Kamis, 30 Oktober 2008

JILBAB UKHTY


Tulisan ini berangkat dari sepercik sadar ketika mengingat perkataan kekasih Allah, Rasulullah SAW bahwa “ Tak dikatakan beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Tulisan ini kurangkai atas dasar cinta yang teramat mendalam untuk ukhtifillah (red: saudari karena Allah), terkhusus di Farmasi.

Saudariku yang kucintai karena Allah…,

Kata-kata ‘jilbab’ jelas sudah tidak asing lagi di pendengaran kita, bahkan boleh jadi saat ini sesuatu yang namanya jilbab sedang bergelantungan di atas kepala ukhti sambil menutupi mahkota (red:rambut) ukhti. (Bagi yang punya rambut).

Kita semua juga tahu bahwa saat ini jilbab sudah menjadi trend di mana-mana. Dari penjual sayur sampai artis ngetop pada latah (red:ikut-ikutan), tak mau ketinggalan trend, apatah lagi di bulan Ramadhan. Dan ternyata di Farmasi pun tidak ketinggalan trend (semoga ukhti pake’ jilbab bukan karena latah). Buktinya ketika kita melangkahkan kaki di sepanjang area Farmasi sungguh akan tampak bahwa ternyata jilbab ada di mana-mana.(tapi bukan jemuran atau toko jilbab lho ya…)

Namun permasalahannya sekarang ukhtifillah… masih banyak di antara kita yang belum paham esensi jilbab yang sebenarnya… Apakah hanya sekedar trend?? Sekedar membungkus?? Atau hanya sekedar untuk menutupi kekurangan diri?? (misalnya nggak ada rambut…dll).

Seharusnya ukhti bangga sebagai seorang muslimah. Mengapa penulis berkata demikian? Coba ukhti bayangkan… Zaman tempo doloe,nggak laki-laki nggak perempuan semuanya nggak pake pakaian (hanya ditutupi seadanya). Betapa malangnya nasib makhluk yang bernama perempuan karena keindahannya dapat dinikmati oleh siapa saja lewat syahwat matanya (naudzubillah). Tapi setelah Islam hadir… derajat perempuan begitu dihargai. Apalagi dengan turunnya ayat tentang ‘kewajiban menutup aurat’, keindahan wanita semakin terjaga karena tidak sembarang orang bisa menikmati lekuk tubuhnya.

Ukhtifillah…,

Coba sebutkan sesuatu yang paling berharga bagi ukhti di dunia ini. (sebutnya dalam hati ajha…). Bagaimana jika ukhti punya permata yang harganya milyaran dolar (soalnya rupiah lagi anjlok)?? Bagaimana cara ukhti menjaganya?? Apakah ukhti akan mempertontonkannya di jalan-jalan (biar lekas dirampok gitchu…) atau disimpan dalam lemari besi yang tertutup rapat dan terjaga dengan aman?? Ini adalah sebuah analogi yang perlu kita renungkan bersama. Seperti itulah Islam menjaga dan menghormati seorang perempuan sehingga sosok berharga yang bernama muslimah itu tak seharusnya dipertontonkan auratnya, yaitu dengan mengenakan jilbab. Jadi, berbanggalah karena ukhti seorang muslimah.

By the way…, ntar dulu… apakah pemahaman jilbab itu hanya sekedar di situ?? Jelas tidak. Justru inti permasalahan muslimah sekarang bukan pada tataran ‘mengenakan jilbab atau tidak’ melainkan lebih pada tataran teknis (cara). Banyak diantara kita yang ternyata pake’ jilbabnya masih belum bener… (iya nggak??) Mau bukti….?? Kita ambil contoh, ada (bahkan banyak) muslimah yang pake’ jilbab bunuh diri (jilbab nyekik leher). Trus ada juga yang ikut-ikutan mode yang sebenarnya boleh jadi itu termasuk gozwul fikr (perang yang dilancarkan orang-orang yang ingin merusak generasi Islam dan mengaburkan akidah Islam kita). Contohnya apa ?? Yah banyak…misalnya jilbabnya dimodelin macem-macem sampai-sampai jarum pentul ada di mana-mana…(awas lho kepalanya ketusuk…). Sebenernya sih ikut mode nggak masalah tapi jangan sampai menghilangkan tujuan jilbab itu yang sebenarnya. Bahwa jilbab itu bukan untuk membungkus tubuh melainkan menutupi aurat muslimah, termasuk ‘lekuk tubuh’ dan ‘dada’ ukhti…(nah lo). Ada juga yang sukanya pake’ yang transparan-transparan sehingga lekuk tubuh dan jenis rambutnya tampak menerawang dari luar, atau terkadang kepala ditutup but lengan baju sampai di siku, berpakaian ketat bahkan menyerupai laki-laki, dsb.

Saudariku…,

Entah apakah kita benar-benar tidak tahu ataukah kita berpura-pura tidak tahu akan hal-hal yang penulis sebutkan di atas, semua berpulang pada diri kita masing-masing. Allah telah mencatat dan mengetahui dengan baik melalui para malaikatnya, dimana tak ada satu perbuatan pun yang luput dari pencatatan mereka, bahkan sebuah niat yang sempat terbesit di hati kita pun Allah mengetahuinya. Jika kita memang benar-benar tidak tahu…maka belajarlah pada yang lebih mengetahui karena belajar tak pernah mengenal usia, dan janganlah melihat sebuah pelajaran/ilmu dari orang yang memberinya tapi lihatlah dari apa yang diberinya.

Saudariku yang kucintai karena Allah…,

“Orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa memperbaiki dirinya dan mempersiapkan kehidupannya setelah mati” . Sungguh sangat merugi oramg-orang yang melalaikan waktunya dengan berhura-hura tanpa usaha perbaikan sedikitpun. Padahal tak seorangpun yang berani menjamin apakah esok ia masih dapat bernapas dan merasakan detak jantungnya. Bahkan kita tidak pernah tahu bahwa malaikat maut mungkin saja sedang berada di belakang kita bersiap-siap untuk menarik ruh dari jasad kita. Yah…, kematian memang sebuah keniscayaan, tapi persoalannya adalah apakah kita sudah siap dengan perbekalan untuk akhirat kita ?? (bukan bekal makanan lho …). Apakah kita telah siap ketika menghadap Allah nantinya dan ditanya sudah berbuat apa saja selama umur yang Allah berikan?? Amalan unggulan apa yang bisa kita lakukan ?? Apakah kita telah siap??

Saudariku yang kucintai karena Allah…,

Sebuah ilmu/ pengetahuan bukan untuk disimpan melainkan untuk segera diamalkan. Sebab, ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa daun, takkan bernilai apa-apa. Jangan pernah menunda suatu perbuatan yang baik sekecil apapun karena itu merupakan investasi amal kita dan Allah sangat mencintai orang-orang yang senantiasa memperbaiki diri. (Wallahu a’lam bishowaab)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

ukhtifillah rahimakumullah...
coba ukhti buka Kitabullah surah Al-Ahzab: 59
dan An-Nur: 3

mungkin akan memberikan pemahaman apa sebenarnya JiLBAB menurut Islam..

Template Design by SkinCorner