Senin, 22 Desember 2008

Wanita HAMAS



Gaza - Karim El Gharably - Keberhasilan Gerakan Islam HAMAS di berbagai tingkatan memiliki sejumlah alasan; di antaranya penyebab manusianya (SDM) itu sendiri, dan yang lainnya adalah ideologi dan metodologinya. Dan berkenaan dengan manusianya, HAMAS memiliki banyak hal; di antara faktor utamanya adalah hadirnya para wanita sebagai mujahidat dan muqawimat di hadapan para penjajah Zionis, dan kehadiran mereka sebagai syahidat (syuhada) untuk membela kepentingan dan permasalahan mereka.

Para wanita HAMAS banyak memainkan peran penting dalam perkembangan gerakan ini, merekalah yang menjadi pendamping para suami, orang tua dan anak-anak serta saudara-saudara mereka untuk maju secara bertahap melakukan gerakan dan jihad, membentuk apa yang dikenal sebagai tentara “Wanita HAMAS”.

Dalam laporan ini, akan disampaikan beberapa aktivitas dan peran yang dilakukan wanita HAMAS terhadap harakah yang penuh berkah ini…


Bahwa sejak awal lahirnya gerakan HAMAS, selalu memberikan perhatian terhadap kalangan dan unsur wanita, karena mereka selalu bekerja dengan giat dan mengikuti perkembangan, sehingga terbentuklah kelompok Islam yang kuat, dan kemudian menjadi gerakan wanita Islam sebagai organisasi independen; memiliki lembaga tersendiri, media, dan melakukan seminar-seminar bersama dengan kaum laki-laki HAMAS dalam usaha mengembangkan harakah yang pada saat ini tanggal 14 Desember sedang dirayakan hari jadinya yang ke 21.


Tentunya semua pihak telah menyaksikan akan peran wanita dalam pertumbuhan dan pengembangan gerakan ini; mereka berjuang di semua lini dan bidang kehidupan; sosial, pendidikan dan bahkan pada bidang media informasi dan jihad serta politik.


Sementara itu, dalam kancah politik, wanita HAMAS menjadi anggota legislatif pertama dalam ranah politik legislatif di Palestina; setelah mereka berjuang pada bidang sosial dan pendidikan, dan mendapatkan syahadat (legitimasi) yang banyak dari masyarakat, dan melahirkan enam anggota parlemen dari gerakan ini sebagai anggota legislatif; yaitu Jamilah As-Syanthi, Maryam Farhat, Samira Al-Halayqa, Muna Mansur, Huda Naim dan Maryam Saleh; wanita yang disebut terakhir saat ini menjabat sebagai Menteri Urusan Peranan Wanita, sementara itu Maryam Farhat adalah sosok “Khansa Palestina” yang menjadi model dalam perjuangan dan pengorbanan kaum wanita di Palestina dan dunia, dan menjadi anggota legislatif setelah tiga anak-anaknya mendapat syahid, dan anak terakhir darinya tersebut diberikan wasiat untuk melakukan sebuah operasi syahid. Karena itu beliau adalah contoh dalam memberikan pengorbanan yang ikhlas untuk bumi Palestina.


Tidak berlebihan jika kami katakan bahwa kaum wanita adlaah “Tentara Wanita HAMAS”; sebagai tentara yang terstruktur dan kedisiplinan, tampak perannya secara jelas dan kuat dalam perjuangan melawan penjajah Zionis, terutama dalam mendukung gerakan untuk memenangkan pemilihan legislatif terakhir pada tahun 2006, dan pada pada waktu sama telah berhasil melakukan penyerangan di lintas perbatasan Rafah; untuk membuat opini umum dan memperoleh simpati masyarakat, sebelum kaum laki-laki datang dengan membawa bahan peledak.Partisipasi aktif

Dalam berbagai festival “Islam” HAMAS tidak seperti Fatah - baik dalam kancah perpolitikan dan pemilihan umum, di universitas-universitas, sekolah-sekolah, perkotaan dan pedesaan serta di jalan-jalan; para wanita HAMAS melakukan pekerjaan yang besar, memberikan seruan dan dukungan yang signifikan, mengangkat bendera, mengadakan halaqah-halaqah dan diskusi; di rumah-rumah dan di masjid-masjid, dan bahkan banyak dari mereka yang menjadi kepala sekolah, menjadi direktur pada suatu lembaga sosial Islam; semua itu merupakan realita yang sangat berbeda yang tidak dapat ditafsirkan secara logika oleh para pemerhati sekalipun; yang mengklaim bahwa “HAMAS adalah kelompok garis keras, militan dan eksklusif”, seperti terbukanya dan inklusifnya wanita Fatah, padahal HAMAS adalah gerakan yang selalu mendukung hak kaum perempuan dalam kesetaraan dan perannya dalam pemerintahan.


Wanita pendukung Hamas

Begitu pula Tentara wanita HAMAS memainkan perannya yang menonjol dalam berjihad dan melakukan perlawanan, bahu membahu dan berdampingan dengan kaum laki-laki; sehingga menjadi garis pertahanan kedua setelah laki-laki dari tentara Qassam, dan berada dibaris terdepan terutama pada bagian logistik dan pembantu umum dan kebutuhan pokok, maka dari itu, para wanita yang selalu mendorong anaknya dan suaminya serta saudaranya untuk melakukan jihad adalah seperti para pejuang Al-Qosami.


Tersebutlah seorang wanita yang bernama Reem Riyashi wanita HAMAS pertama yang berhasil melakukan pengeboman pada Januari 2004, sehingga menjadi sebuah kejutan, dan “Sheikh Ahmed Yasin” seorang pentolan dan pendiri HAMAS berkomentar bahwa era jihad dari kalangan wanita Palestina telah dimulai.


Selain itu pula bahwa peran wanita HAMAS lebih diperluas, dan mampu mengambil peran yang signifikan pada dimensi yang lebih dalam dan lebih inklusif, sehingga seorang analis politik Abdel Sattar Qassem, dalam konteks ini berkata: “Bahwa sesungguhnya mereka telah menyandarkan diri pada ajaran Islam, yaitu ajaran yang memotivasi untuk berpartisipasi dalam kerja-kerja umum; pendidikan, sosial dan perjuangan.”


Menurut Qasim, HAMAS adalah harakah yang memiliki “komitmen dan disiplin lebih daripada Fatah, dan paling berhasil dalam memanfaatkan seluruh sumber daya dan energinya”, beliau berdalih bahwa HAMAS adalah harakah yang memiliki ideologi yang kuat, sehingga berhasil membawa para wanitanya untuk memainkan peran penting dan sangat penting di tengah berkecamuknya perang melawan musuh eksternal dan internal.


Qasim menambahkan “Bahwa para wanita HAMAS telah mengerahkan seluruh tenaganya dua kali lipat lebih selama pemilu legislatif baru-baru ini, mereka mengadakan halaqah pendidikan dan pembinaan di masjid-masjid dan lembaga-lembaga serta yayasan-yayasan, mengorganisir kunjungan lapangan ke kota-kota, desa-desa dan kamp pengungsi.”


Qassim juga menegaskan bahwa ada 2 alasan penting atas keberhasilan wanita HAMAS: kepatuhan dan keterikatan mereka terhadap ajaran-ajaran Islam, dan kepatuhan dan keterikatan mereka terhadap ajaran Gerakan organisasi (jamaah). Beliau juga menambahkan: karena itu tidak ada bandingannya antara Fatah dan HAMAS; bahwa yang pertama hanya sebagai organisasi dan yang kedua tidak hanya demikian.


Wanita HAMAS menentang Livni
Pada saat perayaan 21 tahun berdirinya HAMAS, Perdana Menteri Ismail Haniyeh menyampaikan penolakannya atas keterangan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Zionis Tzipi Livni; yang menegaskan bahwa komponen masyarakat mengirimkan surat kepada publik Amerika, Presiden Bush dan entitas Zionis serta orang-orang yang berdiri dalam satu parit yang sama; bahwa mereka sama sekali tidak akan mendapatkan kemenangan, sambil mengarah kepada kaum wanita ” dan ucapan tersebut juga diarahkan kepada Livni yang diberikan julukan sebagai (As-Sahbah) dan Kami akan menghadapi dengan para wanita HAMAS dan warga Palestina untuk melakukan perjuangan sehingga mendapatkan kemenangan atau mati syahid di jalan-Nya. ”


Barisan Wanita Hamas dengan panji-panji Hamas

Sementara itu anggota Dewan Legislatif Huda Naim menyatakan: “Bahwasanya Sejak berdirinya harakah HAMAS pada akhir tahun tujuh puluhan, Syeikh As-Syahid Ahmed Yasin berambisi untuk menghadirkan organisasi khusus untuk wanita; karena pemahamannya terhadap peran perempuan dalam mereformasi masyarakat begitu dalam”, dan beliau menjelaskan bahwa perhatian terhadap kaum perempuan dan memberikan pandangan khusus kepadanya adalah merupakan visi strategis, dan tentunya perhatian tersebut bukanlah dadakan atau reaksi sesaat saja, namun telah direncanakan pada awal tahun tujuh puluhan yang ada di tubuh kaum perempuan; yaitu peran yang seimbang dan terpadu dalam perjuangan dan pergerakan.


Naim juga menegaskan; bahwa dalam memperingati hari jadi HAMAS yang ke 21 ini, organisasi kewanitaan HAMAS jauh lebih kuat daripada lembaga-lembaga yang ada di seluruh dunia bukan hanya di negara-negara Arab saja. dan karena itulah kembalinya perhatian dan perlindungan yang telah lalu, dan besarnya pengorbanan yang dilakukan oleh kaum perempuan ada;ah untuk menjaga prinsip-prinsip dan tsawabitnya, dan menjelaskan bahwa besarnya harakah, cepatnya perluasan dan penyebarannya menuntut darinya -pada setiap tahapannya- akan banyak perangkat, sehingga dapat bertambah kekuatannya dalam bentuk peran, dan masuknya wanita HAMAS dalam ranah politik, -dan karena itu pula para wanita mencalonkan pada pemilu-, dan tentunya permintaan tersebut menuntut adanya mimbar informasi yang mengemban risalah secara subjektif dengan penuh kekuatan dan memberikan peluang yang baik yang membutuhkan arahan dan taujihat.


Garis Pertahanan Terdepan


Dia menambahkan: “Bahwa Kaum wanita Palestina tidak hanya mencetak anaknya menjadi syahid atau memberikan dukungan kepada suaminya menjadi seorang mujahid, namun setiap pertemuan dari kalangan wanita menjadi syarat pertama, yang mana dia berkata; “Kami ingin ikut berpartisipasi dalam jihad,” dengan menegaskan bahwa peran yang dilakukan para wanita dalam memainkan perannya sangat penting dan serius, yaitu menjadi barisan pertama untuk melakukan pertahanan dalam menghadapi musuh Zionis.

Pada sisi lain, Jamilah As-Syanthi, seorang anggota parlemen dari harakah HAMAS - dalam siaran pers – menegaskan bahwa harakah ini sejak awal lahirnya telah membuka pintu lebar-lebar bagi kalangan wanita untuk menjadi bagian penting dalam harakah ini, dan dia menegaskan bahwa harakah ini tidak memberikan batasan tertentu seperti halnya partai lain atau mengekang peran serta wanita di dalamnya, namun harakah ini justru membiarkan mereka untuk terjun dan aktif dalam berbagai bidang dan lini dan dalam memberikan khidmah (pelaynan) di semua bidang. Dan beliau menambahkan: “Bahwa wanita HAMAS memiliki bagian penting dalam harakah HAMAS ini melalui musyawarah, tingkatan dan struktur yang ada di dalam harakah yang penuh berkah ini, dan pada selanjutnya kami seperti Ikhwan yang lainnya yang berada di dalam kawasan ini.”


Ia juga menyebutkan bahwa aktivitas kaum wanita ada di semua bidang ; dalam bidang pendidikan, lembaga-lembaga, dalam harakah dan organisasi (struktur). Beliau juga menegaskan bahwa kondisi Palestina memiliki ciri khusus terutama yang berhubungan dengan kondisi keamanan untuk pekerjaan perempuan. As-Syanti juga menjelaskan bahwa pada sisi sosial dan politik tidak ada kata penundaan dalam status perempuan, dengan dalih bahwa ada aspek keamanan dalam bekerja untuk wanita pada periode-periode tertentu.


Beliau juga menyebutkan bahwa kerja para wanita di dalam masjid tidak hanya mengadakan seminar mingguan dan berakhir seperti sebelumnya tanpa hasil, namun beliau menunjukkan bahwa ada agenda yang dilakukan di masjid untuk mengajarkan para murid tingkat SD, SMP dan SMA khusus bagi wanita, dengan menunjukkan bahwa masjid telah memberikan hasil yang hubungan sosial dan memiliki konsideran dengan masyarakat sekitar; pendidikan sosial, tarbawi dan program pengajaran dan hafalan Al-Quran.


Bahwa wanita HAMAS telah memasuki ruang lingkup masyarakat Palestina secara umum dan lebih luas lagi, sehingga lahir kepercayaan masyarakat, dan pada yang terakhir tersebut kaum wanita terus memobilisasi dan memotivasi anak-anak wanitanya serta keluarga para syuhada dan yang tertawan, sehingga memberikan kekuatan dan motivasi bagi pergerakan kaum wanita.


Adapun peran wanita dalam berjihad, As-Syanti berkata:


“Dalam hal jihad telah terjadi dan tidak ada masalah, betapa banyak dari para pemuda direkrut oleh brigade Qassam, sekiranya kaum wanita membuka barisan secara paralel maka jumlah pasukan (Qosamiyat) akan berlipat jumlahnya hingga tiga kali dari pasukan laki-laki,” dan ditegaskan bahwa kaum wanita dalam pergerakan wanita memiliki keberanian dan kekuatan.


Ia melanjutkan:

“Bahwa wanita merupakan baris pertahanan kedua setelah laki-laki brigade Qassam, dan pada saat terjadi invasi mereka menjadi pemasok logistik dan pembantu utama yang memberikan peran signifikan, wanita yang memotivasi anaknya dan suaminya serta saudaranya dan memperkuat azam mereka untuk berjihad merupakan contoh kongkret lahirnya sang mujahid al-qossam.”


Dijelaskan pula bahwa HAMAS sangat menghargai dan mengapresiasi peran kaum wanita, dan sebelum pemilu legislatif gerakan ini mengeluarkan pernyataan kepada publik; “Ini adalah eranya untuk kaum wanita Palestina untuk mengambil perannya yang sebenarnya, dan masyarakat hendaknya mengapresiasi dan menghargai besarnya pengorbanan dan jihad kaum wanita, mereka adalah ibu, saudara, istri dan anak perempuan, yang mampu melahirkan para pencipta (creator), pahlawan, syuhada dan generasi masa depan, dan HAMAS akan berusaha memberikan peran bagi kaum wanita di Dewan Legislatif, dan akan bersama laki-laki dalam mengelola konflik dengan musuh, sementara mereka -kaum wanita- pada sisi legislatif akan menjadi pelindung bagi urusan kaum perempuan dan hak-hak mereka, dan HAMAS akan menolak segala upaya yang memarginalisasi atau merendahkan peran kaum wanita. “


Taked from http://www.al-ikhwan.net

Keep HAMASAH !!!!!

Minggu, 23 November 2008

Sekuntum “Cinta” Pengantin Syurga



27/10/2008 | 26 Syawal 1429 H | Hits: 2.866
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
Taked from : www.dakwatuna.com


“Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,”

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.

Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.

Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha’. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.

Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.

Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.

Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…

Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.

Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak ’anugerah’ Allah yang terindah ini.

Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang ’back street’ tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.

Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa ’diikhtiarkan’ maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:

”Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.”

Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.

“Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.”

Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.

Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.

“Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan.” Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.

Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada ’Sang Pemilik Cinta’. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.

Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.

Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.

***

Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.

Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.

“Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?” Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.

Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:

Kasih…
cinta yang terindah adalah mencintaimu,
sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.
Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu
burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.

Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”

Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:

Aku berada dalam kenikmatan
dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir
berada dalam syurga abadi yang dijaga
oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa
yang akan menunggu kedatanganmu,
wahai kekasih…
“Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!” Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya

“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku!” jawab si gadis kekasihnya itu.

“Bilakah aku dapat melihatmu kembali?” Tanya si pemuda menegaskan

“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari,” Jawab kekasihnya.

***

Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.

Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.

***

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Ruum : 21).

dari Raja’ bin Umar An-Nakha’i dll.

***

Teruntuk Suamiku tercinta nun jauh di sana...
Jauh di mata, dekat di hati... (uhuk..uhuk... ;D)
Syukran lillah coz sudah menunjukkan artikel ini (n_n)
Uhibbuka fillah...

Rabu, 12 November 2008

Jangan Berhenti...



6 Ramadhan 1429 H
On Melak – Kaltim
Writed by : mujahidah farma
Edited by : mujahid071

Dunia memang tak selebar daun kelor... Masih banyak sisi kehidupan yang tidak kita ketahui... Kedewasaan berpikir pun terus tumbuh seiring perjalanan waktu, meskipun tidak semua orang mencapai titik itu… Namun menjadi tua, itu sudah tentu…

Sekali lagi teman…, dunia tak selebar daun kelor. Masih banyak sisi kehidupan yang membutuhkan seberkas perhatian kita...

Dalam perjalanan mencapai proses pendewasaan, kita memerlukan lebih dari satu problematika yang berhembus secara bersamaan... Sebab itu akan mengalunkan irama-irama yang berbeda, yang menyadarkan kita bahwa dunia ini kompleks... Bahwa sebuah karya musisi terindah tidak lahir dari satu nada atau irama... bahwa sebuah lukisan termegah bukan berasal dari satu warna semata, melainkan perpaduan beraneka ragam warna... Sungguh hidup ini akan terasa sangat hambar tanpa adanya romantika duka dan gembira...

Maka ketika hari ini kau sedang gembira, bersyukurlah...
Namun ketika hari ini kau sedang berduka, maka bersabarlah...
Ambillah mushafmu, teman... lalu bacalah... hingga kau benar-benar menitikkan air mata...
Sebab setelahnya kau akan merasakan... betapa Allah selalu ada mendengarkan keluh kesah kita dan begitu menyayangi kita...

***

Pada sebuah surah dalam Al Qur’anul karim yaitu Al Insyirah yang berarti “kelapangan”…
Terdapat pembelajaran berharga yang setidaknya bermanfaat bagi diri ini yang begitu sering terlupa…
Pembelajaran yang semoga mampu mengistiqomahkan setidaknya bagi iman ini yang kadang naik dan mungkin lebih sering menurun…
Pembelajaran yang semoga mampu menguatkan setidaknya bagi pikiran dan hati ini yang begitu sering lalai dari mengingat dan merenungi kekuasaan dan ayat-ayat Allah…

***

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan… Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan… Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
(QS Al Insyirah : 5-8)

***
Dari dua ayat pertama di atas (ayat 5 dan 6), dua kali Allah mengulang pernyataanNya… Dua kali Allah memberi penekananNya… Dua kali Allah meyakinkan kita… Bahwa “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan…”
Bahwa kemudahan akan selalu membersamai kesulitan…
Bahwa di setiap datangnya kesulitan, kemudahan selalu menunggu untuk hadir menyegerainya… Dan niscaya ini akan berlaku selamanya…
Kapan saja…
Dan bagi siapa saja… yang mengimaninya…

Mungkin… telah sering lisan kita menyebut-nyebut ayat ini…
Bahkan mungkin… pun telah bosan telinga kita mendengar penyataan ini…
Namun… sudahkah kita memaknainya sebagai bagian yang benar-benar menyatu dalam prinsip hidup kita??
Sebagai sesuatu yang benar-benar meyakinkan kita tanpa ada sedikit pun celah keraguan di dalamnya??
Ataukah hanya kita jadikan sekedar hiasan berlabel moto hidup yang mungkin sebenarnya juga tidak benar-benar kita yakini keniscayaannya??

Sebab jika seseorang sungguh-sungguh mengimani ayat Allah ini…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya begitu larut dalam kesedihan dalam waktu yang lama…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya menyerah hanya karena keberhasilan yang tertunda…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya putus asa hanya karena harapannya tak kunjung Tak akan rela ia membiarkan dirinya kecewa hanya karena orang-orang tak menghargai, bahkan menarik diri dan menjauh darinya…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya ragu dalam mengambil keputusan dan memulai langkah kecilnya…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya menjadi pesimis dan apatis akan masa depan diri dan pendapat orang-orang di sekitarnya…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya berkeluh kesah atas semua penderitaan dan kelelahannya…

***

Berlanjut dari dua ayat tersebut, kemudian Allah menyambungnya dengan ayat ke-7, yaitu “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)…”

Ayat ini membuat ana merenungi peristiwa beberapa tahun lalu... dan mungkin kisah ini berulang kembali… saat ini ataupun di masa yang akan datang…

Ketika itu, ikhwah sangat disibukkan dengan sebuah kegiatan kepanitiaan yang cukup menyita banyak waktu, tenaga, materi dan pikiran… Selama beberapa bulan, semua focus pada persiapan kegiatan tersebut…
Saking kelelahannya, seorang ikhwah mengeluarkan sebuah statement “Ah.., kayaknya ini kegiatan terakhir yang ana ikuti tahun ini, Mit… Setelah ini, ana mo cuti dulu deh… Serius… Kegiatan ini bener-bener bikin ana kelelahan…” (n”n)

Memang benar… bahwa melanjutkan perjuangan, rehat sejenak, ataukah berhenti di tengah jalan adalah sebuah pilihan…
Sekali lagi, ini adalah sebuah pilihan…

Tapi lupakah kita dengan motto hidup seorang mujahid…
Bahwa seorang mujahid selalu mengambil pilihan tersulit bagi dirinya…
Sebab itu akan menguji daya tahan dan kapasitas keimanannya…
Ana teringat dengan pesan saudari ana yang ia tuliskan di sebuah buku yang ia hadiahkan…

“Ukhti…
Terkadang waktu tidak memberikan ruang yang luas untuk terlalu banyak berpikir dan menimbang… yang pada akhirnya akan bermuara pada kebimbangan dan keraguan yang berkepanjangan…
Karena…
Kemampuan dalam menentukan pilihan itulah yang akan menentukan kualitas hidup kita…”

***


“Kami para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, untuk apa kami membai’at Anda?’ Beliau menjawab, ‘Untuk tunduk patuh dan taat dalam kedaan semangat dan malas. Berinfak dalam keadaan lapang dan sempit. Melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar , serta istiqomah di jalan Allah”
(HR Imam Ahmad dari Jabir ra)

***

Bukankah…
Bagi seorang mujahid…
Kesulitan adalah tantangan…
Kesedihan dan kelelahan adalah kenikmatan…
Dan justru harta, anak, istri, dan kekuasaan adalah ujian…

Bukankah…
Bagi seorang mujahid…
Hidup adalah perjuangan…
Yang tak kenal jeda untuk rehat lama manjakan raga…
Apalagi rasa aman dari kerikil kehidupan…

Maka…
Ketika pun segunung kesulitan telah berada di depan mata…
Ketika pun harus berjuang sendiri di pedalaman belantara atau pun jauh dari saudara seiman demi menyambung nyawa dan asa…
Ketika pun telah di ujung usia penantian namun tak kunjung bertemu belahan jiwa…
Ketika pun ujian demi ujian menunda tergapainya cita dan amanah orang tua…
Ketika pun tantangan amanah da’wah yang semakin berat seolah nyaris patahkan tulang punggungnya…
Ketika pun bertubi kegagalan telah melanda…

Tak akan mampu patahkan ghirahnya…
Tak akan mampu hentikan langkahnya…
Tak akan mampu putuskan asanya…
Tak akan mampu goyahkan imannya…
Sebab ia selalu yakin…
Bahwa kemudahan dan kelapangan selalu membersamai setiap tantangan hidupnya…
Bahwa kemudahan dan kelapangan akan selalu terbit menyegerainya…

Mungkin…
Melalui ayat ini Allah ingin kembali mengingatkan kita…
Bahwa setiap manusia, apatah lagi kita – seorang muslim – yang memang harus mengimaniNya…<>
Melalui ayat ini Allah ingin kembali mengingatkan kita…
Bahwa setiap manusia, apatah lagi kita – seorang muslim – yang memang harus benar-benar mengimaniNya…
Jangan pernah takut untuk mulai melangkah…
Sebab jarak jutaan mil tak akan mampu kita tempuh tanpa keberanian kita memulai langkah awalnya…

Melalui ayat ini Allah ingin kembali mengingatkan kita…
Bahwa setiap manusia, apatah lagi kita – seorang muslim – yang memang harus benar-benar mengimaniNya…
Jangan pernah berhenti untuk berjuang… hingga lelah itu benar-benar lelah mengikuti perjuangan kita…

***

Dan kita - umat Islam - tidak perlu lagi memilih...
Dan memang tidak punya otoritas untuk memilih...
Karena cukuplah Islam yang hanif ini sebagai pedoman...
Keep HAMASAH !!!

Kamis, 30 Oktober 2008

Pertarungan Sepanjang Masa



“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”
(Al Baqarah : 251)


Pertarungan antara al-haq dan al-bathil akan selalu ada... Ini telah menjadi sunnatullah... Pertarungan ini adalah pertarungan sepanjang masa… Maka tidak ada dalam kamus generasi pengemban risalah Qur’an untuk berleha-leha, kehilangan ruh haroki, berhenti belajar dan stagnant dalam mengasah kemampuan strategi... Sekali lagi, sebab pertarungan ini adalah pertarungan sepanjang masa, Saudaraku...

Namun, pun telah menjadi sunnatullah bahwa selalu ada pencegahan Allah atas keganasan seseorang terhadap orang lainnya... Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah di atas... Inilah yang disebutkan oleh para ulama sebagai ”pertarungan untuk eksis”. Ini bukan semata untuk hal yang bersifat perang, namun juga mencakup seluruh pertarungan untuk mempertahankan eksistensi dan kemenangan...

Ayat tersebut merupakan rangkaian dari kisah penuh hikmah yaitu kisah Thalut bersama Bani Israil dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 246-252. Ayat ini menyebutkan adanya pertarungan antara kebenaran (al haq) dan kebatilan, yang terepresentasikan pada Thalut dan pasukannya dengan Jalut dan pengikutnya. Kemudian Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firmannya “Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” Ini menunjukkan bahwa pencegahan kejahatan dengan cara ini merupakan nikmat yang Allah tawarkan dan curahkan kepada seluruh manusia...

Inilah yang harus disadari... Bahwa disinilah letak rahasianya... Inilah yang harus dikelola... Bahwa usaha para pemuja kebatilan untuk mengalahkan kebenaran dan keadilan itu akan selalu ada... Dan usaha mereka akan semakin tampak dari masa ke masa seiring semakin eksisnya para pejuang keadilan... Sebab kehidupan ini adalah pertarungan untuk eksis... Namun pencegahan dan pertolongan dari Allah pun akan selalu ada...

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul Fikih Kemenangan dan Kejayaan mengatakan,

“Adalah sebuah kewajiban mendesak bagi umat Islam untuk menyadari sepenuhnya sunnah-sunnah Allah akan adanya penolakan keganasan sebuah kaum atas kaum yang lain, agar dia mengerti bahwa sunnah Allah untuk menghancurkan kebatilan adalah dengan meng-eksis-kan kebenaran, yang direpresentasikan oleh sebuah umat... Sehingga kemudian Allah menghancurkan kebatilan dengan kebenaran, dan binasalah kebatilan itu...”

Ini berarti kebatilan hanya akan bisa dibinasakan bila kebenaran itu eksis... Dimana ia direpresentasikan oleh sebuah umat... Artinya para pejuang itu harus bersatu dalam tubuh umat... menjadi pejuang umat... untuk kemudian menyatukan kekuatan dan mengorganisasi kekuatan itu agar kebenaran pun tidak sekedar eksis namun juga legal... Sebab sesuai fiqih realitas hari ini bahwa legalitaslah kunci kemenangannya... Maka benarlah kata ustadz Anis Matta... bahwa ”kekuasaan itu harus direbut...” Sebab kekuasaan adalah bapak kandung dari legalitas... Ya... ekstrim memang... Tetapi begitulah bahasa dalam medan laga pertarungan...


***


Dalam fi Zhilalil Qur’an disebutkan bahwa :


Kemenangan sangat berkaitan erat dengan sunnah saling mempertahankan... Allah Mahatahu bahwa kejahatan itu senantiasa akan menyerang dan dia tidak akan bisa berlaku fair... Dia tidak akan pernah membiarkan kebaikan itu tumbuh dan berkembang, walaupun kebenaran itu menempuh jalan yang lapang dan lurus... Sebab tumbuh dan berkembangnya kebaikan akan menjadi ancaman bagi kejahatan, dan wujud yang haq akan menjadi ancaman bagi kebatilan... Kejahatan akan senantiasa menampakkan permusuhan, dan kebatilan akan membela dirinya dengan cara membunuh kebenaran dan mencekiknya dengan kekuatan... Dari sinilah akan senantiasa terjadi pertarungan sengit antara kebenaran dan ahlinya dengan kebatilan dan ahlinya... Inilah sunnah Allah dan engkau tidak akan dapatkan perubahan pada sunnah Allah...

***

Memahami, menganalisa, dan mempelajari sunnah-sunnah Allah dengan sungguh-sungguh adalah sangat penting bagi para pejuang da’wah dan umat... bahkan ulama mewajibkannya... agar kita bisa mengambil manfaat dan jangan sampai berbenturan dengannya...

“Janganlah Anda berbenturan dengan sunnah-sunnah alam, karena sesungguhnya dia pasti MENANG. Namun TAKLUKKAN-lah dia dan gunakanlah dia, UBAH ARUS-nya, dan mintalah bantuan dengan mempergunakan sebagian lainnya”
(Imam Syahid Syaikh Hasan al-Banna)

Jadi, KEMENANGAN itu hanya bisa dikelola oleh jiwa-jiwa PENAKLUK... Sebab seorang penakluk memiliki 1001 alasan untuk menang... Sebab ia memiliki ketajaman analisa dalam setiap detil yang dipelajarinya... Dan ketajaman analisa itu hanya bisa lahir dari kebersihan hati dan intensitas yang cukup dalam interaksi dengan Zat yang Maha Memberi... Semoga kau salah satu dari para penakluk itu, Saudaraku...

***

Sungguh... pelajaran apa yang tidak kita dapati di Al Qur’an?? Peta dan pedoman menjalani kehidupan ini telah ada di dalamnya... Semakin kita mempelajarinya, semakin jelaslah arah dan strategi mengelola kehidupan... Semakin kita mendalaminya, maka semakin kagumlah kita akan kebesaran Allah...

Al Qur’an demikian peduli untuk mengajarkan pada kaum muslimin apa yang menjadi urusan penting baik urusan dunia maupun urusan akhirat... Al Qur’an menjelaskan dengan sangat jelas sunnah-sunnah Allah... Al Qur’an menjelaskan bagaimana sunnah-sunnah itu terjadi...dan sebab-sebab yang mengharuskannya... Maka masihkah kita ragu dan kehilangan kepercayaan diri atas kebenaran dan kemuliaan risalah ini dibandingkan analisa-analisa manusia yang tak berdasar dan serba nisbi itu???

***

Dari kajian beberapa ayat dalam surat Al Baqarah yaitu ayat 246-252 tentang kisah Thalut saja begitu banyak kita dapati pelajaran berharga... Setelah kita baca dan analisa kandungannya... InsyaAllah akan kita dapati pelajaran yang luar biasa...

Sayyid Quthb dengan sangat indah telah memaparkan hakikat-hakikat kisah tersebut dengan mengatakan :

”Pelajaran yang menyeluruh tampak pada keseluruhan kisah... Yakni bahwa intifadhah ini – intifadhah akidah – walaupun demikian banyak hambatan di depan pengalaman yang terjadi berupa kekurangan dan kelemahan dan adanya orang-orang yang mundur secara beruntun dan berbondong-bondong dalam perjalanannya, namun demikian keteguhan segelintir orang mukmin telah melahirkan hasil yang besar... Karena di dalamnya telah ada harga diri, kehormatan, dan kemenangan setelah mereka mengalami kekalahan yang menyedihkan, kehinaan yang memalukan, pengusiran yang demikian panjang, dan kehinaan di bawah para manusia biadab...”
***

Dari kisah Thalut tersebut tampak beberapa pelajaran yang mahal bagi setiap kaum muslimin di setiap zaman, mari kita cermati bersama :


Pelajaran kedua, bahwa sesungguhnya pengujian atas semangat yang bersifat luaran dan semangat yang menyala-nyala dalam jiwa sebuah kelompok, jangan dinilai pada awalnya saja...

Sebagaimana dalam ayat tersebut digambarkan bahwa sebenarnya jumlah kaum Bani Israil ketika itu banyak, namun ketika diwajibkan perang atas mereka, mereka berpaling... Hingga tidak tersisa dari mereka kecuali sejumlah kecil orang yang tetap berpegang teguh dengan janji terhadap Nabinya... Merekalah pasukan yang berangkat bersama-sama dengan Thalut...

Kemudian dalam perjalanannya, kebanyakan dari tentara itu berjatuhan pada fase awal dan mereka menjadi lemah pada ujian pertama... Mereka minum dari air sungai... hingga hanya sedikit di antara tentara itu yang mampu menyeberangi sungai itu...

Dari yang sedikit ini pun ternyata tidak semua tegar sampai akhir... Ketika mereka menghadapi sebuah guncangan yang hebat, berupa jumlah musuh yang banyak, maka semangat dan tekad mereka mengendur... dan hati mereka berguncang hebat karena takut...

Namun di tengah konspirasi dahsyat ini, ada beberapa orang yang tetap kokoh dan tetap berpegang teguh kepada Allah dan senantiasa yakin dengan panji-Nya... Kelompok inilah yang kemudian mampu memenangkan perang dan berhak mendapatkan kejayaan dan kemuliaan...

Dari sini kita dapatkan bahwa proses screening terhadap Bani Israil itu selesai melalui tiga lapisan... Dan inti dari inti semua itu adalah bahwa mereka adalah ORANG-ORANG YANG JUJUR KEPADA ALLAH DALAM BERJUANG... dan Allah pun memenuhi janji-Nya, kemudian Allah turunkan pertolongan-Nya kepada mereka...

Pelajaran ketiga, yaitu pelajaran tentang pemimpin yang shaleh, penuh vitalitas, dan beriman yang kesemuanya itu terlihat pada diri Thalut, antara lain :
  • Pengalaman yang cukup tentang bagaimana mengenal jiwa manusia
  • Ketidaktertipuannya dengan semangat luaran kelompoknya
  • Dia tidak mencukupkan diri dengan pengujian pertama
  • Usahanya dalam menguji ketaatan dan tekad kuat yang ada pada tentaranya sebelum perang
  • Tindakannya memisahkan orang-orang yang lemah dan meninggalkan mereka di belakang
  • Sikapnya yang tidak pernah melemah pada saat tentaranya melemah setelah menjalani pengalaman demi pengalaman dan ujian demi ujian sehingga pada akhirnya tidak tersisa dari tentaranya kecuali kelompok terpilih...dan dia terjun ke medan laga bersama mereka...

Pelajaran terakhir, bahwa hati yang senantiasa mendekat kepada Allah, berubah-ubah standar dan persepsinya sesuai tuntutan keadaan... Namun hati yang senantiasa berinteraksi dengan Allah akan mampu melihat setiap realitas yang ada secara proporsional...

Melalui kisah tersebut tampak bahwa kelompok kecil yang beriman itu tetap kokoh dan teguh di medan perang dan berhasil mendapatkan kemenangan dan pertolongan... Meskipun melihat jumlah mereka yang sedikit dan jumlah musuh mereka yaitu Jalut dan tentaranya demikian banyak, namun mereka tidak sedikit pun gentar terhadap kondisi itu... Mereka justru memberlakukan hukum lain dan berkata,

”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit mampu mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kemudian mereka menghadap Tuhannya dengan berdoa,

”Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas kami dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”

Kelompok ini merasa bahwa neraca kekuatan bukan berada di tangan orang-orang kafir... melainkan kekuatan itu hanya ada di sisi Allah... Maka mereka pun meminta pertolongan kepada-Nya... dan mereka pun mendapatkannya dari tangan yang memiliki dan memberi...

Begitulah kebenarannya... bahwa ketika iman yang benar telah melekat di dalam kalbu... maka persepsi dan standar nilai terhadap sesuatu akan berubah bagi orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan Allah... Subhanallah...

***

Dari ayat-ayat ini juga dikisahkan tentang Nabi Daud... Ia adalah seorang pejuang yang masih begitu muda belia, yang berasal dari tengah-tengah tentara mujahid... Dan dari medan peranglah dia kemudian memulai karir hidupnya... yang kemudian dia bergerak di lini kepemimpinan, hikmah, dan tanggung jawab...

Dari sini kita menangkap sebuah isyarat bahwa kerja nyata dan berkreasi di lapangan-lah yang dapat menghasilkan pemimpin... dan keberhasilan menghadapi pengujian di medan-lah yang akan menyingkap bakat-bakat...
Dua pemimpin yaitu Thalut dan Daud muncul di tengah-tengah manusia, dihadirkan oleh keberhasilannya di medan (lapangan), bekerja secara nyata (berkreasi), dan keberpihakan realitas... Inilah jalan para pemimpin, yang berhasil memimpin umat menuju jalan kemenangan dan keteguhan...

***

”Pandangan yang penuh seksama terhadap Al Qur’an akan mampu memperlihatkan bahwa orang-orang yang berusaha untuk menerapkan syariat Rabbul Alamin memiliki ujian-ujian yang besar... dan senantiasa mendapatkan cobaan keimanan dalam setiap fase hidupnya... Dan hal ini akan mewariskan pada setiap generasi umat warisan-warisan para Nabi dan Rasul mengenai cara pandang mereka kepada Dzat Yang Mahatunggal, juga dalam cara pandang mereka terhadap kehidupan, alam semesta, hakikat manusia, dan metode reformasi yang mereka selami di dalam kehidupan ini...”

(DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi)

***

Dan pertarungan al-haq dan al-bathil itu belum usai, Saudaraku...
Kemenangan hari ini dan esok adalah milik kita...
Siapa pun dirimu... Apapun warnamu...
Panji Islam ’kan tetap memayungi kita...
Tak ’kan ada yang tersakiti... Tak ’kan ada yang terdzolimi...
Bebanmu adalah amanah kami...
Sebab kau bagian dari ummat ini...
Maka jangan lunturkan keyakinanmu...
Bahwa HARAPAN itu masih ada...
Semoga Allah senantiasa memayungi kita dengan keadilan-Nya...
Demi kesejahteraan kita bersama...

***

Wahai umat Islam bersatulah...
Rapatkan barisan... Jalin ukhuwah...
Luruskan niat... Satukan langkah...
Kita sambut KEMENANGAN...

Dengan bekal iman... Maju ke hadapan...
Al Qur’an dan sunnah jadi panduan...
Sucikan diri... Ikhlaskan hati...
Menggapai ridho Ilahi...

Dengan persatuan... Galang kekuatan...
Panji Islam kan menjulang...
Tegak kebenaran... Hancur kebatilan...
Gemakan takbir...

ALLAHU AKBAR!!!
(Nasyid ”Senandung Persatuan” oleh Izzatul Islam)

Membangun (miniatur) Peradaban...



Dulu… Ana merasa begitu malu, tersinggung, dan seolah tertampar-tampar ketika berbicara ataupun mendengarkan materi tentang membangun peradaban... Ya... peradaban... tepatnya membangun peradaban Islam... Sebab membangun peradaban itu butuh tahapan-tahapan...

Ana berpikir... bagaimana mungkin akan menuju ke tangga membangun peradaban... jika hingga di umur ana yang ke-23, ana masih juga berada di tahap pertama... tak kunjung berpindah ke tahap ke-2 yang katanya cukup berat... yaitu tahap membangun keluarga muslim...

Alhamdulillah... setelah sekian lama... rupanya Allah ingin menguji kesiapan dan kesabaran ana... hingga pada saat yang tepat, Allah menjawab doa ana selama ini... dengan mengirimkan seorang Mujahid yang selama ini telah Allah tempa dan siap menjemput ana untuk berjuang bersama...

Subhanallah... Allahu akbar... Rupanya dialah mujahid itu... ^_^

Hmmm... betapa beruntungnya ana...

***

>Kata seorang ustadz, kehidupan ini harus dimaknai sebagai sebuah pertempuran... Setiap momentum adalah pertempuran...

Pemaknaan tersebut akan membuat kita semakin terpacu untuk selalu siap siaga, pantang menyerah dan terus berjuang... Sebab hanya para pejuanglah yang memenangkan setiap pertempuran... Meskipun kemenangan itu tak selalu berupa kemenangan fisik dan sifatnya visible (tampak)...

Apa dan bagaimana pun kondisinya, seorang kader da’wah harus siap mengemban amanah yang tersulit sekalipun... Apalagi ketika ia telah menikah... Sebab kekuatan yang dimikinya semakin bertambah besar akibat penyatuan dua kekuatan besar... Bukankah menikah adalah bagian dari da’wah.... Maka sudah seharusnya pernikahan itu memperkuat da’wah... bukan justru melemahkan da’wah...

Pernikahan bukanlah akhir sebuah tujuan... melainkan awal dari sebuah perjuangan yang lebih besar...yang membutuhkan pengorbanan dan kontribusi yang lebih besar... yaitu perjuangan membangun peradaban Islam...

***

Berikut adalah sebuah kisah yang cukup menginspirasi ana tentang perjuangan seorang sahabiyah yang menikah dalam kondisi peperangan... Sosok yang tepat untuk dijadikan qudwah bagi para mujahidah... Kisah Ummu Hakim r.ha. dan pertempuran...

Ummu Hakim binti Harits r.ha. adalah istri Ikrimah bin Abu Jahal. Ketika perang Uhud berlangsung, ia ikut serta dalam peperangan tersebut dan berada di pihak orang kafir. Ia masuk Islam ketika peristiwa Fathu Makkah Mukarramah. Ia sangat mencintai suaminya, tetapi suaminya sangat terpengaruh oleh ayahnya sehingga ia enggan masuk Islam dan lari ke Yaman. Kemudian Ummu Hakim r.ha. meminta perlindungan bagi suaminya kepada Rasulullah saw, dan ia sendiri pergi ke Yaman. Dengan susah payah ia membujuk suaminya agar mau masuk Islam. Ia berkata, ”Saya menjaminmu bahwa engkau akan selamat dari pedang Rasulullah saw. Saya telah meminta perlindungan dari Rasulullah saw. Ikutlah ke Madinah bersama saya.” Akhirnya ia pun kembali ke Madinah dan masuk Islam, dan hidup sebagai suami istri dengan senang.

Pada masa Khalifah Abu bakar ra., ketika kaum muslimin bertempur melawan Romawi, Ikrimah ra mati syahid. Kemudian Ummu Hakim menikah dengan Khalid bin Sa’id ra. Pada hari perkawinannya, di suatu tempat bernama Marjul Shafar, suaminya ingin beristirahat dengannya. Ummu Hakim menjawab, ”Kita sekarang sedang diserang oleh musuh, sebaiknya kita menghabisi mereka terlebih dahulu.”

Jawab suaminya, ”Saya meyakini kesyahidan saya dalam pertempuran ini.” Istrinya terdiam, dan akhirnya mereka beristirahat di sebuah kemah. Keesokan harinya ketika sedang berlangsung walimah, tentara Romawi datang menyerang. Suaminya segera terjun ke dalam pertempuran itu sampai ke Ghamsan, dan akhirnya ia mati syahid.

Ummu hakim r.ha. menggulung kemahnya. Di tempat itulah tadi malam ia bersama suaminya. Ia mengumpulkan semua barang-barangnya, kemudian mengambil sebuah patok kemah, dan maju ke medan pertempuran. Akhirnya ia berhasil membunuh tujuh orang musuh dengan tangannya sendiri. Allahu Akbar !!!

***

Pada zaman sekarang, adakah wanita ataupun laki-laki yang siap untuk menikah dalam keadaan pertempuran semacam itu?? Seandainya pun ada wanita yang sedang menikmati pernikahan kemudian suaminya mendadak mati syahid, mungkin ia akan menangis dan berkabung entah berapa hari lamanya... Namun shabiyah bernama Ummu Hakim r.ha. ini justru ia sendirilah yang menggantikan untuk maju bertempur hingga berhasil membunuh tujuh orang musuh dengan tangannya...

Wallahu a’lam...

***

Mujahidku...
Genggam tanganku dan kuatkan kesabaranmu...
Sungguh...
Adakah ikatan yang lebih indah dari ikatan pernikahan...
Yang dengannya kita mampu menembus arasyNya...
Yang dengannya kita satukan kekuatan...
Menapaki jalan da’wah yang semakin berat...
Bahu-membahu membangun miniatur peradaban Islam...

Maka katakanlah pada musuh-musuh Islam...
Waspadalah kalian...
Sebab satu lagi bangunan keluarga MUSLIM telah dibangun...
Dan esok akan menyusul ribuan bangunan kokoh lainnya...
Menjemput janji Allah...
Menjadikan Islam sebagai guru peradaban dunia...
Semoga Allah memberkahi…
Semoga Allah meridhoi…

***

Special for my lovely husband…
Even u’re so far from me…
Thanks for ur support…

Keep smile…
Keep fight…
‘n keep HAMASAH, my mojaheed!!!
Ana uhibbukafillah… ^_^

Ayo Muslimah..., BERSIAP SIAGALAH !!!



Rapatkanlah langkah ini jalan ilahi…
Jangan ragu lagi janji syurganya pasti…
Kobarkanlah api peperangan suci…
Yakin kemenangan janjikan bidadari…

Bangkitlah segera wahai pemuda…
Jangan terlalaikan oleh buai dunia…
Disana ada negeri Islam terluka…
adarkan jiwamu untuk membela…
Siapkan diri rangkul senjata…
Panjatkan doamu ‘tuk citakan syurga…
Pekikkan takbir sampai napas terakhir…
Kejayaan di tangan kita!!!
(Citra Pemuda – Shoutul Harakah)

***

Akhir-akhir ini di rapat sebuah wajihah, selalu dibahas tentang amanah ana di sebuah struktur… Pasalnya, karena ana telah berada di jajaran “artis” wajihah tersebut…

Bahasa halusnya, mereka meminta ana untuk mengurangi bahkan tidak usah terlibat lagi di amanah-amanah yang berhubungan dengan pengamanan dan segala proses ke-SIAP SIAGA-annya…

Enak saja melarang ana !!!

Maaf…
kalau amanah yang satu itu… sangat tidak bisa ana tinggalkan, Teman…

Kecuali memang sedang ditempatkan di posisi lain oleh struktur tersebut…
Inilah bentuk ikhtiar SIAP SIAGA kami…

Bagi kami, amanah itu sudah menjadi ruh perjuangan kami…
Bagi kami, amanah itu adalah amanah seumur hidup kami…
Bagi kami, amanah itu adalah penguat di jalan ini…

***

Rasa sensitive itu muncul lagi…

Entah mengapa, ana kerap merasa begitu geram ketika ada ikhwan maupun akhwat yang meremehkan kerja-kerja “pengamanan”…

Banyak orang tidak tahu bahkan mungkin tidak ingin tahu bagaimana beratnya dan seberapa pentingnya tim pengamanan… yang mungkin tak se-elite pekerjaan lainnya…

Namun ternyata rasa itu bukan hanya ana yang memilikinya… Sensitivitas itu juga muncul pada beberapa akhwat yang sempat ana ajak sharing… Dan setelah kami pikir, mungkin kesamaan rasa itu muncul karena kami sama-sama akhwat Santika… (mungkin……)

Kesimpulan kami adalah “Ternyata hanya orang-orang pengamanan yang mengerti ruh dan urgensi pengamanan itu!”

***

Kalau saja ana disuruh memilih dalam sebuah kepanitiaan, apakah ingin menjadi anggota divisi acara ataukah divisi pengamanan, maka dengan senang hati ana akan lebih memilih untuk berada di divisi pengamanan!!!

Jujur saja, orang-orang pengamanan memiliki nilai “plus” di mata ana…
Entahlah…
Sejak dulu…
Ana selalu salut dengan kerja-kerja ikhlas mereka…

***

Dalam berbagai kepanitiaan, seksi keamanan hanya dianggap sebagai pelengkap… atau lebih sering difungsikan sebagai pembantu umum… Bahkan tidak jarang beralih fungsi menjadi tukang angkat-angkat barang, tukang panjat dinding atau pohon (memangnya spiderman??), atau kadang jadi tukang parkir… (n”n).

Sebenarnya bagi mereka itu mungkin tidak masalah…
Bahkan, yakinlah… mereka tidak akan mengeluh dengan kerja-kerja tersebut…
Sebab selain menjadi tambahan skill, juga memberikan begitu banyak nilai-nilai tarbiyah bagi mereka…

Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya nilai keikhlasan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya nilai kesabaran…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya rasa pengorbanan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kejujuran…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya ketaatan pada pimpinan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya ketajaman analisa…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kegesitan dalam bertindak…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya daya tahan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya menjaga kerahasiaan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kemampuan mengelola kekuatan…

Ketika pun mereka ditempatkan di sebuah sudut ruangan yang mungkin tak seorang pun menghiraukan keberadaan mereka…
Ketika pun mereka berdiri seharian penuh kecuali saat seruan shalat memanggil…
Ketika pun mereka bercucuran keringat dan warna kulit semakin gelap…
Ketika pun terkadang harus menghadapi protes, keluhan, bahkan cibiran orang-orang yang diamankan…
Ketika pun terkadang harus mendapat iqob yang cukup berat bagi sebagian orang…
Ketika pun…
Ah… mereka lebih tahu…
Namun tetap saja mereka berusaha untuk ikhlas…

***

Tentang amanah yang satu ini, sekali lagi ana mohon afwan…, ana tidak bisa melepaskannya…
Tidak perlu khawatir secara berlebihan, Teman…
Orang-orang pengamanan yang juga telah menjadi artis-artis di wajihah antum adalah orang-orang yang cukup cerdas…
InsyaAllah mereka mampu berperan secara proporsional…
Asalkan jangan menyuruh mereka untuk melepaskan “ruh” pengamanannya…
Sebab boleh jadi justru dunia “ke-artis-an” di wajihah antum yang akan mereka lepaskan… ^_^

***

Dalam film kartun yang berjudul “Avatar” dengan pemeran utama bernama Eng, ada sebuah kisah menarik. Suatu ketika Eng dan para sahabatnya Katara dan Saka tiba di sebuah desa yang terdapat banyak ksatria wanita. Awalnya, Saka sangat meremehkan satu ketangguhan gadis-gadis tersebut. Namun belakangan setelah Saka berhasil dikalahkan oleh satu diantara gadis itu, perlakuan Saka berubah dengan memperlakukan gadis tersebut seperti layaknya ksatria pria…

Sebenarnya gadis tersebut juga tidak begitu suka atas perubahan sikap Saka tersebut… hingga suatu ketika Saka meminta maaf pada gadis tersebut atas sikapnya yang memperlakukan gadis ksatria tersebut sama halnya terhadap ksatria pria…
Yang membuat ana terkesan adalah jawaban gadis tersebut… Ia mengatakan,
“Kau tak perlu meminta maaf… Sebab aku memang ksatria… Tapi aku juga wanita…” ^_^

***

Sebenarnya sejak lama ana bermimpi…
Kalau saja semua akhwat mengetahui dan menyadari konsep SIAP SIAGA…
Pastilah semua akhwat akan menjadi anggota regu Santika seperti kami…
Kalau saja…

Betapa inginnya ana agar smua akhwat merasakan ruh seperti yang kami rasakan…
Hingga tak ada lagi akhwat yang terlalu lemah, manja dan begitu mudah putus asa…

Sebab para sahabiyah pun adalah muslimah-muslimah tangguh…
Tak satu pun meragukan kafa’ah ke-Islaman mereka…
Namun mereka juga tak diragukan lagi ke-paham-annya akan konsep SIAP SIAGA…
Bahkan Aisyah-istri Rasulullah-yang katanya manja pun…
Bukan hanya seorang muslimah yang parasnya indah…
Bukan hanya seorang muslimah yang cerdas …
Melainkan juga seorang orator dan muslimah yang tangguh…

***

Bukankah al-fahm tentang SIAP SIAGA harusnya terinternalisasi pada semua kader dakwah… Terlepas ia ikhwan atau pun akhwat… Di posisi mana pun ia ditempatkan… Apakan di posisi sebagai seorang anggota dewan, seorang negosiator, seorang yang selalu berada di depan computer, bahkan seorang ibu rumah tangga tulen sekali pun…

Bukankah SIAP SIAGA harusnya diterjemahkan ke dalam semua lini kehidupan kita…
Baik menyangkut SIAP SIAGA dalam hal “perencanaan” dan “manajerial” untuk sebuah tujuan besar, maupun SIAP SIAGA dalam hal penjagaan potensi jasadiyah untuk tugas-tugas besar lainnya…
Yang semua hal tersebut harus diterapkan secara bersamaan, seimbang dan kontinyu…

***

Ana teringat dengan kata-kata seorang akhwat…
Katanya, “Muslimah itu harus bisa mandiri!!!”
Ya…, ana sepakat.

Mungkin hari ini para muslimah masih bisa tenang-tenang saja tanpa ada usaha berarti dalam hal self-defense misalnya… Sebab tuntutan dakwah kita hari ini mungkin belum seberat saudara-saudara kita di negeri Islam lainnya…

Namun bagaimana jika ternyata esok kita telah memasuki mihwar dakwah yang lebih tinggi, dimana para suami harus diamahkan untuk tugas dakwah yang semakin berat yang mengharuskan mereka tak berada di rumah… Dan usaha-usaha musuh-musuh Islam semakin nyata untuk menghancurkan dakwah ini, yang mungkin bukan hanya dengan tekanan psikologis melainkan juga tidak segan-segan lagi menggunakan tekanan fisik di rumah-rumah muslim, sedang yang ada di rumah-rumah tersebut hanyalah para muslimah…

Lantas apakah kita harus menunggu sampai bencana itu tiba di hadapan kita baru kemudian para muslimah tersadar???
Sebab itulah SIAP SIAGA menjadi sebuah keharusan…
Sebagai muslimah yang cerdas, SIAP SIAGA bukan berarti meninggalkan tugas-tugas asasi mereka…
Melainkan sebuah proses persiapan yang tentunya dilakukan secara tawazun…

Dalam konteks kekinian, dimana kita bersiap-siap untuk berpindah mihwar, kerja-kerja besar semakin menanti…
Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi???
Kalau bukan sekarang, kapan lagi???
Ayo Muslimah… Ber-SIAP SIAGA-lah !!!

Wahai mujahid…
Ayo bangkitlah…
Maju serentak…
Gagah perkasa…
Kumandangkan suara kebenaran…
Tegakkan keadilan…
(Wahai Mujahid – Shoutul Harakah)

***
Bangkitlah… Mujahid bangkitlah…
Rapatkan… barisan rapatkan…
Ayunkanlah langkah perjuangan..
Mati syahid atau hidup mulia…

Siapkan… dirimu siapkan…
Gentarkan musuhmu gentarkan…
Tak kan pernah usai pertarungan…
Hingga ajal kan menjelang…
Enyahkan rasa takut dan gentar…
Walau raga kan meregang nyawa…
Karna Allah tlah janjikan syurga…
Untukmu mujahid setia…
(Mars Kepanduan – Shoutul HArakah)

... Keluarga Muslim


Salah seorang jundi ana (gak mau disebutkan namanya...) protes pada ana...
Katanya, "Kak, kok di blog-nya gak ada lagi tulisan tentang 'pembentukan keluarga muslim'...??? Yang ada tentang 'pembentukan pribadi muslim' melulu..."
Ana jawab dengan nyengir (padahal dalam hati... :p)... eh.. dia balas dengan cemberut... ^_^
Mau tak mau ana janji untuk memuat tulisan tentang 'keluarga muslim'...
But afwan ya, De'... Komputer kakak lagi rusak... Apalagi di bulan Januari 'tiada hari tanpa ujian profesi'... and lagi siap-siap PKL awal Februari... Jadi untuk sementara off dulu nulis-nulisnya... ^_^
But don't be sad... Ni kakak masukkan tulisannya Mochamad Bugi dari Dakwatuna,OK!
Semoga gak cemberut lagi ^_^ (hati-hati cepat tua lho... Ntar kalah imut lagi ma kakak :p)

Ok, ttp ZMANGAT!!!

***

Seperti apakah bentuk keluarga kita? Maklum, ada yang mengatakan rumahku surgaku. Tapi, tak sedikit mengatakan rumah gue kayak neraka. Atau, hambar saja. Tak ada rasa bahwa kita punya keluarga.


Apa pun bentuk keluarga kita itu adalah hasil dari perpaduan tiga faktor pembentuknya. Ketiga faktor itu adalah paradigma yang kita miliki tentang keluarga, kompetensi seluruh anggota keluarga kita dalam membangun keluarga, dan macam apa aktivitas yang ada dalam keluarga kita.


Kalau dalam paradigma kita bahwa keluarga bahagia adalah yang bergelimangan harta, maka motivasi kita dalam berkeluarga adalah mengkapitasisasi kekayaan. Maka, kita akan mencari istri atau suami anak tunggal dari calon mertua yang kaya. Pusat perhatian kita dalam berkeluarga adalah menambah kekayaan.


Bagi paradigma berkeluarga seorang muslim berasal dari motivasi bahwa berkeluarga adalah untuk beribadah kepada Allah, menjaga kesucian diri, dan merealisasikan amal bahwa berkeluarga adalah bagian dari sebuah gerakan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Sehingga, pusat perhatiannya dalam berkeluarga adalah meningkatkan kualitas ruhiyah, fikriyah, nafsiyah (emosi kejiwaan), jasadiyah, dan sosialisasi setiap anggota keluarganya.


Karena itu, membangun keluarga sakinah mawadah wa rahmah (samara) adalah sasaran yang ingin dicapai seorang muslim dalam membentuk berkeluarga. Dalam keluarga yang samara itulah kita akan melahirkan pribadi islami untuk saat ini dan masa depan.


Jadi, sangat penting bagi seorang muslim membangun kompetensi untuk membangun keluarga. Apa itu kompetensi berkeluarga? Kompetensi berumah tangga adalah segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang harus dimiliki agar seseorang dapat berhasil membangun rumah tangga yang kokoh yang menjadi basis penegakkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Maka tak heran jika Rasulullah saw. menyuruh kita untuk pandai-pandai memilih pasangan hidup. Jangan asal pilih.


Abi Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda,


“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Berbahagialah orang yang menikahi wanita karena agamanya, dan merugilah orang yang menikahi wanita hanya karena harta, kecantikan, dan keturunannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Abdillah bin Amrin r.a. berkata, bahwa Rasu­lullah saw. telah bersabda,


“Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena kecantikannya, sebab kecantikan itu pada saatnya akan hilang. Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena hartanya, sebab harta boleh jadi membuatnya congkak. Tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab seorang wanita budak yang jelek lagi hitam kelam yang memiliki agama (kuat dalam beragama) adalah lebih baik daripada wanita merdeka yang cantik lagi kaya, tetapi tidak beragama.”

(HR. Ibnu Majah).


Ibnu Abbas r.a. berkata, bahwa Nabi saw. telah bersabda,


“Empat perkara, barangsiapa memilikinya berarti dia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat: hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, badan yang sabar dikala mendapat musibah, dan istri yang dapat menjaga kehormatan diri serta dapat menjaga harta suami.”

(HR. Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Ausath, sedang sanad dalam salah satu dan dua riwayat adalah bagus).


Keshalihan diri kita dan pasangan hidup kita adalah modal dasar membentuk keluarga samara. Seperti apakah keluarga samara? Yaitu keluarga dengan karakteristik sebagai berikut:

  • Keluarga yang dibangun oleh pasangan suami-istri yang shalih.
  • Keluarga yang anggotanya punya kesadaran untuk menjaga prinsip dan norma Islam.
  • Keluarga yang mendorong seluruh anggotanya untuk mengikuti fikrah islami.
  • Keluarga yang anggota keluarganya terlibat dalam aktivitas ibadah dan dakwah, dalam bentuk dan skala apapun.
  • Keluarga yang menjaga adab-adab Islam dalam semua sisi kehidupan rumah tangga.
  • Keluarga yang anggotanya melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing.
  • Keluarga yang baik dalam melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anak-anak).
  • Keluarga yang baik dalam mentarbiyah khadimah (mendidik pembantu).

***


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

[QS. Ruum (30): 21]


Untuk apa Allah memberikan samara kepada pasangan suami-istri muslim? Sebagai modal untuk meraih kebahagiaan. Bukankah tujuan hidup kita sebagai seorang manusia adalah memperoleh kebahagian? Bagi seorang muslim, ada tiga level kebahagiaan yang ingin dicapai sesuai dengan QS. Al-Baqarah (2) ayat 201.


Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

- رَبَّنـــَا آتِــنَا فِي الدُّنْيــَا حَسَنَةً

- وَ فِي اْلآخَرَةِ حَسَنَةً

- وَ قِــنَا عَذَابَ الــنَّارِ

Itulah sebaik-baik doa seorang muslim. Kita bercita-cita meraih kebahagiaan di dunia. Ketika meninggalkan dunia, kita mendapat kebahagiaan di akhirat. Yang dimaksud dengan al-hasanah (kebaikan) di akhirat adalah surga. Tapi, ada orang yang langsung masuk surga dan ada orang yang dibersihkan dulu dosa-dosanya di neraka baru kemudian masuk surga. Nah, obsesi tertinggi kita adalah wa qinaa adzaaban nar, masuk surga dengan tanpa tersentuh api neraka terlebih dahulu. Sebab, inilah kesuksesan yang sebenarnya bagi diri seorang mukmin.


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

[QS. Ali Imran (3): 185]


Karena itu, doa rabbanaa atinaa fiiddunya hasanah… haruslah menjadi syiar yang selalu disenandungkan oleh setiap muslim sepanjang hidupnya di dunia. Ketika seorang muslim dan muslimah menikah, syiar ini bertransformasi menjadi:


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

(QS. At-Tahrim (66): 6)


Inilah tugas pokok seorang kepala keluarga: menjaga agar tidak satupun anggota keluarganya tersentuh api neraka. Untuk menunjukkan bahwa tugas ini sangat penting, Allah swt. memvisualisasikan bagaimana dahsyatnya neraka dan tidak nyamannya orang yang masuk ke dalamnya. Bahkan, orang yang masuk ke dalam neraka menjadi bahan bakar. Diperlakukan kasar dan keras. Padahal, kita tidak pernah ridha jika istri kita diganggu orang di jalan, kita marah jika anak kita dilukai orang, kita tidak mau anggota keluarga kita tidak nyaman akibat kepanasan atau kehujanan. Itulah bentuk rasa sayang kita kepada mereka. Seharusnya, bentuk kasih sayang itu juga menyangkut nasib mereka di akhirat kelak. Kita tidak ingin satu orang anggota keluarga kita tersentuh api neraka.


Tugas berat ini tentu tak mungkin ditanggung oleh seorang kepala keluarga sendiri tanpa ada keinginan yang sama dari setiap anggota keluarga. Artinya, akan lebih mudah jika seorang suami beristri seorang muslimah yang punya visi yang sama: sama-sama ingin masuk surga tanpa tersentuh api neraka. Inilah salah satu alasan bahwa kita tidak boleh asal dalam memilih pasangan hidup.


Karena itu, hubungan suami-istri, orang tua dan anak, adalah hubungan saling tolong menolong. Saling tolong menolong agar tidak tersentuh api neraka.


“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

[QS. At-Taubah (9): 71]


Tolong menolong. Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola keluarga. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka. Sungguh indah gambaran pasangan suami-istri yang seperti ini. Suaminya penuh rasa tanggung jawab, istrinya mampu menjaga diri dan menempatkan diri.


“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.

[QS. An-Nisa’ (4): 34]

***

Pasangan suami-istri yang seperti itu sadar betul bahwa keluarga harus dikelola seperti sebuah organisasi. Bukankah keluarga adalah unit terkecil dalam susunan organisasi masyarakat? Bukankah keluarga miniatur sebuah negara? Jadi, kenapa banyak keluarga berjalan tanpa pengorganisasian yang memadai?


Jika kita yakin bahwa keluarga adalah sebuah lembaga, maka sebagai lembaga harus terorganisasi. Ada pemimpin ada yang dipimpin. Ikatan antara pemimpin dan yang dipimpin adalah ikatan kerjasama. Kerjasama haruslah punya tujuan yang terukur. Dan tujuan yang ingin dicapai haruslah diketahui bagaimana cara mencapainya. Itu artinya, cara pencapaiannya harus direncanakan. Setiap rencana baru bisa sukses jika diiringin kemauan yang kuat (azzam).


Dan salah satu rahasia keberhasilan realisasi sebuah rencana adalah ketika rencana itu dibuat dengan prinsip syura. Semakin tinggi tingkat partisipasi, maka akan semakin tinggi potensi keberhasilan tujuan itu dicapai. Inilah salah satu rahasia keberhasilan Rasulullah saw. mengelola para sahabat. Karena Rasulullah saw. selain berlemah-lembut, juga mengajak peran aktif mereka dalam bermusyawarah membuat rencana-rencana strategis (lihat QS. Ali Imran (3): 159].


Artinya, keluarga juga akan sukses mencapai tujuan-tujuannya jika menerapkan prinsip syura dalam perencanaannya. Bahkan, untuk urusan menyapih (ibu berhenti memberi ASI) pun harus disyurakan. Ini perintah Allah swt. Silakan lihat QS. Al-Baqarah (2) ayat 233.


Jadi, jika ingin tidak ada satu orang keluarga pun tersentuh api neraka, kita harus merencanakannya. Tetapkan ini sebagai visi keluarga kita. Lalu, breakdown agar menjadi sebuah langkah yang aplikatif. Jika kita perinci, kira-kira akan menjadi seperti ini.


Visi keluarga kita:

Tidak ada satu pun anggota keluarga tersentuh api neraka

وَ قِــنَا عَذَابَ الــنَّارِ

Misi keluarga kita:

  1. Mencapai derajat takwa yang sebenarnya التَّقْوَى حَقَّ تُـقَـاتِه)ِ)
  2. Memperoleh hidup mulia atau mati syahid عَيْشْ كَرِيْمًا أَوْ مُتْ شَهِيْد)ً)


Strategi untuk mencapai visi dan misi keluarga kita:

  1. Setiap anggota keluarga mengikuti tarbiyah (pendidikan) dalam bentuk tilawah Al-Qur’an, ada proses tazkiyah (pembersihan diri), dan taklim.
  2. Setiap anggota keluarga menjalankan ibadah sampai derajat ihsan.
  3. Setiap anggota keluarga berdakwah dan berjihad fii sabilillah.
  4. Ada anggota keluarga yang menjadi pemimpin masyarakat (istikhlafu fiil ardhi).


Arah kebijakan keluarga kita:

  1. Semua anggota keluarga kita harus tertarbiyah.
  2. Setiap anggota keluarga harus memiliki jadwal ibadah unggulan pribadi, baik secara ritual maupun sosial.
  3. Secara jama’i (bersama-sama), keluarga harus punya jadwal ibadah unggulan, baik ritual maupun sosial.
  4. Harus memiliki agenda dakwah di dalam keluarga.
  5. Harus memiliki agenda dakwah di untuk masyarakat sekitar.
  6. Menghadirkan suasana keluarga yang mendukung tercapainya visi dan misi keluarga.
  7. Mendidik setiap anggota keluarga untuk mencapai kualitas keluarga sebagai pemimpin umat.
  8. Menyediakan sarana dan prasarana pendukung tercapainya visi dan misi keluarga.

Setelah arah dan kebijakan ditetapkan, perincilah ke dalam program dan kegiatan yang aplikatif.

Mungkin tabel seperti di bawah ini bisa membantu dalam menyusun rencana agar tidak satu pun anggota keluarga kita tersentuh api neraka.


RENSTRA KELUARGA KITA TAHUN 2007-2008

Dengan mengharap bimbingan dan rahmat Allah swt., kami bertekad melaksanakan rencana ini.

ARAH KEBIJAKAN Nama Program Indikator keberhasilan Bentuk Kegiatan Waktu Pelaksanaan PJ Anggaran Ket


Jadi, masuk surga memang harus direncanakan. Bukan sekadar diharapkan!

***


Wah, ana tersinggung ^_^


Template Design by SkinCorner