Kamis, 30 Oktober 2008

Pertarungan Sepanjang Masa



“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”
(Al Baqarah : 251)


Pertarungan antara al-haq dan al-bathil akan selalu ada... Ini telah menjadi sunnatullah... Pertarungan ini adalah pertarungan sepanjang masa… Maka tidak ada dalam kamus generasi pengemban risalah Qur’an untuk berleha-leha, kehilangan ruh haroki, berhenti belajar dan stagnant dalam mengasah kemampuan strategi... Sekali lagi, sebab pertarungan ini adalah pertarungan sepanjang masa, Saudaraku...

Namun, pun telah menjadi sunnatullah bahwa selalu ada pencegahan Allah atas keganasan seseorang terhadap orang lainnya... Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah di atas... Inilah yang disebutkan oleh para ulama sebagai ”pertarungan untuk eksis”. Ini bukan semata untuk hal yang bersifat perang, namun juga mencakup seluruh pertarungan untuk mempertahankan eksistensi dan kemenangan...

Ayat tersebut merupakan rangkaian dari kisah penuh hikmah yaitu kisah Thalut bersama Bani Israil dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 246-252. Ayat ini menyebutkan adanya pertarungan antara kebenaran (al haq) dan kebatilan, yang terepresentasikan pada Thalut dan pasukannya dengan Jalut dan pengikutnya. Kemudian Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firmannya “Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” Ini menunjukkan bahwa pencegahan kejahatan dengan cara ini merupakan nikmat yang Allah tawarkan dan curahkan kepada seluruh manusia...

Inilah yang harus disadari... Bahwa disinilah letak rahasianya... Inilah yang harus dikelola... Bahwa usaha para pemuja kebatilan untuk mengalahkan kebenaran dan keadilan itu akan selalu ada... Dan usaha mereka akan semakin tampak dari masa ke masa seiring semakin eksisnya para pejuang keadilan... Sebab kehidupan ini adalah pertarungan untuk eksis... Namun pencegahan dan pertolongan dari Allah pun akan selalu ada...

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul Fikih Kemenangan dan Kejayaan mengatakan,

“Adalah sebuah kewajiban mendesak bagi umat Islam untuk menyadari sepenuhnya sunnah-sunnah Allah akan adanya penolakan keganasan sebuah kaum atas kaum yang lain, agar dia mengerti bahwa sunnah Allah untuk menghancurkan kebatilan adalah dengan meng-eksis-kan kebenaran, yang direpresentasikan oleh sebuah umat... Sehingga kemudian Allah menghancurkan kebatilan dengan kebenaran, dan binasalah kebatilan itu...”

Ini berarti kebatilan hanya akan bisa dibinasakan bila kebenaran itu eksis... Dimana ia direpresentasikan oleh sebuah umat... Artinya para pejuang itu harus bersatu dalam tubuh umat... menjadi pejuang umat... untuk kemudian menyatukan kekuatan dan mengorganisasi kekuatan itu agar kebenaran pun tidak sekedar eksis namun juga legal... Sebab sesuai fiqih realitas hari ini bahwa legalitaslah kunci kemenangannya... Maka benarlah kata ustadz Anis Matta... bahwa ”kekuasaan itu harus direbut...” Sebab kekuasaan adalah bapak kandung dari legalitas... Ya... ekstrim memang... Tetapi begitulah bahasa dalam medan laga pertarungan...


***


Dalam fi Zhilalil Qur’an disebutkan bahwa :


Kemenangan sangat berkaitan erat dengan sunnah saling mempertahankan... Allah Mahatahu bahwa kejahatan itu senantiasa akan menyerang dan dia tidak akan bisa berlaku fair... Dia tidak akan pernah membiarkan kebaikan itu tumbuh dan berkembang, walaupun kebenaran itu menempuh jalan yang lapang dan lurus... Sebab tumbuh dan berkembangnya kebaikan akan menjadi ancaman bagi kejahatan, dan wujud yang haq akan menjadi ancaman bagi kebatilan... Kejahatan akan senantiasa menampakkan permusuhan, dan kebatilan akan membela dirinya dengan cara membunuh kebenaran dan mencekiknya dengan kekuatan... Dari sinilah akan senantiasa terjadi pertarungan sengit antara kebenaran dan ahlinya dengan kebatilan dan ahlinya... Inilah sunnah Allah dan engkau tidak akan dapatkan perubahan pada sunnah Allah...

***

Memahami, menganalisa, dan mempelajari sunnah-sunnah Allah dengan sungguh-sungguh adalah sangat penting bagi para pejuang da’wah dan umat... bahkan ulama mewajibkannya... agar kita bisa mengambil manfaat dan jangan sampai berbenturan dengannya...

“Janganlah Anda berbenturan dengan sunnah-sunnah alam, karena sesungguhnya dia pasti MENANG. Namun TAKLUKKAN-lah dia dan gunakanlah dia, UBAH ARUS-nya, dan mintalah bantuan dengan mempergunakan sebagian lainnya”
(Imam Syahid Syaikh Hasan al-Banna)

Jadi, KEMENANGAN itu hanya bisa dikelola oleh jiwa-jiwa PENAKLUK... Sebab seorang penakluk memiliki 1001 alasan untuk menang... Sebab ia memiliki ketajaman analisa dalam setiap detil yang dipelajarinya... Dan ketajaman analisa itu hanya bisa lahir dari kebersihan hati dan intensitas yang cukup dalam interaksi dengan Zat yang Maha Memberi... Semoga kau salah satu dari para penakluk itu, Saudaraku...

***

Sungguh... pelajaran apa yang tidak kita dapati di Al Qur’an?? Peta dan pedoman menjalani kehidupan ini telah ada di dalamnya... Semakin kita mempelajarinya, semakin jelaslah arah dan strategi mengelola kehidupan... Semakin kita mendalaminya, maka semakin kagumlah kita akan kebesaran Allah...

Al Qur’an demikian peduli untuk mengajarkan pada kaum muslimin apa yang menjadi urusan penting baik urusan dunia maupun urusan akhirat... Al Qur’an menjelaskan dengan sangat jelas sunnah-sunnah Allah... Al Qur’an menjelaskan bagaimana sunnah-sunnah itu terjadi...dan sebab-sebab yang mengharuskannya... Maka masihkah kita ragu dan kehilangan kepercayaan diri atas kebenaran dan kemuliaan risalah ini dibandingkan analisa-analisa manusia yang tak berdasar dan serba nisbi itu???

***

Dari kajian beberapa ayat dalam surat Al Baqarah yaitu ayat 246-252 tentang kisah Thalut saja begitu banyak kita dapati pelajaran berharga... Setelah kita baca dan analisa kandungannya... InsyaAllah akan kita dapati pelajaran yang luar biasa...

Sayyid Quthb dengan sangat indah telah memaparkan hakikat-hakikat kisah tersebut dengan mengatakan :

”Pelajaran yang menyeluruh tampak pada keseluruhan kisah... Yakni bahwa intifadhah ini – intifadhah akidah – walaupun demikian banyak hambatan di depan pengalaman yang terjadi berupa kekurangan dan kelemahan dan adanya orang-orang yang mundur secara beruntun dan berbondong-bondong dalam perjalanannya, namun demikian keteguhan segelintir orang mukmin telah melahirkan hasil yang besar... Karena di dalamnya telah ada harga diri, kehormatan, dan kemenangan setelah mereka mengalami kekalahan yang menyedihkan, kehinaan yang memalukan, pengusiran yang demikian panjang, dan kehinaan di bawah para manusia biadab...”
***

Dari kisah Thalut tersebut tampak beberapa pelajaran yang mahal bagi setiap kaum muslimin di setiap zaman, mari kita cermati bersama :


Pelajaran kedua, bahwa sesungguhnya pengujian atas semangat yang bersifat luaran dan semangat yang menyala-nyala dalam jiwa sebuah kelompok, jangan dinilai pada awalnya saja...

Sebagaimana dalam ayat tersebut digambarkan bahwa sebenarnya jumlah kaum Bani Israil ketika itu banyak, namun ketika diwajibkan perang atas mereka, mereka berpaling... Hingga tidak tersisa dari mereka kecuali sejumlah kecil orang yang tetap berpegang teguh dengan janji terhadap Nabinya... Merekalah pasukan yang berangkat bersama-sama dengan Thalut...

Kemudian dalam perjalanannya, kebanyakan dari tentara itu berjatuhan pada fase awal dan mereka menjadi lemah pada ujian pertama... Mereka minum dari air sungai... hingga hanya sedikit di antara tentara itu yang mampu menyeberangi sungai itu...

Dari yang sedikit ini pun ternyata tidak semua tegar sampai akhir... Ketika mereka menghadapi sebuah guncangan yang hebat, berupa jumlah musuh yang banyak, maka semangat dan tekad mereka mengendur... dan hati mereka berguncang hebat karena takut...

Namun di tengah konspirasi dahsyat ini, ada beberapa orang yang tetap kokoh dan tetap berpegang teguh kepada Allah dan senantiasa yakin dengan panji-Nya... Kelompok inilah yang kemudian mampu memenangkan perang dan berhak mendapatkan kejayaan dan kemuliaan...

Dari sini kita dapatkan bahwa proses screening terhadap Bani Israil itu selesai melalui tiga lapisan... Dan inti dari inti semua itu adalah bahwa mereka adalah ORANG-ORANG YANG JUJUR KEPADA ALLAH DALAM BERJUANG... dan Allah pun memenuhi janji-Nya, kemudian Allah turunkan pertolongan-Nya kepada mereka...

Pelajaran ketiga, yaitu pelajaran tentang pemimpin yang shaleh, penuh vitalitas, dan beriman yang kesemuanya itu terlihat pada diri Thalut, antara lain :
  • Pengalaman yang cukup tentang bagaimana mengenal jiwa manusia
  • Ketidaktertipuannya dengan semangat luaran kelompoknya
  • Dia tidak mencukupkan diri dengan pengujian pertama
  • Usahanya dalam menguji ketaatan dan tekad kuat yang ada pada tentaranya sebelum perang
  • Tindakannya memisahkan orang-orang yang lemah dan meninggalkan mereka di belakang
  • Sikapnya yang tidak pernah melemah pada saat tentaranya melemah setelah menjalani pengalaman demi pengalaman dan ujian demi ujian sehingga pada akhirnya tidak tersisa dari tentaranya kecuali kelompok terpilih...dan dia terjun ke medan laga bersama mereka...

Pelajaran terakhir, bahwa hati yang senantiasa mendekat kepada Allah, berubah-ubah standar dan persepsinya sesuai tuntutan keadaan... Namun hati yang senantiasa berinteraksi dengan Allah akan mampu melihat setiap realitas yang ada secara proporsional...

Melalui kisah tersebut tampak bahwa kelompok kecil yang beriman itu tetap kokoh dan teguh di medan perang dan berhasil mendapatkan kemenangan dan pertolongan... Meskipun melihat jumlah mereka yang sedikit dan jumlah musuh mereka yaitu Jalut dan tentaranya demikian banyak, namun mereka tidak sedikit pun gentar terhadap kondisi itu... Mereka justru memberlakukan hukum lain dan berkata,

”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit mampu mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kemudian mereka menghadap Tuhannya dengan berdoa,

”Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas kami dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”

Kelompok ini merasa bahwa neraca kekuatan bukan berada di tangan orang-orang kafir... melainkan kekuatan itu hanya ada di sisi Allah... Maka mereka pun meminta pertolongan kepada-Nya... dan mereka pun mendapatkannya dari tangan yang memiliki dan memberi...

Begitulah kebenarannya... bahwa ketika iman yang benar telah melekat di dalam kalbu... maka persepsi dan standar nilai terhadap sesuatu akan berubah bagi orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan Allah... Subhanallah...

***

Dari ayat-ayat ini juga dikisahkan tentang Nabi Daud... Ia adalah seorang pejuang yang masih begitu muda belia, yang berasal dari tengah-tengah tentara mujahid... Dan dari medan peranglah dia kemudian memulai karir hidupnya... yang kemudian dia bergerak di lini kepemimpinan, hikmah, dan tanggung jawab...

Dari sini kita menangkap sebuah isyarat bahwa kerja nyata dan berkreasi di lapangan-lah yang dapat menghasilkan pemimpin... dan keberhasilan menghadapi pengujian di medan-lah yang akan menyingkap bakat-bakat...
Dua pemimpin yaitu Thalut dan Daud muncul di tengah-tengah manusia, dihadirkan oleh keberhasilannya di medan (lapangan), bekerja secara nyata (berkreasi), dan keberpihakan realitas... Inilah jalan para pemimpin, yang berhasil memimpin umat menuju jalan kemenangan dan keteguhan...

***

”Pandangan yang penuh seksama terhadap Al Qur’an akan mampu memperlihatkan bahwa orang-orang yang berusaha untuk menerapkan syariat Rabbul Alamin memiliki ujian-ujian yang besar... dan senantiasa mendapatkan cobaan keimanan dalam setiap fase hidupnya... Dan hal ini akan mewariskan pada setiap generasi umat warisan-warisan para Nabi dan Rasul mengenai cara pandang mereka kepada Dzat Yang Mahatunggal, juga dalam cara pandang mereka terhadap kehidupan, alam semesta, hakikat manusia, dan metode reformasi yang mereka selami di dalam kehidupan ini...”

(DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi)

***

Dan pertarungan al-haq dan al-bathil itu belum usai, Saudaraku...
Kemenangan hari ini dan esok adalah milik kita...
Siapa pun dirimu... Apapun warnamu...
Panji Islam ’kan tetap memayungi kita...
Tak ’kan ada yang tersakiti... Tak ’kan ada yang terdzolimi...
Bebanmu adalah amanah kami...
Sebab kau bagian dari ummat ini...
Maka jangan lunturkan keyakinanmu...
Bahwa HARAPAN itu masih ada...
Semoga Allah senantiasa memayungi kita dengan keadilan-Nya...
Demi kesejahteraan kita bersama...

***

Wahai umat Islam bersatulah...
Rapatkan barisan... Jalin ukhuwah...
Luruskan niat... Satukan langkah...
Kita sambut KEMENANGAN...

Dengan bekal iman... Maju ke hadapan...
Al Qur’an dan sunnah jadi panduan...
Sucikan diri... Ikhlaskan hati...
Menggapai ridho Ilahi...

Dengan persatuan... Galang kekuatan...
Panji Islam kan menjulang...
Tegak kebenaran... Hancur kebatilan...
Gemakan takbir...

ALLAHU AKBAR!!!
(Nasyid ”Senandung Persatuan” oleh Izzatul Islam)

Membangun (miniatur) Peradaban...



Dulu… Ana merasa begitu malu, tersinggung, dan seolah tertampar-tampar ketika berbicara ataupun mendengarkan materi tentang membangun peradaban... Ya... peradaban... tepatnya membangun peradaban Islam... Sebab membangun peradaban itu butuh tahapan-tahapan...

Ana berpikir... bagaimana mungkin akan menuju ke tangga membangun peradaban... jika hingga di umur ana yang ke-23, ana masih juga berada di tahap pertama... tak kunjung berpindah ke tahap ke-2 yang katanya cukup berat... yaitu tahap membangun keluarga muslim...

Alhamdulillah... setelah sekian lama... rupanya Allah ingin menguji kesiapan dan kesabaran ana... hingga pada saat yang tepat, Allah menjawab doa ana selama ini... dengan mengirimkan seorang Mujahid yang selama ini telah Allah tempa dan siap menjemput ana untuk berjuang bersama...

Subhanallah... Allahu akbar... Rupanya dialah mujahid itu... ^_^

Hmmm... betapa beruntungnya ana...

***

>Kata seorang ustadz, kehidupan ini harus dimaknai sebagai sebuah pertempuran... Setiap momentum adalah pertempuran...

Pemaknaan tersebut akan membuat kita semakin terpacu untuk selalu siap siaga, pantang menyerah dan terus berjuang... Sebab hanya para pejuanglah yang memenangkan setiap pertempuran... Meskipun kemenangan itu tak selalu berupa kemenangan fisik dan sifatnya visible (tampak)...

Apa dan bagaimana pun kondisinya, seorang kader da’wah harus siap mengemban amanah yang tersulit sekalipun... Apalagi ketika ia telah menikah... Sebab kekuatan yang dimikinya semakin bertambah besar akibat penyatuan dua kekuatan besar... Bukankah menikah adalah bagian dari da’wah.... Maka sudah seharusnya pernikahan itu memperkuat da’wah... bukan justru melemahkan da’wah...

Pernikahan bukanlah akhir sebuah tujuan... melainkan awal dari sebuah perjuangan yang lebih besar...yang membutuhkan pengorbanan dan kontribusi yang lebih besar... yaitu perjuangan membangun peradaban Islam...

***

Berikut adalah sebuah kisah yang cukup menginspirasi ana tentang perjuangan seorang sahabiyah yang menikah dalam kondisi peperangan... Sosok yang tepat untuk dijadikan qudwah bagi para mujahidah... Kisah Ummu Hakim r.ha. dan pertempuran...

Ummu Hakim binti Harits r.ha. adalah istri Ikrimah bin Abu Jahal. Ketika perang Uhud berlangsung, ia ikut serta dalam peperangan tersebut dan berada di pihak orang kafir. Ia masuk Islam ketika peristiwa Fathu Makkah Mukarramah. Ia sangat mencintai suaminya, tetapi suaminya sangat terpengaruh oleh ayahnya sehingga ia enggan masuk Islam dan lari ke Yaman. Kemudian Ummu Hakim r.ha. meminta perlindungan bagi suaminya kepada Rasulullah saw, dan ia sendiri pergi ke Yaman. Dengan susah payah ia membujuk suaminya agar mau masuk Islam. Ia berkata, ”Saya menjaminmu bahwa engkau akan selamat dari pedang Rasulullah saw. Saya telah meminta perlindungan dari Rasulullah saw. Ikutlah ke Madinah bersama saya.” Akhirnya ia pun kembali ke Madinah dan masuk Islam, dan hidup sebagai suami istri dengan senang.

Pada masa Khalifah Abu bakar ra., ketika kaum muslimin bertempur melawan Romawi, Ikrimah ra mati syahid. Kemudian Ummu Hakim menikah dengan Khalid bin Sa’id ra. Pada hari perkawinannya, di suatu tempat bernama Marjul Shafar, suaminya ingin beristirahat dengannya. Ummu Hakim menjawab, ”Kita sekarang sedang diserang oleh musuh, sebaiknya kita menghabisi mereka terlebih dahulu.”

Jawab suaminya, ”Saya meyakini kesyahidan saya dalam pertempuran ini.” Istrinya terdiam, dan akhirnya mereka beristirahat di sebuah kemah. Keesokan harinya ketika sedang berlangsung walimah, tentara Romawi datang menyerang. Suaminya segera terjun ke dalam pertempuran itu sampai ke Ghamsan, dan akhirnya ia mati syahid.

Ummu hakim r.ha. menggulung kemahnya. Di tempat itulah tadi malam ia bersama suaminya. Ia mengumpulkan semua barang-barangnya, kemudian mengambil sebuah patok kemah, dan maju ke medan pertempuran. Akhirnya ia berhasil membunuh tujuh orang musuh dengan tangannya sendiri. Allahu Akbar !!!

***

Pada zaman sekarang, adakah wanita ataupun laki-laki yang siap untuk menikah dalam keadaan pertempuran semacam itu?? Seandainya pun ada wanita yang sedang menikmati pernikahan kemudian suaminya mendadak mati syahid, mungkin ia akan menangis dan berkabung entah berapa hari lamanya... Namun shabiyah bernama Ummu Hakim r.ha. ini justru ia sendirilah yang menggantikan untuk maju bertempur hingga berhasil membunuh tujuh orang musuh dengan tangannya...

Wallahu a’lam...

***

Mujahidku...
Genggam tanganku dan kuatkan kesabaranmu...
Sungguh...
Adakah ikatan yang lebih indah dari ikatan pernikahan...
Yang dengannya kita mampu menembus arasyNya...
Yang dengannya kita satukan kekuatan...
Menapaki jalan da’wah yang semakin berat...
Bahu-membahu membangun miniatur peradaban Islam...

Maka katakanlah pada musuh-musuh Islam...
Waspadalah kalian...
Sebab satu lagi bangunan keluarga MUSLIM telah dibangun...
Dan esok akan menyusul ribuan bangunan kokoh lainnya...
Menjemput janji Allah...
Menjadikan Islam sebagai guru peradaban dunia...
Semoga Allah memberkahi…
Semoga Allah meridhoi…

***

Special for my lovely husband…
Even u’re so far from me…
Thanks for ur support…

Keep smile…
Keep fight…
‘n keep HAMASAH, my mojaheed!!!
Ana uhibbukafillah… ^_^

Ayo Muslimah..., BERSIAP SIAGALAH !!!



Rapatkanlah langkah ini jalan ilahi…
Jangan ragu lagi janji syurganya pasti…
Kobarkanlah api peperangan suci…
Yakin kemenangan janjikan bidadari…

Bangkitlah segera wahai pemuda…
Jangan terlalaikan oleh buai dunia…
Disana ada negeri Islam terluka…
adarkan jiwamu untuk membela…
Siapkan diri rangkul senjata…
Panjatkan doamu ‘tuk citakan syurga…
Pekikkan takbir sampai napas terakhir…
Kejayaan di tangan kita!!!
(Citra Pemuda – Shoutul Harakah)

***

Akhir-akhir ini di rapat sebuah wajihah, selalu dibahas tentang amanah ana di sebuah struktur… Pasalnya, karena ana telah berada di jajaran “artis” wajihah tersebut…

Bahasa halusnya, mereka meminta ana untuk mengurangi bahkan tidak usah terlibat lagi di amanah-amanah yang berhubungan dengan pengamanan dan segala proses ke-SIAP SIAGA-annya…

Enak saja melarang ana !!!

Maaf…
kalau amanah yang satu itu… sangat tidak bisa ana tinggalkan, Teman…

Kecuali memang sedang ditempatkan di posisi lain oleh struktur tersebut…
Inilah bentuk ikhtiar SIAP SIAGA kami…

Bagi kami, amanah itu sudah menjadi ruh perjuangan kami…
Bagi kami, amanah itu adalah amanah seumur hidup kami…
Bagi kami, amanah itu adalah penguat di jalan ini…

***

Rasa sensitive itu muncul lagi…

Entah mengapa, ana kerap merasa begitu geram ketika ada ikhwan maupun akhwat yang meremehkan kerja-kerja “pengamanan”…

Banyak orang tidak tahu bahkan mungkin tidak ingin tahu bagaimana beratnya dan seberapa pentingnya tim pengamanan… yang mungkin tak se-elite pekerjaan lainnya…

Namun ternyata rasa itu bukan hanya ana yang memilikinya… Sensitivitas itu juga muncul pada beberapa akhwat yang sempat ana ajak sharing… Dan setelah kami pikir, mungkin kesamaan rasa itu muncul karena kami sama-sama akhwat Santika… (mungkin……)

Kesimpulan kami adalah “Ternyata hanya orang-orang pengamanan yang mengerti ruh dan urgensi pengamanan itu!”

***

Kalau saja ana disuruh memilih dalam sebuah kepanitiaan, apakah ingin menjadi anggota divisi acara ataukah divisi pengamanan, maka dengan senang hati ana akan lebih memilih untuk berada di divisi pengamanan!!!

Jujur saja, orang-orang pengamanan memiliki nilai “plus” di mata ana…
Entahlah…
Sejak dulu…
Ana selalu salut dengan kerja-kerja ikhlas mereka…

***

Dalam berbagai kepanitiaan, seksi keamanan hanya dianggap sebagai pelengkap… atau lebih sering difungsikan sebagai pembantu umum… Bahkan tidak jarang beralih fungsi menjadi tukang angkat-angkat barang, tukang panjat dinding atau pohon (memangnya spiderman??), atau kadang jadi tukang parkir… (n”n).

Sebenarnya bagi mereka itu mungkin tidak masalah…
Bahkan, yakinlah… mereka tidak akan mengeluh dengan kerja-kerja tersebut…
Sebab selain menjadi tambahan skill, juga memberikan begitu banyak nilai-nilai tarbiyah bagi mereka…

Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya nilai keikhlasan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya nilai kesabaran…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya rasa pengorbanan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kejujuran…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya ketaatan pada pimpinan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya ketajaman analisa…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kegesitan dalam bertindak…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya daya tahan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya menjaga kerahasiaan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kemampuan mengelola kekuatan…

Ketika pun mereka ditempatkan di sebuah sudut ruangan yang mungkin tak seorang pun menghiraukan keberadaan mereka…
Ketika pun mereka berdiri seharian penuh kecuali saat seruan shalat memanggil…
Ketika pun mereka bercucuran keringat dan warna kulit semakin gelap…
Ketika pun terkadang harus menghadapi protes, keluhan, bahkan cibiran orang-orang yang diamankan…
Ketika pun terkadang harus mendapat iqob yang cukup berat bagi sebagian orang…
Ketika pun…
Ah… mereka lebih tahu…
Namun tetap saja mereka berusaha untuk ikhlas…

***

Tentang amanah yang satu ini, sekali lagi ana mohon afwan…, ana tidak bisa melepaskannya…
Tidak perlu khawatir secara berlebihan, Teman…
Orang-orang pengamanan yang juga telah menjadi artis-artis di wajihah antum adalah orang-orang yang cukup cerdas…
InsyaAllah mereka mampu berperan secara proporsional…
Asalkan jangan menyuruh mereka untuk melepaskan “ruh” pengamanannya…
Sebab boleh jadi justru dunia “ke-artis-an” di wajihah antum yang akan mereka lepaskan… ^_^

***

Dalam film kartun yang berjudul “Avatar” dengan pemeran utama bernama Eng, ada sebuah kisah menarik. Suatu ketika Eng dan para sahabatnya Katara dan Saka tiba di sebuah desa yang terdapat banyak ksatria wanita. Awalnya, Saka sangat meremehkan satu ketangguhan gadis-gadis tersebut. Namun belakangan setelah Saka berhasil dikalahkan oleh satu diantara gadis itu, perlakuan Saka berubah dengan memperlakukan gadis tersebut seperti layaknya ksatria pria…

Sebenarnya gadis tersebut juga tidak begitu suka atas perubahan sikap Saka tersebut… hingga suatu ketika Saka meminta maaf pada gadis tersebut atas sikapnya yang memperlakukan gadis ksatria tersebut sama halnya terhadap ksatria pria…
Yang membuat ana terkesan adalah jawaban gadis tersebut… Ia mengatakan,
“Kau tak perlu meminta maaf… Sebab aku memang ksatria… Tapi aku juga wanita…” ^_^

***

Sebenarnya sejak lama ana bermimpi…
Kalau saja semua akhwat mengetahui dan menyadari konsep SIAP SIAGA…
Pastilah semua akhwat akan menjadi anggota regu Santika seperti kami…
Kalau saja…

Betapa inginnya ana agar smua akhwat merasakan ruh seperti yang kami rasakan…
Hingga tak ada lagi akhwat yang terlalu lemah, manja dan begitu mudah putus asa…

Sebab para sahabiyah pun adalah muslimah-muslimah tangguh…
Tak satu pun meragukan kafa’ah ke-Islaman mereka…
Namun mereka juga tak diragukan lagi ke-paham-annya akan konsep SIAP SIAGA…
Bahkan Aisyah-istri Rasulullah-yang katanya manja pun…
Bukan hanya seorang muslimah yang parasnya indah…
Bukan hanya seorang muslimah yang cerdas …
Melainkan juga seorang orator dan muslimah yang tangguh…

***

Bukankah al-fahm tentang SIAP SIAGA harusnya terinternalisasi pada semua kader dakwah… Terlepas ia ikhwan atau pun akhwat… Di posisi mana pun ia ditempatkan… Apakan di posisi sebagai seorang anggota dewan, seorang negosiator, seorang yang selalu berada di depan computer, bahkan seorang ibu rumah tangga tulen sekali pun…

Bukankah SIAP SIAGA harusnya diterjemahkan ke dalam semua lini kehidupan kita…
Baik menyangkut SIAP SIAGA dalam hal “perencanaan” dan “manajerial” untuk sebuah tujuan besar, maupun SIAP SIAGA dalam hal penjagaan potensi jasadiyah untuk tugas-tugas besar lainnya…
Yang semua hal tersebut harus diterapkan secara bersamaan, seimbang dan kontinyu…

***

Ana teringat dengan kata-kata seorang akhwat…
Katanya, “Muslimah itu harus bisa mandiri!!!”
Ya…, ana sepakat.

Mungkin hari ini para muslimah masih bisa tenang-tenang saja tanpa ada usaha berarti dalam hal self-defense misalnya… Sebab tuntutan dakwah kita hari ini mungkin belum seberat saudara-saudara kita di negeri Islam lainnya…

Namun bagaimana jika ternyata esok kita telah memasuki mihwar dakwah yang lebih tinggi, dimana para suami harus diamahkan untuk tugas dakwah yang semakin berat yang mengharuskan mereka tak berada di rumah… Dan usaha-usaha musuh-musuh Islam semakin nyata untuk menghancurkan dakwah ini, yang mungkin bukan hanya dengan tekanan psikologis melainkan juga tidak segan-segan lagi menggunakan tekanan fisik di rumah-rumah muslim, sedang yang ada di rumah-rumah tersebut hanyalah para muslimah…

Lantas apakah kita harus menunggu sampai bencana itu tiba di hadapan kita baru kemudian para muslimah tersadar???
Sebab itulah SIAP SIAGA menjadi sebuah keharusan…
Sebagai muslimah yang cerdas, SIAP SIAGA bukan berarti meninggalkan tugas-tugas asasi mereka…
Melainkan sebuah proses persiapan yang tentunya dilakukan secara tawazun…

Dalam konteks kekinian, dimana kita bersiap-siap untuk berpindah mihwar, kerja-kerja besar semakin menanti…
Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi???
Kalau bukan sekarang, kapan lagi???
Ayo Muslimah… Ber-SIAP SIAGA-lah !!!

Wahai mujahid…
Ayo bangkitlah…
Maju serentak…
Gagah perkasa…
Kumandangkan suara kebenaran…
Tegakkan keadilan…
(Wahai Mujahid – Shoutul Harakah)

***
Bangkitlah… Mujahid bangkitlah…
Rapatkan… barisan rapatkan…
Ayunkanlah langkah perjuangan..
Mati syahid atau hidup mulia…

Siapkan… dirimu siapkan…
Gentarkan musuhmu gentarkan…
Tak kan pernah usai pertarungan…
Hingga ajal kan menjelang…
Enyahkan rasa takut dan gentar…
Walau raga kan meregang nyawa…
Karna Allah tlah janjikan syurga…
Untukmu mujahid setia…
(Mars Kepanduan – Shoutul HArakah)

... Keluarga Muslim


Salah seorang jundi ana (gak mau disebutkan namanya...) protes pada ana...
Katanya, "Kak, kok di blog-nya gak ada lagi tulisan tentang 'pembentukan keluarga muslim'...??? Yang ada tentang 'pembentukan pribadi muslim' melulu..."
Ana jawab dengan nyengir (padahal dalam hati... :p)... eh.. dia balas dengan cemberut... ^_^
Mau tak mau ana janji untuk memuat tulisan tentang 'keluarga muslim'...
But afwan ya, De'... Komputer kakak lagi rusak... Apalagi di bulan Januari 'tiada hari tanpa ujian profesi'... and lagi siap-siap PKL awal Februari... Jadi untuk sementara off dulu nulis-nulisnya... ^_^
But don't be sad... Ni kakak masukkan tulisannya Mochamad Bugi dari Dakwatuna,OK!
Semoga gak cemberut lagi ^_^ (hati-hati cepat tua lho... Ntar kalah imut lagi ma kakak :p)

Ok, ttp ZMANGAT!!!

***

Seperti apakah bentuk keluarga kita? Maklum, ada yang mengatakan rumahku surgaku. Tapi, tak sedikit mengatakan rumah gue kayak neraka. Atau, hambar saja. Tak ada rasa bahwa kita punya keluarga.


Apa pun bentuk keluarga kita itu adalah hasil dari perpaduan tiga faktor pembentuknya. Ketiga faktor itu adalah paradigma yang kita miliki tentang keluarga, kompetensi seluruh anggota keluarga kita dalam membangun keluarga, dan macam apa aktivitas yang ada dalam keluarga kita.


Kalau dalam paradigma kita bahwa keluarga bahagia adalah yang bergelimangan harta, maka motivasi kita dalam berkeluarga adalah mengkapitasisasi kekayaan. Maka, kita akan mencari istri atau suami anak tunggal dari calon mertua yang kaya. Pusat perhatian kita dalam berkeluarga adalah menambah kekayaan.


Bagi paradigma berkeluarga seorang muslim berasal dari motivasi bahwa berkeluarga adalah untuk beribadah kepada Allah, menjaga kesucian diri, dan merealisasikan amal bahwa berkeluarga adalah bagian dari sebuah gerakan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Sehingga, pusat perhatiannya dalam berkeluarga adalah meningkatkan kualitas ruhiyah, fikriyah, nafsiyah (emosi kejiwaan), jasadiyah, dan sosialisasi setiap anggota keluarganya.


Karena itu, membangun keluarga sakinah mawadah wa rahmah (samara) adalah sasaran yang ingin dicapai seorang muslim dalam membentuk berkeluarga. Dalam keluarga yang samara itulah kita akan melahirkan pribadi islami untuk saat ini dan masa depan.


Jadi, sangat penting bagi seorang muslim membangun kompetensi untuk membangun keluarga. Apa itu kompetensi berkeluarga? Kompetensi berumah tangga adalah segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang harus dimiliki agar seseorang dapat berhasil membangun rumah tangga yang kokoh yang menjadi basis penegakkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Maka tak heran jika Rasulullah saw. menyuruh kita untuk pandai-pandai memilih pasangan hidup. Jangan asal pilih.


Abi Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda,


“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Berbahagialah orang yang menikahi wanita karena agamanya, dan merugilah orang yang menikahi wanita hanya karena harta, kecantikan, dan keturunannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Abdillah bin Amrin r.a. berkata, bahwa Rasu­lullah saw. telah bersabda,


“Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena kecantikannya, sebab kecantikan itu pada saatnya akan hilang. Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena hartanya, sebab harta boleh jadi membuatnya congkak. Tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab seorang wanita budak yang jelek lagi hitam kelam yang memiliki agama (kuat dalam beragama) adalah lebih baik daripada wanita merdeka yang cantik lagi kaya, tetapi tidak beragama.”

(HR. Ibnu Majah).


Ibnu Abbas r.a. berkata, bahwa Nabi saw. telah bersabda,


“Empat perkara, barangsiapa memilikinya berarti dia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat: hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, badan yang sabar dikala mendapat musibah, dan istri yang dapat menjaga kehormatan diri serta dapat menjaga harta suami.”

(HR. Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Ausath, sedang sanad dalam salah satu dan dua riwayat adalah bagus).


Keshalihan diri kita dan pasangan hidup kita adalah modal dasar membentuk keluarga samara. Seperti apakah keluarga samara? Yaitu keluarga dengan karakteristik sebagai berikut:

  • Keluarga yang dibangun oleh pasangan suami-istri yang shalih.
  • Keluarga yang anggotanya punya kesadaran untuk menjaga prinsip dan norma Islam.
  • Keluarga yang mendorong seluruh anggotanya untuk mengikuti fikrah islami.
  • Keluarga yang anggota keluarganya terlibat dalam aktivitas ibadah dan dakwah, dalam bentuk dan skala apapun.
  • Keluarga yang menjaga adab-adab Islam dalam semua sisi kehidupan rumah tangga.
  • Keluarga yang anggotanya melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing.
  • Keluarga yang baik dalam melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anak-anak).
  • Keluarga yang baik dalam mentarbiyah khadimah (mendidik pembantu).

***


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

[QS. Ruum (30): 21]


Untuk apa Allah memberikan samara kepada pasangan suami-istri muslim? Sebagai modal untuk meraih kebahagiaan. Bukankah tujuan hidup kita sebagai seorang manusia adalah memperoleh kebahagian? Bagi seorang muslim, ada tiga level kebahagiaan yang ingin dicapai sesuai dengan QS. Al-Baqarah (2) ayat 201.


Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

- رَبَّنـــَا آتِــنَا فِي الدُّنْيــَا حَسَنَةً

- وَ فِي اْلآخَرَةِ حَسَنَةً

- وَ قِــنَا عَذَابَ الــنَّارِ

Itulah sebaik-baik doa seorang muslim. Kita bercita-cita meraih kebahagiaan di dunia. Ketika meninggalkan dunia, kita mendapat kebahagiaan di akhirat. Yang dimaksud dengan al-hasanah (kebaikan) di akhirat adalah surga. Tapi, ada orang yang langsung masuk surga dan ada orang yang dibersihkan dulu dosa-dosanya di neraka baru kemudian masuk surga. Nah, obsesi tertinggi kita adalah wa qinaa adzaaban nar, masuk surga dengan tanpa tersentuh api neraka terlebih dahulu. Sebab, inilah kesuksesan yang sebenarnya bagi diri seorang mukmin.


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

[QS. Ali Imran (3): 185]


Karena itu, doa rabbanaa atinaa fiiddunya hasanah… haruslah menjadi syiar yang selalu disenandungkan oleh setiap muslim sepanjang hidupnya di dunia. Ketika seorang muslim dan muslimah menikah, syiar ini bertransformasi menjadi:


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

(QS. At-Tahrim (66): 6)


Inilah tugas pokok seorang kepala keluarga: menjaga agar tidak satupun anggota keluarganya tersentuh api neraka. Untuk menunjukkan bahwa tugas ini sangat penting, Allah swt. memvisualisasikan bagaimana dahsyatnya neraka dan tidak nyamannya orang yang masuk ke dalamnya. Bahkan, orang yang masuk ke dalam neraka menjadi bahan bakar. Diperlakukan kasar dan keras. Padahal, kita tidak pernah ridha jika istri kita diganggu orang di jalan, kita marah jika anak kita dilukai orang, kita tidak mau anggota keluarga kita tidak nyaman akibat kepanasan atau kehujanan. Itulah bentuk rasa sayang kita kepada mereka. Seharusnya, bentuk kasih sayang itu juga menyangkut nasib mereka di akhirat kelak. Kita tidak ingin satu orang anggota keluarga kita tersentuh api neraka.


Tugas berat ini tentu tak mungkin ditanggung oleh seorang kepala keluarga sendiri tanpa ada keinginan yang sama dari setiap anggota keluarga. Artinya, akan lebih mudah jika seorang suami beristri seorang muslimah yang punya visi yang sama: sama-sama ingin masuk surga tanpa tersentuh api neraka. Inilah salah satu alasan bahwa kita tidak boleh asal dalam memilih pasangan hidup.


Karena itu, hubungan suami-istri, orang tua dan anak, adalah hubungan saling tolong menolong. Saling tolong menolong agar tidak tersentuh api neraka.


“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

[QS. At-Taubah (9): 71]


Tolong menolong. Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola keluarga. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka. Sungguh indah gambaran pasangan suami-istri yang seperti ini. Suaminya penuh rasa tanggung jawab, istrinya mampu menjaga diri dan menempatkan diri.


“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.

[QS. An-Nisa’ (4): 34]

***

Pasangan suami-istri yang seperti itu sadar betul bahwa keluarga harus dikelola seperti sebuah organisasi. Bukankah keluarga adalah unit terkecil dalam susunan organisasi masyarakat? Bukankah keluarga miniatur sebuah negara? Jadi, kenapa banyak keluarga berjalan tanpa pengorganisasian yang memadai?


Jika kita yakin bahwa keluarga adalah sebuah lembaga, maka sebagai lembaga harus terorganisasi. Ada pemimpin ada yang dipimpin. Ikatan antara pemimpin dan yang dipimpin adalah ikatan kerjasama. Kerjasama haruslah punya tujuan yang terukur. Dan tujuan yang ingin dicapai haruslah diketahui bagaimana cara mencapainya. Itu artinya, cara pencapaiannya harus direncanakan. Setiap rencana baru bisa sukses jika diiringin kemauan yang kuat (azzam).


Dan salah satu rahasia keberhasilan realisasi sebuah rencana adalah ketika rencana itu dibuat dengan prinsip syura. Semakin tinggi tingkat partisipasi, maka akan semakin tinggi potensi keberhasilan tujuan itu dicapai. Inilah salah satu rahasia keberhasilan Rasulullah saw. mengelola para sahabat. Karena Rasulullah saw. selain berlemah-lembut, juga mengajak peran aktif mereka dalam bermusyawarah membuat rencana-rencana strategis (lihat QS. Ali Imran (3): 159].


Artinya, keluarga juga akan sukses mencapai tujuan-tujuannya jika menerapkan prinsip syura dalam perencanaannya. Bahkan, untuk urusan menyapih (ibu berhenti memberi ASI) pun harus disyurakan. Ini perintah Allah swt. Silakan lihat QS. Al-Baqarah (2) ayat 233.


Jadi, jika ingin tidak ada satu orang keluarga pun tersentuh api neraka, kita harus merencanakannya. Tetapkan ini sebagai visi keluarga kita. Lalu, breakdown agar menjadi sebuah langkah yang aplikatif. Jika kita perinci, kira-kira akan menjadi seperti ini.


Visi keluarga kita:

Tidak ada satu pun anggota keluarga tersentuh api neraka

وَ قِــنَا عَذَابَ الــنَّارِ

Misi keluarga kita:

  1. Mencapai derajat takwa yang sebenarnya التَّقْوَى حَقَّ تُـقَـاتِه)ِ)
  2. Memperoleh hidup mulia atau mati syahid عَيْشْ كَرِيْمًا أَوْ مُتْ شَهِيْد)ً)


Strategi untuk mencapai visi dan misi keluarga kita:

  1. Setiap anggota keluarga mengikuti tarbiyah (pendidikan) dalam bentuk tilawah Al-Qur’an, ada proses tazkiyah (pembersihan diri), dan taklim.
  2. Setiap anggota keluarga menjalankan ibadah sampai derajat ihsan.
  3. Setiap anggota keluarga berdakwah dan berjihad fii sabilillah.
  4. Ada anggota keluarga yang menjadi pemimpin masyarakat (istikhlafu fiil ardhi).


Arah kebijakan keluarga kita:

  1. Semua anggota keluarga kita harus tertarbiyah.
  2. Setiap anggota keluarga harus memiliki jadwal ibadah unggulan pribadi, baik secara ritual maupun sosial.
  3. Secara jama’i (bersama-sama), keluarga harus punya jadwal ibadah unggulan, baik ritual maupun sosial.
  4. Harus memiliki agenda dakwah di dalam keluarga.
  5. Harus memiliki agenda dakwah di untuk masyarakat sekitar.
  6. Menghadirkan suasana keluarga yang mendukung tercapainya visi dan misi keluarga.
  7. Mendidik setiap anggota keluarga untuk mencapai kualitas keluarga sebagai pemimpin umat.
  8. Menyediakan sarana dan prasarana pendukung tercapainya visi dan misi keluarga.

Setelah arah dan kebijakan ditetapkan, perincilah ke dalam program dan kegiatan yang aplikatif.

Mungkin tabel seperti di bawah ini bisa membantu dalam menyusun rencana agar tidak satu pun anggota keluarga kita tersentuh api neraka.


RENSTRA KELUARGA KITA TAHUN 2007-2008

Dengan mengharap bimbingan dan rahmat Allah swt., kami bertekad melaksanakan rencana ini.

ARAH KEBIJAKAN Nama Program Indikator keberhasilan Bentuk Kegiatan Waktu Pelaksanaan PJ Anggaran Ket


Jadi, masuk surga memang harus direncanakan. Bukan sekadar diharapkan!

***


Wah, ana tersinggung ^_^


Ingatlah di Setiap Detik Kehidupanmu...


Mungkin tulisan seperti ini telah sering kita membaca ...
Namun alangkah indahnya ketika Allah memberikan izin untuk kembali mengulangnya...
Sebab itulah bukti kasih sayang-Nya...

Sebuah "pengingat" berharga yang ana dapat hari ini...
Di pekan usbu ruhiy...
Melalui http://www.dakwatuna.com
Oleh Dr. Attabiq Luthfi

***


Ruhiyah adalah bekal yang terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seorang da’i. Ruhiyah inilah yang akan memotivasi, menggerakkan dan kemudian menilai setiap perbuatan yang dilakukannya.. Keberadaan ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas sukses hidup seseorang, demikian juga dengan dakwah.

Sangat tepat ungkapan yang menyatakan,

“Ar-Ruhiyah qablad dakwah kama Annal Ilma qablal qauli wal amal”.

Ungkapan ini merupakan “iqtibas” dari salah satu judul bab dalam kitab shahih Al-Bukhari,

“Berilmu sebelum berbicara dan beramal, demikian juga memiliki ruhiyah yang baik sebelum berdakwah dan berjuang”.

Dalam konteks dakwah, menjaga dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga ruhiyahnya yang sedang ”kering”.

Allah swt berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad”.
(Al-Hajj: 77-78)

Menurut susunannya, ayat di atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala prioritas; diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah yang tercermin dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian diiringi dengan implementasi dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad yang benar. Yang diharapkan dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan urutannya adalah agar kalian meraih kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh aspek kehidupan, terlebih urusan yang kental dengan ruhiyah yaitu dakwah. Tentunya susunan ayat Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat bukan semata-mata hanya memenuhi aspek keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun lebih dari itu, terdapat hikmah yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah dalam Al-Qur’an memang bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).

Peri pentingnya ruhiyah dalam dakwah dapat dipahami juga dari sejarah turunnya surah Al-Muzzammil. Surah ini secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok; kelompok yang pertama dari awal surah hingga ayat 19 yang berisi instruksi kewajiban shalat malam dan kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamul lail menjadi sunnah mu’akkadah, yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20.

Bisa dibayangkan satu tahun lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail layaknya sholat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas memperkuat ruhiyah. Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban amanah dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.

Pada tataran aplikasinya, stabilitas ruhiyah harus diuji dengan dua ujian sekaligus, yaitu ujian nikmat dan ujian cobaan atau musibah. Karena bisa jadi seseorang mampu mempertahankan ruhiyahnya dalam keadaan susah dan banyak mengalami ujian dan cobaan, namun saat dalam keadaan lapang dan senang, bisa saja ia lengah dan lupa dengan tugas utamanya.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya,

“Bukanlah kefaqiran yang sangat aku khawatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku sangat khawatir jika (kemewahan, kesenangan) dunia dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya seperti yang pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa sebagaimana mereka juga binasa karenanya”.
(Bukhari dan Muslim).

Maka seorang mukmin yang kualitas ruhiyahnya baik adalah yang mampu mempertahankannya dalam dua keadaan sekaligus.
Demikianlah yang pernah Rasulullah isyaratkan dalam sabdanya,

“Sungguh mempesona keadaan orang beriman itu; jika ia mendapat anugerah nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya. Namun jika ia ditimpa musibah ia bersabar dan itu juga baik baginya. Sikap sedemikian ini tidak akan muncul kecuali dari seorang mukmin”.
(Al-Bukhari)

Dalam konteks ini, contoh yang sempurna adalah Muhammad saw. Beliau mampu memelihara stabilitas ruhiyahnya dalam keadaan apapun; dalam keadaan suka dan duka, senang dan sukar, ringan dan berat. Justru, semakin besar nikmat yang diterima seseorang, mestinya semakin bertambah volume syukurnya. Semakin besar rasa syukurnya, maka akan semakin tinggi voltase dakwahnya. Begitu seterusnya sehingga wajar jika Rasulullah tampil sebagai abdan syakuran.

Karena memang demikian jaminan Allah swt,

“Barangsiapa yang bersyukur, maka pada hakikatnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya”
(Luqman: 12).

Orang yang bersyukur akan memperoleh hasil syukurnya, yaitu kenikmatan ruhiyah yang ditandai dengan hidup menjadi lebih bahagia, tenteram dan sejahtera. Karena bersyukur hakikatnya adalah untuk dirinya sendiri.

Dan ternyata kesuksesan dakwah Rasulullah saw yang diteruskan oleh para sahabatnya sangat ditentukan –selain dari pertolongan Allah- dengan kekuatan ruhiyahnya. Selain dari qiyamul lail yang menjadi amaliyah rutin sepanjang masa, cahaya Al-Qur’an juga senantiasa menyinari hatinya.

Allah swt menegaskan dalam firman-Nya,

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ar-ruhul Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”.
(Asy-Syu’ara’: 192-194).

Demikian persiapan Muhammad sebelum menjadi Rasul yang akan memberi peringatan yang merupakan tugas yang berat dan mengandung resiko adalah dengan dibekali Al-Qur’an yang akan senantiasa mengarahkan hatinya.

Dalam hal ini, Dr. Yusuf Al-Qaradawi pernah menyatakan dengan tegas rahasia kekuatan Al-Qur’an, “

القرآن روح رباني تحيا به القلوب والعقول
“Al-Qur’an adalah kekuatan Rabbani yang akan menghidupkan hati dan pikiran”.

Al-Qur’an akan senantiasa memancarkan kekuatan Allah yang akan kembali menghidupkan hati dan pikiran yang sedang dirundung duka dan kemaksiatan. Kekuatan nabi Muhammad sendiri ada pada kekuatan hatinya yang senantiasa dicharge dengan cahaya Al-Qur’an. Dan demikian seharusnya, kekuatan dakwah seseorang ditentukan oleh kekuatan ruhiyahnya, bukan dengan aspek secondary dan formalitas lainnya.

Pada masa yang sama, agar ruhiyah tetap stabil terpelihara, maka harus dijaga dengan banyak beramal, meskipun hanya sedikit. Karena amal yang terbaik menurut Rasulullah saw adalah amal yang berkesinambungan,

“Sebaik-baik amal adalah yang berkesinambungan meskipun sedikit demi sedikit”.
(Tirmidzi).

Dalam konteks ini, Inkonsistensi ruhiyah pernah ditegur oleh Rasulullah saw,

“Janganlah kamu seperti si fulan; dahulu ia rajin qiyamul lail, kemudian ia tinggalkan”.

Penguatan aspek ruhiyah sebelum yang lainnya pada hakikatnya merupakan bentuk kewaspadaan seorang mukmin di hadapan musuh besarnya yaitu setan yang seringkali bergandeng bahu dengan manusia untuk melancarkan serangannya dan merealisasikan misinya. Tepat ungkapan Prof. Muhammad Mutawlli Asy-Sya’rawi:.

يأتى الشيطان من نقطة الضعف للانسان
“Setan akan senantiasa mengintai dan mencari titik lemah manusia”.

Dengan licik dan komit, setan senantiasa mengincar kelemahan manusia tanpa henti, karena ia tahu bahwa setiap manusia memiliki kelemahan dan oleh karenanya manusia diperintahkan untuk berlindung hanya kepada Allah dengan memperkuat aspek ruhiyahnya.

Demikianlah, aspek ruhiyah selalu menjadi potensi andalan para pemimpin dakwah yang telah menoreh tinta emas dalam sejarah dakwah ini. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dalam kualitas ruhiyah dan amalnya.

“Ruhbanun bil Lail wa Fursanun bin Nahar”.

Bisa jadi kelemahan dan kelesuan dakwah memang berpangkal dari kelemahan dan kelesuan ruhiyah. Saatnya para da’i menyadari urgensi ruhiyah sebelum amal dakwah dengan memberi perhatian yang besar tentang aspek ini dalam pembinaan. Karena demikianlah memang dakwah mengajari kita melalui generasi terbaiknya.

Wallahu ‘alam bis shawab

Awas, Godaan Belut !

Ini bukan tulisan ana...

Taked from : http://www.dakwatuna.com

Lets we learn together...


Bergerak dalam dakwah tak ubahnya seperti bertani. Diawali dengan kehati-hatian menyemai benih. Kemudian, dengan penuh was-was, menanamnya di areal sawah luas. Ada rasa khawatir kalau tunas-tunas muda termakan hama. Tapi kadang, kehadiran belut dan gabus bisa menggoyahkan penantian. Demi rezeki dadakan, padi muda terlantar.

Hidup dalam gerakan dakwah memang penuh tantangan. Seperti tak mau berhenti, ujian dan cobaan silih berganti menghadang. Kalau mau ditafsirkan, ujian mungkin bisa berukuran kolektif. Dan cobaan bersifat individual.

Disebut kolektif, karena cakupannya menyeluruh meliputi apa pun. Termasuk, lembaga yang menjadi payung dakwah. Bayangkan, jika sebuah lembaga yang begitu peduli dengan dakwah dicap sebagai sarang teroris. Mulailah cap buruk itu menyebar ke seluruh masyarakat. Ada yang prihatin, dan tak sedikit yang akhirnya mencibir.

Begitu pun dengan cobaan. Tanpa dakwah pun, setiap orang tak bisa luput dengan cobaan. Karena hakikat kehidupan adalah cobaan. Siapakah di antara kita yang akhirnya mampu mempersembahkan produk yang terbaik. Dan dakwah memberikan bobot tersendiri dari nilai sebuah cobaan. Apa pun bentuknya.

Lahir dan meninggal misalnya, merupakan pemandangan biasa buat masyarakat. Biasa karena setiap orang akan mengalami itu. Tapi, itu akan berbeda ketika sudut pandang menyertakan hitung-hitungan dakwah. Kelahiran bisa diartikan sebagai penambahan aset dakwah. Dan kematian berarti pengurangan pendukung dakwah. Penambahan dan pengurangan pendukung dakwah adalah bentuk lain dari anugerah dan masalah dalam dakwah.

Pendek kata, seorang aktivis dakwah tidak mungkin memisahkan antara masalah pribadi dengan masalah dakwah. Keduanya selalu berkait. Masalah mencari isteri, juga akan berdampak pada masalah dakwah. Begitu pun dengan urusan pekerjaan, lokasi tempat tinggal, dan sebagainya.

***

Di masa Rasulullah saw., ada seorang sahabat dari kaum Anshar yang menangkap pesatnya perkembangan Islam dengan kacamata yang keliru. Di satu sisi, ia memang bersyukur kepada Allah swt. Islam kian meluas menembus batas benua. Tapi, ketika menoleh ke diri dan keluarga, ia pun mulai terpengaruh untuk tidak lagi ikut dalam pentas perjuangan Islam. “Ah, cukuplah perjuangan saya sampai di sini. Sudah banyak kader-kader Islam yang lebih kredibel. Kini, saatnya memperbaiki ekonomi pribadi,” seperti itulah kira-kira ungkapan sang sahabat.

Saat itu juga, Allah swt. menegur. Turunlah ayat Alquran surah Albaqarah ayat 195:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan, dan berbuat ihsanlah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.”
(diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan yang lainnya yang bersumber dari Abi Ayub Al-Anshari. Menurut Tirmidzi, hadits ini shahih)

Mungkin, secara manusiawi, niat baik sahabat Rasul itu bisa dimaklumi. Wajar kalau mereka mulai menatap kemapanan ekonomi diri dan keluarga setelah sekian tahun berkorban habis-habisan buat perjuangan dakwah. Wajar kalau seorang kader perintis mulai menghitung masa depan keluarga setelah tampak masa depan Islam kian gemilang. Mungkin, dalih-dalih itu bisa dianggap wajar.

Namun, Allah swt. justru menilai niat itu sebagai sesuatu yang berat. Salah. Bahkan, menjerumuskan diri kedalam jurang kebinasaan. Allah swt. tidak menginginkan hamba-hamba-Nya yang selama ini gemar investasi pahala yang begitu besar, tiba-tiba putus untuk urusan domestik. Karena, balasan dari Allah yang telah tersiapkan jauh lebih baik dari apa yang akan mereka usahakan di dunia ini.

***

Firman Allah swt. dalam surah Ali Imran ayat 14,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).”

***

Peristiwa itu kian mengingatkan generasi dakwah pasca sahabat Rasul bahwa sulit memisahkan antara kepentingan dakwah dengan urusan pribadi. Karena di situlah nilai lebih seorang aktivis dakwah. Ia telah menjual dirinya kepada Allah swt. Dan transaksi itu mencakup bukan saja urusan potensi diri, melainkan juga segala sumber daya yang melingkupinya. Termasuk, harta dan bisnis.

Begitulah firman Allah swt. dalam surah At-Taubah ayat 111.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh….”

***

Suatu ketika, ada seorang pemilik pohon kurma yang pelit dengan tetangganya. Mayang pohon ini menjulur ke rumah sang tetangga yang fakir. Setiap kali akan memetik buah, sang pemilik selalu melalui halaman si fakir. Tapi, tak satu pun kurma yang diberikan. Bahkan, kurma yang sempat terpegang anak sang tetangga yang fakir pun ia rampas. Tinggallah sang fakir menahan rasa. Hingga akhirnya, ia mengadu ke Rasulullah saw.

Rasulullah menemui sang pemilik pohon. “Maukah kau berikan pohon kurmamu itu kepadaku. Dan ganjaran pemberian itu adalah surga,” ucap Rasul. “Hanya itu? Sayang sekali, pohon kurma itu teramat baik.” Dan, sang pemilik itu pun pergi.

Tawaran Rasul tetang pohon kurma itu pun sampai ke telinga seorang sahabat yang kaya. Ia menemui Rasul. “Apakah tawaran Anda tadi berlaku juga buatku?” tanya sang sahabat. Rasul pun mengiyakan. Serentak, ia mencari sang pemilik pohon. Dan terjadilah tawar-menawar. Sang pemilik pohon berujar, “Pohon kurma itu tak akan aku jual. Kecuali, ditukarkan dengan empat puluh pohon kurma.” Awalnya, sang sahabat agak keberatan. Tapi, akhirnya ia pun setuju. Kemudian, ia menyerahkan kepemilikan pohon itu kepada Rasulullah saw. Dan, Rasul menghadiahkannya kepada si keluarga fakir.

***


Peristiwa itu mendapat penghargaan tersendiri dari Allah swt. Dan, turunlah surah Al-Lail. Di antara surah itu berbunyi,

“…Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka, Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka, kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan yang sukar)….”

(QS. 92: 5-10)

***

Ujian dan anugerah akan silih berganti menghias jalan dakwah. Dan, pagar jalan itu adalah sabar dan istiqamah. Tinggal, bagaimana pilihan kita. Siapkah kita menanti panen padi dakwah yang telah kita tanam dengan waktu yang begitu lama. Atau, menjadi terpedaya dengan lambaian belut dan gabus yang menggiurkan.

Tentang Mujahidah Farma…


Sungguh…
Ia lebih suka apabila seorang ikhwan benci atau takut padanya karena dianggap keras dan sangarnya wajahnya…
Dibandingkan ia harus menjadi fitnah bagi mereka akibat senyumannya…
Dibandingkan ia harus menjadi penyebab kemaksiatan di hati saudara-saudaranya akibat terlalu lembutnya suaranya…
Dibandingkan ia harus menjadi penyebab futurnya mereka karena kecerobohan dan kelalaiannya dalam menjaga izzah sebagai seorang muslimah…


***
Afwan…
Itulah prinsipnya…
Mungkin caramu dan caranya berbeda…
Sebab pengalaman atas kecerobohannya dulu dan pengetahuan akan begitu buruknya fitnah seorang wanita bagi pria telah memberikan banyak pelajaran berarti padanya tentang pentingnya menjaga izzah seorang muslimah…

Afwan…
Ia tidak mengharapkan sedikit pun rasa kagum apalagi pujian atas setiap ucapan yang keluar dari lisannya ataupun tulisan -yang atas izin Allah- keluar dari perasaan dan pikirannya…
Tidak… dan semoga tidak akan pernah… Insya Allah…

Jika pun itu terjadi…
Ia berharap engkau-lah saudara pertama yang mengingatkannya…
Jika pun kau terlupa mengingatkannya…
Maka ia akan berdoa semoga Allah mengampuni dirinya…
Wa kafaa billahi syahida…

***
Sungguh…
Mujahidah Farma bukanlah sosok yang luar biasa…
Ia tidak memiliki kelebihan apa-apa…
Sebab kelebihan-kelebihan yang tampak olehmu hanyalah titipan Allah semata…
Ia hanya 1 dari jutaan hamba yang belajar dan mencoba tuk menjadi seorang muslim generasi Rabbani…
Ia hanya 1 dari jutaan hamba yang belajar dan mencoba menyebarkan cahaya Risalah da’wah Rasullah berdasarkan manhaj Qur’an dan sunnah yang pernah ia dapati…
Ia hanya 1 dari jutaan hamba yang belajar dan mencoba tuk menjadi pengingat bagi saudara lainnya dalam mengemban amanah di jalan ini…
Ia hanya 1 dari jutaan hamba yang belajar dan mencoba tuk menjadi seorang mujahidah sejati…

***

Sungguh…
Sangat tidak pantas rasa kagum atau pun pujian kau lemparkan pada seorang mujahidah farma…
Padahal boleh jadi kau lebih shaleh dan lebih tangguh darinya…
Padahal rasa kagum itu muncul karena Allah sedang menutupkan aib-aib-nya di hadapan hamba-hamba-Nya…
Padahal kau tahu bahwa tiada manusia yang sempurna…
Padahal kau tahu bahwa kesempurnaan itu hanya milik-Nya…
Padahal kau tahu bahwa setiap kebenaran itu bukan berasal darinya melainkan dari sisi Allah semata…

Sungguh…
Ketahuilah…
Ungkapan kagum dan pujianmu padanya adalah beban berat baginya…
Tegakah kau membebaninya dengan pujian yang seharusnya bukan untuknya ???

Jika kau benar-benar saudaranya…
Maka kumohon…
Jangan ulangi lagi perlakuanmu itu padanya…
Jangan kau jadikan ia sebagai sebab kemaksiatan berujung dosa akibat perasaan berlebihan di hatimu padanya…
Jangan kau jadikan ia sebagai sebab rusaknya niatmu akibat mengharap ridha dari selain-Nya…

***


Sebab boleh jadi maksiat-maksiat kecil kita-lah penyebab utama tertahannya cahaya Islam ini sampai kepada mad’u-mad’u kita…

Sebab boleh jadi kotornya hati kita-lah penyebab utama terkikisnya sedikit demi sedikit ilmu penopang bangunan da’wah kita…

Sebab boleh jadi niat-niat halus kita mengharapkan perhatian dan pujian selain ridha Allah-lah penyebab utama melemahnya barisan kita…

Sebab boleh jadi sifat cinta dunia dan kagum kita pada makhluk-Nya melebihi kecintaan dan kekaguman kita pada Allah-lah penyebab utama kegagalan demi kegagalan agenda da’wah kita…

Sebab boleh jadi lalainya kita dalam menjaga ma’nawiyah kita-lah penyebab utama lambatnya kejayaan Islam ini mencapai puncaknya…

***

Sungguh…
Demi Allah…

Biarkanlah cahaya Ad Dinul Islam ini memancarkan cahayanya yang suci hingga ke seluruh penjuru dunia…
Sebab para pengembannya mampu menjaga izzah (kemuliaan) dirinya…

Biarkanlah cahaya Ad Dinul Islam ini memancarkan cahayanya yang suci hingga ke seluruh penjuru dunia…
Sebab para pengembannya selalu menjaga kebersihan hatinya…

Biarkanlah cahaya Ad Dinul Islam ini memancarkan cahayanya yang suci hingga ke seluruh penjuru dunia…
Sebab para pengembannya selalu menempatkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya…

Biarkanlah cahaya Ad Dinul Islam ini memancarkan cahayanya yang suci hingga ke seluruh penjuru dunia…
Sebab para pengembannya lebih takut pada azab Allah dibanding kesenangan semu akibat sanjungan orang lain atas dirinya…

Biarkanlah cahaya Ad Dinul Islam ini memancarkan cahayanya yang suci hingga ke seluruh penjuru dunia…
Sebab para pengembannya selalu tawadhu’ dan saling mendahulukan kebaikan untuk saudaranya…

Biarkanlah cahaya Ad Dinul Islam ini memancarkan cahayanya yang suci hingga ke seluruh penjuru dunia…
Sebab para pengembannya tak pernah mengharapkan pujian dan pamrih dari apa dan siapa pun melainkan ridha Allah semata…

Biarkanlah cahaya Ad Dinul Islam ini memancarkan cahayanya yang suci hingga ke seluruh penjuru dunia…
Sebab para pengembannya rela menukarkan nyawanya dibanding membiarkan harga diri Ad Din-nya dianiaya…

Biarkanlah cahaya Ad Dinul Islam ini memancarkan cahayanya yang suci hingga ke seluruh penjuru dunia…
Sebab para pengembannya mewarisi semangat jihad setinggi Rasulullah dan para sahabat dan sahabiyahnya…

***

Saudaraku…
Tidakkah kita rindu pada suatu masa…
Dimana Islam berdiri tegak dan kokoh di seluruh penjuru negeri…
Dimana seluruh negeri dipimpin seorang alim, kuat, dan dicintai Allah sebagaimana kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat setelahnya…
Dimana kesejahteraan dinikmati oleh seluruh ummat sebagaimana masa khalifah Umar bin Abdul Azis…
Dimana peradaban Islam menguasai berabad-abad peradaban dunia tanpa menzhalimi umat beragama lainnya…

Saudaraku yang sungguh kucintai karena Allah…
Tidakkah kita rindu pada suatu masa…
Dimana setiap kita menjadi sosok jiwa-jiwa syurga…
Dimana kita dikumpulkan dalam sebuah majelis bersama para syuhada di jannah-Nya…
Dimana kita bertemu dengan generasi pertama pengemban risalah da’wah ilallah yang tak pernah letih meniti jalan-Nya hingga peroleh gelar syuhada…
Dimana kita bertemu dan menatap senyum di wajah Rasulullah saw dan beliau pun mengenali kita sebagai pewaris risalahnya…
Dimana kita dinanti-nantikan oleh Rasulullah di sebuah telaga yang diperuntukkan hanya bagi orang-orang beriman…
Dimana kita akan bertemu Rabbul Izzati yang selama di dunia meskipun setiap detik kita bermaksiat namun Dia tetap melimpahkan nikmat tak terhingga disebabkan teramat besarnya kasih sayang-Nya pada kita…

***

Saudaraku…
Sungguh…
Rindu itu akan terbayarkan bagi hamba-hamba Allah yang benar manhajnya dan lurus fikrahnya…
Rindu itu akan terbayarkan bagi hamba-hamba Allah yang berjihad dengan sebenar-benarnya jihad…
Rindu itu akan terbayarkan bagi hamba-hamba Allah yang yakin akan janji-Nya…
Dan terlebih…
Rindu itu akan terbayarkan bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa menjaga kesucian hatinya…

***
Saat ini…
Di bumi tempat kita berpijak…
Kita sedang melangkah tuk mencapai tangga demi tangga…
menuju puncak kejayaan Islam…



Yakinlah…
Bahwa…
Kebenaran manhaj dan fikrah kita…
Ketangguhan jasad kita…
Kekuatan semangat jihad kita…
Keyakinan akan janji Allah pada kita…
Dan terlebih Kebersihan hati kita…

InsyaAllah akan mengantarkan kita menuju puncak kejayaan Islam…
Dan pada akhirnya akan melepaskan kerinduan pada janji Allah yang akan pasti…
Yaitu syurga Allah yang telah menanti…


***
Saudaraku…
Jagalah saudarimu ini…
Sebab saudarimu ini pun akan selalu berusaha menjagamu…
Sebab tugas kita -seorang muslim- adalah saling menjaga antara satu dan lainnya…

***
“ Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, janganlah Engkau menyiksaku karena apa yang mereka ucapkan, dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka perkirakan…”
(Doa Ali ra)
Template Design by SkinCorner