Kamis, 30 Oktober 2008

ANTI-VIRUS ASHOBIYAH



Miris sekaligus bangga terbesit di hati ketika diri baru terbangun dari tidur dan sesaat menyadari akan realitas yang terjadi bagi perkembangan da’wah dalam komunitas kita hari ini, sebut saja Komunitas Mahasiswa.

Bagaimana tidak, teman? Bangga itu tumbuh karena ternyata kuncup-kuncup mawar da’wah mulai mekar di hamparan padang yang sebelumnya terasa gersang dan iklim yang begitu menyesakkan karena tak ‘setetes embun penyejuk ruhiyah’ pun yang menghampiri benih-benih pemburu ilmu di kampus tercinta. Bahkan sebelumnya, pun akar-akar rumput yang meyakini adanya sumber pencerah dahaga di bawahnya tidak mampu menjangkau mata air-mata air yang terlalu jauh tersembunyi di balik lapisan-lapisan tanah yang teramat dalam. Senyum bangga di bibir ini mulai merekah teman…, ketika sang indera penglihatan menyaksikan bahwa para pejuang ilahi yang baru saja lahir dari rahim peradaban ini mulai mampu merangkak meski dengan tertatih-tatih. Mujahid-mujahid muda dengan ghirah yang dihimpunnya mencoba merekonstruksi sebuah bangunan legalitas da’wah yang dahulu pernah runtuh.

Secara kasat mata, geliat pergerakan da’wah mulai menunjukkan indikasi kebangkitannya. Sebagai bukti bahwa ternyata eksistensi muslimah dengan pakaian pelindungnya (red : jilbab) telah dianggap biasa oleh setiap pandangan mata di komunitas kita, bahkan ada anggapan luar biasa bagi sesosok akhwat yang mampu memunculkan powernya. Kata-kata ‘tarbiyah’ tidak lagi menjadi asing di pendengaran teman-teman mahasiswa. Ditambah lagi dengan mencuatnya berbagai jenis bulletin da’wah yang mulai menjamur dan menjadi bahan bacaan yang banyak dikonsumsi di mana-mana.

Namun sangat dilematis, teman…,

Bahwa sisi lain realitas hari ini juga menunjukkan sebuah kondisi yang cukup menyita air mata lewat tangisan kecil dalam dada ini. Sebuah kondisi dimana muncul ‘virus’ berbahaya yang boleh jadi sedang menjangkiti bagian paling urgen dari pribadi-pribadi kita saai ini yaitu hati.

Virus apakah itu…?? Dialah ‘ashobiyah’. Mungkin kita pernah mendengarnya, atau mungkin sudah sangat akrab menggelayut di telinga kita. Tetapi teramat disayangkan, kendati telah dimaknai padanan katanya dalam bahasa Indonesia, virus yang satu ini kerap kali transit di pelabuhan hati ketika seseorang telah memberanikan diri berlabuh dalam lautan da’wah. Tidak jarang pula virus tersebut mampu menggerayang tanpa disadari keberadaannya sehingga menghegemoni pola pikir dari aktivitas inangnya.

Virus ini secara istilah dikenal dengan fanatisme sempit. Lebih dalam lagi, ini diartikan sebagai perasaan bangga dan cinta yang berlebihan terhadap komunitas tertentu (red : jama’ah). Virus ini dikatakan berbahaya disebabkan efek kerjanya yang sanggup membelokkan pancaran ketulusan sebuah niat (red : ikhlas) hingga menjadi tabir penghalang keridhaan Allah SWT.

Pada pengidap virus ini kerap muncul gejala “mengklaim dirinya paling benar”, bahkan tidak jarang mengeluarkan statement ‘pengkafiran’ terhadap jama’ah lain. Dalam aktivitas da’wahnya, pengidap sering meremehkan ikhwa dari harakah lain. Perasaannya tidak pernah senang ketika ikhwa dari manhaj yang berbeda melakukan sebuah terobosan da’wah, bahkan ia akan senantiasa berpikir bahwa harakahnya dihalangi.

Padahal teman…, jikalau kita mengingat sebait hadits Rasulullah SAW, niscaya virus itu tak akan sempat untuk sekadar mampir di benak kita. Hadits itu berbunyi : “Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun hanya sebesar biji sawi”. Siapakah orang yang sombong itu?? Dialah orang yang tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan orang lain.

Memang…, sebagai aktivis muda acap kali lupa bahwa kita saudara seakidah. Sering kali kita dibenturkan oleh perbedaan fikrah yang sesungguhnya merupakan masalah furu’ dan akan sangat menyita waktu dan energi ketika diperdebatkan. Lupakah kita bahwa harakiyah hanya sebuah kendaraan (sarana), bukan tujuan akhir? Lupakah kita bahwa ada musuh bersama di luar sana yang sedang mencabik-cabik harga diri umat Islam? Sadarkah kita bahwa virus itu hanya akan memperlambat pencapaian tujuan mulia bersama yaitu menjadikan islam sebagai ‘Guru Dunia’?

Jika pada detik ini teman…, mata kita telah terbuka, saudaramu ini ingin menawarkan sebuah antivirus yang diberi nama ‘antivirus ashobiyah’. Antivirus ini lebih relevan disebut manajemen qolbu (meminjam istilah Aa Gym). Namun mekanisme kerja dari antivirus ini lebih spesifik yaitu berupa suatu terapi yang dikenal dengan belajar menghargai. Sebuah istilah yang sangat sederhana namun amat berat dalam tataran teknis pelaksanaannya.

Antivirus ini sangat efektif sebab mampu meng-counter su-udzon- su’udzon terhadap ikhwa lain serta dapat membuat hati selalu bersih sehingga pancaran putih keridhaan Allah mampu menembus relung hati kita dan mampu menjadi penopang utama keberhasilan amanah da’wah yang kita emban.

Dengan belajar menghargai berarti kita sedang menjalani proses pendewasaan dalam berpikir karena kedewasaan berpikir adalah ketika kita mampu memilih dan mampu menghargai pilihan orang lain. Kedewasaan berpikir merupakan sayap yang bila difasilitasi dengan pundi-pundi ruhiyah yang ter-charge penuh akan mengantarkan kita ke sebuah puncak kejayaan Islam yang kita idam-idamkan bersama dan merupakan sebuah keniscayaan karena Allah Maha Menepati janji.

Semoga bermanfaat, teman….(mitha_farma)

Wallahu a’lam bishowaab.

If u want to comment my opinion please reply me at

mitha_farma@kammi.or.id

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner