Kamis, 30 Oktober 2008

Are You The Answer ?

Saya berambisi ingin menyampaikan dakwah ini kepada bayi yang masih berada di perut ibunya”

(Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna)

***

Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna menyadari sepenuhnya bahwa peran kaum wanita dalam perjuangan Islam sangat penting dan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam proses pembentukan kader. Sebab pilar-pilar asasi dakwahnya adalah :

  1. Pembentukan individu muslim

  2. Pembentukan keluarga muslim

  3. Pembentukan masyarakat muslim

  4. Dari masyarakat muslim tersebut akan muncul pemerintahan Islam

Pada Ramadhan 1248 H, pada malam 17, diilhami oleh semangat perang Badar terbesar, diresmikanlah mesjid pertama IM di Isma’iliyah. Kemudian disusul pembangunan sekolah di atas masjid tersebut yang diberi nama ”Ma’had Hira’ Al-Islami”. Setelah aktivitas di ma’had telah lancar dan stabil, dibangunlah sekolah khusus untuk putri yang diberi nama Madrasah Ummahatul Mukminin.

Sekolah khusus putri tersebut dibangun di atas manhaj modern yang Islami, yang memadukan antara adab Islam serta petunjuknya yang luhur bagi para pemudi, para istri dan para ibu, dengan kebutuhan-kebutuhan dan tuntutan-tuntutan masa, berupa ilmu-ilmu teoritis serta ilmu-ilmu terapan.

Sekolah ini dapat mengemban misinya dengan baik. Karena itu, diteruskan dengan pendirian Divisi Akhawat yang terdiri dari para istri anggota IM, putri-putri mereka, kerabat-kerabat mereka dan kaum wanita yang simpatik dengan IM. Yang menjadi pengajar pada divisi tersebut adalah para guru wanita yang mengajar di madrasah Ummahatul Mukminin. Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna saat itu menyebut divisi tersebut dengan nama Firqatul Akhawatil Muslimat.

***

”Wanita adalah tiang negara, bila ia rusak maka runtuhlah negara”. Itulah kata hikmah yang sering kita dengar dan kita baca.

Tak dapat dipungkiri bahwa penentu utama setengah kehidupan sebuah bangsa adalah wanita. Sebab wanita adalah madrasah perdana yang akan membentuk dan memformat generasi. Pola seperti apa yang diterima oleh seorang anak maka itulah yang akan menentukan perjalanan suatu bangsa. Bahkan lebih dari itu, wanita adalah orang pertama yang memberikan kontribusi dalam kehidupan pemuda dan bangsa. Namun sangat disayangkan bahwa upaya untuk mengangkat harkat dan martabat serta mengembangkan potensi wanita sangat sedikit. Bahkan yang sedikit itu terkadang tidak tertata rapi sehingga tidak mampu mencapai apa yang dicita-citakan.

Kaum wanita saat ini terjebak dalam dua sikap yang sama-sama tidak sejalan dengan fitrahnya :

  • Di satu sisi kaum wanita merasa tidak mempunyai eksistensi dan keberdayaan, ia tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki hak. Ia hanya menunggu perintah dan menerima perlakuan yang tidak manusiawi. Padahal Islam telah menggariskan bahwa kaum wanita memiliki kedudukan yang mulia dan eksistensinya diakui.

Saat perjanjian Hudaibiyah ditandatangani oleh Rasulullah saw, para sahabat protes karena menurut anggapan mereka perjanjian itu merugikan dan menghinakan kaum muslimin. Protes sahabat itu ditampakkan dalam bentuk keengganan mereka melaksanakan perintah Rasulullah untuk menyembelih binatang hadyu dan mencukur rambut. Melihat sikap sahabat seperti itu Rasulullah sedih dan masuk kemah. Ketika Ummu Salamah (istri Rasulullah saw) mengetahui kondisi seperti itu, ia menyarankan agar Rasulullah saw keluar dari kemah lalu menyembelih binatang hadyu lalu mencukur rambut, tanpa berbicara kepada siapa pun. Rasulullah saw pun melaksanakan usulan tersebut, dan selesailah masalah. Demikianlah Islam menempatkan kaum wanita dan menghargai kaum wanita.

  • Di sisi lain, kaum wanita terlalu bersemangat untuk memberontak dari kodratnya sebagi wanita dan berupaya sekuat tenaga untuk bersaing dengan kaum laki-laki. Ia mengejar bayang-bayang semu yang dijanjikan oleh para penyeru ’emansipasi wanita’, feminisme, dan sejenisnya. Akhirnya kerusakan ada di mana-mana, generasi terlantar dan tatanan rumah tangga berantakan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa iblis duduk di istananya di atas air lalu mengundang seluruh prajuritnya untuk dimintai laporan. Salah satu prajurit itu mendekat, lalu melapirkan hasil kerjanya. ”Saya telah berhasil memisahkan seorang wanita dari suaminya.” Maka iblis turun dari singgasananya lalu memeluknya dan mengatakan, bagus-bagus.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

Bagaimana keadaan kalian, bila kaum wanita kalian melampaui batas dan pemuda kalian rusak?”

Hadits-hadits tersebut menggambarkan bahwa musuh Islam selalu mengupayakan agar kaum wanita rusak dan meninggalkan perannya. Sebab keluarga tidak akan terwujud tanpa wanita. Bila wanita rusak maka rusaklah rumah tangga dan bila rumah tangga rusak maka rusaklah generasi, kemudian runtuhlah negara.

Oleh karena itu, harus ada upaya untuk menyadarkan wanita secara serius, rapi dan berkesinambungan. Upaya ini akan lebih efektif jika diusahakan oleh kaum wanita itu sendiri. Lalu bagaimana membentuk sebuah gerakan wanita bermanhaj Qur’ani untuk melahirkan generasi emas yang tertata rapi di masa kini? Semoga BKM (Bidang Kemuslimahan) KAMMI mampu menjawabnya... Atau mungkin BKM-lah jawabannya?!

(Wallahu a’lam)


Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner