Kamis, 30 Oktober 2008

Ayo Muslimah..., BERSIAP SIAGALAH !!!



Rapatkanlah langkah ini jalan ilahi…
Jangan ragu lagi janji syurganya pasti…
Kobarkanlah api peperangan suci…
Yakin kemenangan janjikan bidadari…

Bangkitlah segera wahai pemuda…
Jangan terlalaikan oleh buai dunia…
Disana ada negeri Islam terluka…
adarkan jiwamu untuk membela…
Siapkan diri rangkul senjata…
Panjatkan doamu ‘tuk citakan syurga…
Pekikkan takbir sampai napas terakhir…
Kejayaan di tangan kita!!!
(Citra Pemuda – Shoutul Harakah)

***

Akhir-akhir ini di rapat sebuah wajihah, selalu dibahas tentang amanah ana di sebuah struktur… Pasalnya, karena ana telah berada di jajaran “artis” wajihah tersebut…

Bahasa halusnya, mereka meminta ana untuk mengurangi bahkan tidak usah terlibat lagi di amanah-amanah yang berhubungan dengan pengamanan dan segala proses ke-SIAP SIAGA-annya…

Enak saja melarang ana !!!

Maaf…
kalau amanah yang satu itu… sangat tidak bisa ana tinggalkan, Teman…

Kecuali memang sedang ditempatkan di posisi lain oleh struktur tersebut…
Inilah bentuk ikhtiar SIAP SIAGA kami…

Bagi kami, amanah itu sudah menjadi ruh perjuangan kami…
Bagi kami, amanah itu adalah amanah seumur hidup kami…
Bagi kami, amanah itu adalah penguat di jalan ini…

***

Rasa sensitive itu muncul lagi…

Entah mengapa, ana kerap merasa begitu geram ketika ada ikhwan maupun akhwat yang meremehkan kerja-kerja “pengamanan”…

Banyak orang tidak tahu bahkan mungkin tidak ingin tahu bagaimana beratnya dan seberapa pentingnya tim pengamanan… yang mungkin tak se-elite pekerjaan lainnya…

Namun ternyata rasa itu bukan hanya ana yang memilikinya… Sensitivitas itu juga muncul pada beberapa akhwat yang sempat ana ajak sharing… Dan setelah kami pikir, mungkin kesamaan rasa itu muncul karena kami sama-sama akhwat Santika… (mungkin……)

Kesimpulan kami adalah “Ternyata hanya orang-orang pengamanan yang mengerti ruh dan urgensi pengamanan itu!”

***

Kalau saja ana disuruh memilih dalam sebuah kepanitiaan, apakah ingin menjadi anggota divisi acara ataukah divisi pengamanan, maka dengan senang hati ana akan lebih memilih untuk berada di divisi pengamanan!!!

Jujur saja, orang-orang pengamanan memiliki nilai “plus” di mata ana…
Entahlah…
Sejak dulu…
Ana selalu salut dengan kerja-kerja ikhlas mereka…

***

Dalam berbagai kepanitiaan, seksi keamanan hanya dianggap sebagai pelengkap… atau lebih sering difungsikan sebagai pembantu umum… Bahkan tidak jarang beralih fungsi menjadi tukang angkat-angkat barang, tukang panjat dinding atau pohon (memangnya spiderman??), atau kadang jadi tukang parkir… (n”n).

Sebenarnya bagi mereka itu mungkin tidak masalah…
Bahkan, yakinlah… mereka tidak akan mengeluh dengan kerja-kerja tersebut…
Sebab selain menjadi tambahan skill, juga memberikan begitu banyak nilai-nilai tarbiyah bagi mereka…

Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya nilai keikhlasan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya nilai kesabaran…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya rasa pengorbanan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kejujuran…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya ketaatan pada pimpinan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya ketajaman analisa…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kegesitan dalam bertindak…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya daya tahan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya menjaga kerahasiaan…
Mereka dilatih dan diajarkan tentang sebenar-benarnya kemampuan mengelola kekuatan…

Ketika pun mereka ditempatkan di sebuah sudut ruangan yang mungkin tak seorang pun menghiraukan keberadaan mereka…
Ketika pun mereka berdiri seharian penuh kecuali saat seruan shalat memanggil…
Ketika pun mereka bercucuran keringat dan warna kulit semakin gelap…
Ketika pun terkadang harus menghadapi protes, keluhan, bahkan cibiran orang-orang yang diamankan…
Ketika pun terkadang harus mendapat iqob yang cukup berat bagi sebagian orang…
Ketika pun…
Ah… mereka lebih tahu…
Namun tetap saja mereka berusaha untuk ikhlas…

***

Tentang amanah yang satu ini, sekali lagi ana mohon afwan…, ana tidak bisa melepaskannya…
Tidak perlu khawatir secara berlebihan, Teman…
Orang-orang pengamanan yang juga telah menjadi artis-artis di wajihah antum adalah orang-orang yang cukup cerdas…
InsyaAllah mereka mampu berperan secara proporsional…
Asalkan jangan menyuruh mereka untuk melepaskan “ruh” pengamanannya…
Sebab boleh jadi justru dunia “ke-artis-an” di wajihah antum yang akan mereka lepaskan… ^_^

***

Dalam film kartun yang berjudul “Avatar” dengan pemeran utama bernama Eng, ada sebuah kisah menarik. Suatu ketika Eng dan para sahabatnya Katara dan Saka tiba di sebuah desa yang terdapat banyak ksatria wanita. Awalnya, Saka sangat meremehkan satu ketangguhan gadis-gadis tersebut. Namun belakangan setelah Saka berhasil dikalahkan oleh satu diantara gadis itu, perlakuan Saka berubah dengan memperlakukan gadis tersebut seperti layaknya ksatria pria…

Sebenarnya gadis tersebut juga tidak begitu suka atas perubahan sikap Saka tersebut… hingga suatu ketika Saka meminta maaf pada gadis tersebut atas sikapnya yang memperlakukan gadis ksatria tersebut sama halnya terhadap ksatria pria…
Yang membuat ana terkesan adalah jawaban gadis tersebut… Ia mengatakan,
“Kau tak perlu meminta maaf… Sebab aku memang ksatria… Tapi aku juga wanita…” ^_^

***

Sebenarnya sejak lama ana bermimpi…
Kalau saja semua akhwat mengetahui dan menyadari konsep SIAP SIAGA…
Pastilah semua akhwat akan menjadi anggota regu Santika seperti kami…
Kalau saja…

Betapa inginnya ana agar smua akhwat merasakan ruh seperti yang kami rasakan…
Hingga tak ada lagi akhwat yang terlalu lemah, manja dan begitu mudah putus asa…

Sebab para sahabiyah pun adalah muslimah-muslimah tangguh…
Tak satu pun meragukan kafa’ah ke-Islaman mereka…
Namun mereka juga tak diragukan lagi ke-paham-annya akan konsep SIAP SIAGA…
Bahkan Aisyah-istri Rasulullah-yang katanya manja pun…
Bukan hanya seorang muslimah yang parasnya indah…
Bukan hanya seorang muslimah yang cerdas …
Melainkan juga seorang orator dan muslimah yang tangguh…

***

Bukankah al-fahm tentang SIAP SIAGA harusnya terinternalisasi pada semua kader dakwah… Terlepas ia ikhwan atau pun akhwat… Di posisi mana pun ia ditempatkan… Apakan di posisi sebagai seorang anggota dewan, seorang negosiator, seorang yang selalu berada di depan computer, bahkan seorang ibu rumah tangga tulen sekali pun…

Bukankah SIAP SIAGA harusnya diterjemahkan ke dalam semua lini kehidupan kita…
Baik menyangkut SIAP SIAGA dalam hal “perencanaan” dan “manajerial” untuk sebuah tujuan besar, maupun SIAP SIAGA dalam hal penjagaan potensi jasadiyah untuk tugas-tugas besar lainnya…
Yang semua hal tersebut harus diterapkan secara bersamaan, seimbang dan kontinyu…

***

Ana teringat dengan kata-kata seorang akhwat…
Katanya, “Muslimah itu harus bisa mandiri!!!”
Ya…, ana sepakat.

Mungkin hari ini para muslimah masih bisa tenang-tenang saja tanpa ada usaha berarti dalam hal self-defense misalnya… Sebab tuntutan dakwah kita hari ini mungkin belum seberat saudara-saudara kita di negeri Islam lainnya…

Namun bagaimana jika ternyata esok kita telah memasuki mihwar dakwah yang lebih tinggi, dimana para suami harus diamahkan untuk tugas dakwah yang semakin berat yang mengharuskan mereka tak berada di rumah… Dan usaha-usaha musuh-musuh Islam semakin nyata untuk menghancurkan dakwah ini, yang mungkin bukan hanya dengan tekanan psikologis melainkan juga tidak segan-segan lagi menggunakan tekanan fisik di rumah-rumah muslim, sedang yang ada di rumah-rumah tersebut hanyalah para muslimah…

Lantas apakah kita harus menunggu sampai bencana itu tiba di hadapan kita baru kemudian para muslimah tersadar???
Sebab itulah SIAP SIAGA menjadi sebuah keharusan…
Sebagai muslimah yang cerdas, SIAP SIAGA bukan berarti meninggalkan tugas-tugas asasi mereka…
Melainkan sebuah proses persiapan yang tentunya dilakukan secara tawazun…

Dalam konteks kekinian, dimana kita bersiap-siap untuk berpindah mihwar, kerja-kerja besar semakin menanti…
Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi???
Kalau bukan sekarang, kapan lagi???
Ayo Muslimah… Ber-SIAP SIAGA-lah !!!

Wahai mujahid…
Ayo bangkitlah…
Maju serentak…
Gagah perkasa…
Kumandangkan suara kebenaran…
Tegakkan keadilan…
(Wahai Mujahid – Shoutul Harakah)

***
Bangkitlah… Mujahid bangkitlah…
Rapatkan… barisan rapatkan…
Ayunkanlah langkah perjuangan..
Mati syahid atau hidup mulia…

Siapkan… dirimu siapkan…
Gentarkan musuhmu gentarkan…
Tak kan pernah usai pertarungan…
Hingga ajal kan menjelang…
Enyahkan rasa takut dan gentar…
Walau raga kan meregang nyawa…
Karna Allah tlah janjikan syurga…
Untukmu mujahid setia…
(Mars Kepanduan – Shoutul HArakah)

1 komentar:

farhatkhan mengatakan...

nice blog sist...keep on bloging, ayo dunk di update terus blognya... :-)

Template Design by SkinCorner