Kamis, 30 Oktober 2008

ALHAMDULILLAH...


7 Juni 2004
Di atas KM Tidar, dengan terpaan ombak lautan

Hari ini aku tak punya aktivitas perkuliahan karena musim libur telah tiba. Namun tak ada kata istirahat untuk aktivitas da’wah…
Pukul 17.00 segala agenda hari ini telah kuselesaikan. Rapat terakhir yang kuikuti tentang penyambutan Mahasiswa Baru (agenda tahunan yang dinanti sebagai awal menjemput para mujahid mujahidah penerus risalah Islam di kampus merah) cukup membuatku begitu berat meninggalkan Makassar… Namun hak orang tua juga harus kutunaikan… Aku harus mudik…
Hatiku sempat gundah tak keruan merenungkan apa yang akan kulakukan… Kubuka dompetku… kucoba menghitung isinya… dek… ternyata hanya tersisa dua helai uang dua puluh ribu, satu lembar uang bernilai sepuluh ribu, dan sejumlah koin… Mampukah aku sampai di Kalimantan dengan sisa uang ini…? Sejenak kuputar otakku… Setelah kudata, ternyata isi dompet ini sangat tidak mencukupi. Alhamdulillah tiket telah kubeli beberapa hari lalu, meskipun hanya dapat kelas ekonomi… Haruskah aku meminjam lagi…, tapi pada siapa…? Tampaknya tak ada jalan. Ditambah lagi tak satupun dari familiku yang berkesempatan untuk mengantarku menuju pelabuhan, padahal barang yang kubawa lumayan banyak… Trus gimana donk…?!
Astaghfirullah… Aku sempat bersu’udzan pada Allah… Aku melupakan pertolonganNya. Ampuni hamba ya Allah…
Selang beberapa menit… alhamdulillah ada 2 teman asrama yang bersedia mengantarku meskipun aku harus membayarkan transportasinya. Alhamdulillah…
Pukul 17.40 aku telah siap dan berpamitan dengan kakak-kakak asrama yang kujumpai. Dan ternyata salah seorang teman juga ingin turut mengantarku. Akhirnya kami pun berangkat berempat.
Yah… perjalanan cukup lama. Tetapi alhamdulillah lagi…, salah seorang temanku ternyata mengetahui jalur transportasi yang lebih “hemat” untuk sampai ke pelabuhan. Alhamdulillah… Kali ini Engkau menolongku lagi ya Rabb…
***
Sesampainya di pelabuhan… kami langsung singgah di sebuah masjid yang cukup megah… menunaikan persuaan dengan Sang Rabbul izzati. Nikmat rasanya…
Tampaknya kapal yang akan kutumpangi belum tiba. Beberapa lembar mushaf telah kusabet. Alhamdulillah teman-temanku masih setia menunggu bersamaku… Entah bagaimana kalau tak ada mereka. Sungguh Allah maha pemurah… Sesekali kami ngobrol dan tertawa bersama… cukup menghilangkan kebosananku menunggu. Tapi… tampaknya aku akan mengalami kesulitan dengan barang-barang bawaanku… Ini adalah keberangkatan ke-tiga-ku mudik seorang diri (soalnya belum punya mahram yang siap antar jemput…). Namun biasanya sih… setiba di kapal aku langsung punya banyak kenalan mulai dari ABK, teman sesama mahasiswa Makassar yang tiba-tiba bertemu, sampai ibu-ibu yang awalnya simpatik dan ngobrol denganku. Pada akhirnya aku tak pernah kesepian sendiri di kapal. Apalagi biasanya yang memenuhi ranselku adalah buku-buku dan majalah. Ditambah lagi mushaf imut yang setia menemaniku… insyaAllah membuat hatiku terasa tenang.
Mataku berkeliaran mencari buruh yang agak “tua” untuk mengangkatkan bawaanku. Beberapa saat kemudian… seorang kakek dengan dialek Bugisnya yang kental tiba-tiba menyapaku ramah, “ Mau kemana ki, Nak?”.
“Mau ke Balikpapan, Pak!” jawabku membalas keramahannya.
“ Naik kapal Tidar ki?” tanyanya lagi.
“Iye, Pak!” jawabku.
“Oh… sama ki, sini-sini… sama ki.” Ajaknya.
Wah… rasanya hati ini semakin berdzikir atas kebesaran Allah. Allahu akbar… pertolonganNya datang lagi… Berkuranglah lagi pengeluaranku untuk meminjam jasa buruh. Sekali lagi, alhamdulillah….
Teman-temanku mengajak kakek itu mengobrol cukup banyak. Setelah yakin bahwa aku bersama seorang kakek yang baik hati, mereka pun pamit padaku untuk kembali ke asrama tercinta. Namun… cukup lama aku dan para calon penumpang lain menunggu KM Tidar. Kapal yang menurut jadwal berangkat pukul 20.00 ternyata molor hingga 3 jam. Alhamdulillah masjid tidak terlalu jauh, jadi aku masih sempat sekali lagi menikmati shalat isya di Makassar.
Dua jam lebih menunggu cukup melelahkan. Kuisi waktuku dengan menyabet habis buku yang baru kubeli 5 hari yang lalu tapi belum sempat kubaca. Buku Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah lumayan membuatku tak begitu menghiraukan lamanya penantian. Sesekali bibirku menyunggingkan senyum-senyum sendiri menbaca isinya… Sesekali kuajak kakek tua tadi berbincang-bincang tentang asal usul dan keluarganya. Ternyata tempat tujuannya adalah Tarakan. Di sana anak-anaknya beranak pinak dan menetap. Tak lama kemudian… seorang nenek mendekatiku dan mengajakku berbicara. Kali ini senyuman tanda simpatik selalu menempel di wajahku karena nenek itu begitu giat melemparkan pertanyaan tentang asal usul dan tujuan keberangkatanku… Ternyata sang nenek ingin menitipkan cucunya yang baru pertama kali ke Kalimantan padaku. Dengan senang hati aku menerimanya. Apalagi gadis itu baik dan ramah… bisa jadi teman seperjuanganku di kapal nanti. Kata ‘alhamdulillah’ sekali lagi berkumandang di sanubariku…
Akhirnya… penantian kami pun berakhir, kapal KM Tidar telah tiba dan selang beberapa menit, siap untuk dimasuki para penumpang. Tapi tantangan tak kunjung berakhir jua… Ternyata ada sekitar 1700 penumpang yang berdesakan memasuki kapal…!?
Alhamdulillah, gadis yang bersamaku ternyata tidak memiliki bawaan yang banyak sehingga dia justru membantuku… begitu pula dengan kakek tadi… Mereka benar-benar orang-orang yang Allah kirimkan untuk membantuku. Alhamdulillah…
Di sepanjang perjalananku menaiki tangga, alhamdulillah banyak polisi dan petugas yang membantuku agar tidak terlalu berdesakan. Yah… mungkin mereka iba melihatku dengan tubuh sekecil ini membopong ransel besar yang terisi penuh… (he..he..he..). Yang jelas, itulah pertolongan dari Allah. Alhamdulillah…!!!
Sesampainya di atas kapal, ternyata tempat yang tersedia tidak signifikan dengan jumlah penumpang yang naik. Namun, sekali lagi… alhamdulillah… Allah menolongku dengan adanya kakek tadi. Ia-lah yang mencarikanku tempat, mengambilkan kasur, dan memberikan makanan yang dibawanya. Bahkan ia mengaku pada orang-orang bahwa aku adalah cucunya. Pekerjaanku menjadi jauh lebih ringan. Alhamdulillah… Allahu akbar… sungguh banyak pertolonganMu ya Rabb…
***
Ya Rabb… segala kenikmatan yang engkau berikan pada hamba hari ini semakin membuatku malu sempat bersu’udzan padaMu… Sungguh Engkau Maha Pengasih dan Maha Pemurah…
“Kalaupun seluruh pohon yang ada di atas muka bumi ini dijadikan sebagai pena… dan seluruh air laut dijadikan sebagai tintanya… niscaya tidak akan pernah sanggup kita untuk menuliskan seluruh kenikmatan yang Allah berikan…”
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan…? (QS. Ar-Rahman:60-61)
***
Peristiwa hari ini semakin meneguhkan keyakikanku bahwa “Ketika kita menolong di jalan Allah, maka Allah akan memberikan rezeki dan menolong kita dari arah yang tidak disangka-sangka…” Semakin kuatlah azzamku untuk menapaki jalan da’wah ini… meskipun kutahu… jalan ini bukanlah sebuah jalan yang mulus… namun penuh onak dan duri… Menjadi seorang mujahidah menerus risalah para nabi dan Rasul… Menjadi seorang Perindu Syurga… Tancapkanlah keistiqomahan di hatiku ya Rabb…
(Wallahu a’lam bishowaab)

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner