu…

***


Hari ahad pun tiba…

Ibuku tiba-tiba menghubungiku via telepon…

“Jam berapa calonmu mau datang, Nak?”, Tanya ibuku tiba-tiba dengan lembut.

“InsyaaLlah siang, Ma…”, jawabku sambil tersenyum senang mendengar suara ibu yang lembut.

“Oh… Berarti tiba di bandara Balikpapan siang juga ya… Hmm.. berarti sore sampainya di rumah ya?”, Tanya ibuku lagi.

“InsyaaLlah begitu, Ma…”, jawabku.

“Sama siapa dia datang? Tahu kah dia alamat rumah kita? Aduh… Nanti bisa nyasar dia… Gini aja, kasih nomor hp bapak ke dia ya… Pokoknya suruh dia telepon kalau ada apa-apa… Kasihan juga nanti kalau nyasar… Kasih tahu dia ya Nak…”, jelas ibuku dengan nada suara penuh kekhawatiran.

“Dia akan datang sendiri dulu, Ma… Alamat rumah sudah ada di dia… Ntar kukasih tahu no hp bapak… Makasih banyak ya Ma…”, jawabku sambil menarik napas lega.

“Iya, kamu juga hati-hati di sana ya Nak…”, tambah ibuku.

“Iya, insyaaLlah Ma…”, jawabku.

“Assalamu’alaikum…”, salam ibuku.

“Wa’alaikumussalaam wr wb…”, jawabku.


AlhamduliLlah… Nada bicara ibu sangat berbeda dengan di pembicaraan terakhir kami malam itu… Sungguh Allah Maha Membolakbalikkan hati… SubhanaLlah… Ya Rabb… Mudahkan ikhtiar kami… Aamiin

***


Ahad sore, muskerda selesai dan ditutup… Aku pun bisa pulang dan beristirahat sejenak di asrama sambil menunggu kabar dari Smd… Hatiku berdebar-debar membayangkan pertemuannya dengan keluargaku… Kabarnya, semua keluarga termasuk paman, bibi, sepupu bahkan yang jauh pun akan datang ke pertemuan di rumah orang tuaku…

***


Makassar senja itu tampak indah dari teras lantai dua asramaku… Aku menikmatinya sambil menyelesaikan matsurat soreku… Allahu akbar… Tidak setiap hari aku bisa menikmati saat seperti itu… AlhamduliLlah… Allah masih memberiku kesempatan itu…


Sebentar lagi adzan maghrib… Tiba-tiba hpku berdering… Telepon dari ibuku…

“Orangnya sudah sampai di rumah Nak… Tadi dia mama suruh beristirahat sebentar di kamar yang sudah mama siapkan… Kasihan… Sepertinya dia kelelahan… Keluarga besar kita akan berkumpul di rumah setelah shalat maghrib… Sekarang dia sudah ke masjid, mau siap-siap shalat maghrib katanya… Oh iya, orangnya boleh juga ya Nak…” kata ibu dengan sengaja menggodaku.


“Oh gitu… AlhamduliLlah… Iya, aku juga sebentar lagi mau shalat maghrib nih Ma…” jawabku agak malu-malu.

“Sudah dulu ya… Nanti mama kabari bagaimana hasilnya… Ditunggu aja ya… Assalamu’alaikum…”, kata ibuku.

“Iya Ma… Wa’alaikumussalaam wr wb…”, balasku.


Selang beberapa detik, adzan maghrib pun berkumandang…

Tidak seperti biasanya… Suara adzan dan gaya lantunan adzan di mesjid sebelah asramaku saat itu sangat berbeda… Sangat mirip dengan lantunan adzan yang dulu biasa kudengar di Mesjid Khairunnisaa’ Ramsis Unhas… Mesjid yang sepertinya dinaungi sangat banyak malaikat… hingga ketika memasukinya hati menjadi sangat sejuk… damai… Kenangan dan lantunan adzan itu tiba-tiba membuat hatiku lebih tenang, haru dan serasa ingin menangis… Entahlah…


Aku pun segera turun ke kamarku di lantai bawah, berwudhu, dan menunaikan persuaan dengan Sang Robbul Izzati…

***


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam… Hatiku mulai resah sebab ibuku belum juga menghubungiku… Aku sangat penasaran dengan hasil pertemuan itu… Entah sudah berapa lembar mushaf kuhabiskan sambil menunggu…


09.30 malam…

Ponselku berdering… Jantungku berdebar kencang…

Benar saja… Telepon dari ponsel bapak… Segera kuraih ponselku…

“Assalamu’alaikum…”, salamku membuka.

“Wa’alaikum salaam… Ini bicara dengan bapak ya…”, jawab ibuku dengan suara agak ditahan… nada suaranya seperti sedang sedih. Suasana di sana terdengar sepi… Mungkin semua keluarga sudah pulang, pikirku.

“Assalamu’alaikum…”, sapa bapak dengan suara datar.

“Wa’alaikumussalaam wr wb…”, jawabku sambil sedikit sedih…

“Gimana kabarmu di sana? Sehat aja kan? Bapak minta maaf sebelumnya kalau hasil pertemuan ini tidak seperti yang kamu harapkan… Tapi bapak harap kamu siap dengan apapun hasil dari perundingan keluarga besar kita dari pertemuan dengan laki-laki ini ya…”, jelas bapak.

“AlhamduliLlah aku sehat,Pa’… Iya, insyaaLlah aku siap mendengarkan…”, jawabku pelan.

“Jadi gini… AlhamduliLlah bapak dan semua keluarga sedah sama-sama sepakat menilai… Dan kami sudah terima lamarannya… AlhamduliLlah…bapak salut dengan kesiapan dan keberaniannya… Kami menilai dia adalah calon suami yang baik dan tentu saja sangat sesuai dengan yang kami harapkan…bahkan lebih… InsyaaLlah dia akan jadi suami yang baik untuk anak bapak…”, jawab bapak dengan tenang dan warna suaranya terdengar sangat bahagia.

“AlhamduliLlah…… Makasih banyak Pa’…”, jawabku dengan sedikit histeris bahagia. Mataku tak tahan untuk tidak menumpahkan air mata… Sesegera itu pula aku bersujud syukur pada Allah yang telah dengan indahnya melembutkan hati keluargaku dan memudahkan urusanku dengannya…


“InsyaaLlah katanya minggu depan orang tuanya akan datang ke Smd bertemu bapak dan mama untuk membicarakan waktu pernikahannya… Sekarang focus aja dulu dengan tugas di RS dan apoteknya ya… Banyak-banyak berdoa, semoga semua dimudahkan… Oh iya, malam ini dia kami suruh menginap dulu di rumah kita… Besok habis shalat shubuh dia berangkat ke bandara di Balikpapan… katanya besok pagi jadwal tiketnya ke Medan transit Jkt… Istirahat sudah ya… Ini banyak salam dari keluarga semua… Sudah dulu ya Nak… Assalamu’alaikum…”, tambah ibuku dan terdengar suara cukup ramai di sana.

“Iya Ma… AlhamduliLlah semuanya Allah mudahkan… Terima kasih banyak ya Pa’.. Ma… Salam balik untuk semuanya… Wa’alaikumussalaam wr wb…’, jawabku dengan senyum lebar dan sedikit terisak.


Ternyata semua keluargaku belum pulang dari rumah orang tuaku saat itu… Mereka juga turut mendengarkan percakapan telepon kami… Ternyata bapak sengaja me-loud speaker teleponnya, sehingga semua yang hadir di sana termasuk si ikhwan mendengarkan percakapanku dengan bapak dan ibu… Membuatku cukup malu dibuatnya…

***


Malam itu… adalah malam terindah kedua dalam hidupku sebelum Allah mempertemukanku dengan jodoh yang sebenarnya…

Sebab, malam terindah pertama dan utama tentu saja di malam pertama setelah pernikahan… J

***


SubhanaLlah… AstaghfiruLlah… Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim…


Kembali ku-review renunganku…


Sepasang manusia baru dikatakan berjodoh setelah ijab qabul diucapkan atas mereka… Sebelum itu, tentu saja semua masih dalam ketidakpastian dalam ukuran manusia, kecuali bagi Allah…

Dalam susuran ikhtiar panjang perjalanan menemukan jodoh, ta’aruf barulah langkah kecilnya…


SubhanaLlah… Dalam perjalanan menuju saat ijab qobul, begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa membatalkan proses kami untuk dikatakan berjodoh… Sebab, ada ribuan detik dan ribuan alasan yang bisa menghentikan proses tersebut… Entah sebab faktor individu, ajal, bahkan hal-hal lain yang dalam takaran akal manusia tidak mungin, namun bagi Allah tentu saja segalanya adalah mungkin…


Maka, di sepanjang proses itu, sangat penting menjaga keikhlasan niat dan kemurnian cinta pada Allah... Bahwa segalanya kita serahkan pada Allah… Agar Allah membukakan mata hati kita untuk memutuskan segala yang terbaik bagi kita…


Sebelum ijab qabul dilantunkan atasku, dia belum tentu adalah jodoh bagiku… Tetapi, ikhtiar tentu saja harus tetap kuperjuangkan… Dan akan terus kuperjuangkan hingga penghujungnya…


“Allahurrahmaan… Jika dia benar jodohku, mudahkan proses kami menuju penyempurnaan dienMu… Namun jika dia bukan jodohku, berikan yang terbaik bagi kami…”


Maka di malam itu…

Tertutuplah pintu bagi ikhwan manapun untuk mengkhitbahku…

Sebab telah ada seorang ikhwan nan shaleh lagi pemberani yang mengikat hatiku dan keluargaku…

Hingga detik ijab qobul itu tiba…

Kupinta Allah selalu menjaganya untukku… dan menjagaku untuknya … :-) (bersambung)

Template Design by SkinCorner