Kamis, 30 Oktober 2008

Kakak Suka Demo Ya ???


28 Maret 2007

Lantunan adzan sore tadi begitu indah...

Mampu menggetarkan setiap hati para mu’min yang mendengarnya…

Semakin diresapi maknanya, semakin nikmat terasa…

Allah Maha Besar…

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah…

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah…

Marilah shalat…

Marilah menuju KEMENANGAN…

Allah Maha Besar...

Tiada tuhan selain Allah...

Detak jantung tiba-tiba berdebar kencang…

Sebab sesaat lagi akan menunaikan perjumpaan dengan-Nya…

Rasa bahagia akan terbayarkannya rasa rindu ’tuk bersua dengan-Nya dan rasa malu saat mengingat maksiat selama sehari tadi yang tak terhitung jumlahnya… silih berganti hadir dalam dada…

Laa haula walaa quwwata illabillah...

***

Seperti biasa, Rabu sore adalah jadwal tatsqif rutin di Mesjid Medik FK Unhas. Pada waktu yang sama, para ikhwah juga melaksanakan tatsqif di Teknik, Agro, dan wilayah lainnya. Namun akhwat-akhwat Farmasi lebih suka mengikuti jadwal tatsqif di Mesjid Medik sebab lebih teratur jadwal materinya.

Seusai menunaikan shalat ashar berjama’ah di mesjid yang cukup besar itu, seperti biasa pula lantunan tilawah Qur’an menghiasi setiap lisan para ikhwan dan akhwat... Saat-saat seperti itulah para aktivis da’wah dengan khusyuknya men-charge ruhiyah mereka... setelah seharian menghabiskan waktunya dengan rutinitas akademik dan rapat demi rapat yang cukup mampu merubah hati menjadi kesat...

Sembari menunggu pemateri yang belum hadir, di sudut dekat pintu, beberapa akhwat tampak sedang berdiskusi... Adik-adik ana dari MIPA rupanya. Ana pun datang menghampiri sebab beberapa hari ini sudah sangat jarang bertemu mereka... Ana pun mengambil posisi di dekat mereka. Dan seperti biasa pula, sambutan hangat berupa salam, jabat tangan, pelukan erat, dan senyuman cerah mereka tujukan kepada ana. (lagi-lagi ana mengatakan ’seperti biasa’... karena memang seperti itulah kultur yang terbangun pada teman-teman di KAMMI... yang bukan sekadar basa-basi ).

***

Ana mencoba meraba inti diskusi mereka... Rupanya mereka sedang berusaha menjelaskan kepada seorang ’adik baru’ yang cukup aktif dalam tarbiyah Islam dan rajin mengikuti kegiatan ta’lim, namun masih sangat belum bisa menerima untuk diajak bergabung dalam aksi (demonstrasi), yang juga terkait dengan Aksi yang akan diadakan besok dalam rangkaian Milad KAMMI... Situasi itu seolah menggelitik ana... hingga teringat ketika masih maba dulu, ana begitu ingin mendapatkan penjelasan... mengapa kita harus turun ke jalan untuk berdemonstrasi... Rupanya tak tanggung-tanggung, beberapa akhwat senior waktu itu mengelilingi ana seolah siap membantai untuk meyakinkan ana akan urgensi melakukan aksi turun ke jalan... hingga akhirnya ana puas dengan penjelasan mereka dan sejak itu ana selalu berusaha untuk tidak ketinggalan dalam setiap aksi.

***

Mimik wajah si ’adik baru’ tampak masih belum bisa menerima penjelasan adik-adik MIPA lainnya yang dengan semangat ’45 mencoba meyakinkan dan membagi ghirah mereka pada si adik baru. Tiba-tiba... wajah mereka mengarah ke ana, seolah meminta bantuan penjelasan... Si adik baru pun menatap ana dengan tajam..., dan tiba-tiba bertanya, ”Kakak, suka demo ya??”. Spontan ana menatapnya balik sambil mengangkat kedua alis... (hmm...?!)

Ana pun mengawali penjelasan dengan tersenyum lebar... sebab ana merasa seolah sedang mengulang kejadian saat maba dulu... namun posisi ana diperankan oleh si adik baru....

***

”De’..., aksi turun ke jalan merupakan salah satu bentuk da’wah kita... di samping kegiatan bakti sosial langsung ke masyarakat, seminar-seminar, kunjungan dan diskusi dengan anggota dewan, dan sebagainya...”

”Ade’ pernah mendengar atau membaca shirah tentang Rasulullah dan para sahabatnya?? Bahwa ternyata Rasulullah pernah melakukan semacam konvoi mengelilingi ka’bah yang diikuti oleh para kaum muslimin di belakangnya baik laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak mereka untuk menunjukkan kekuatan kaum muslimin ketika itu...?! Kegiatan semacam itu sebenarnya juga merupakan bentuk demonstrasi... namun berbeda sebutannya.”

”Ade’ pernah dengar tentang Aksi Munasharah Palestina?? Itu juga merupakan satu diantaranya... yang merupakan bentuk kepedulian dan dukungan kita terhadap perjuangan saudara-saudara kita di Palestina... Tahukah Ade’, apa pengaruh aksi tersebut bagi kaum muslimin di Palestina?? Pernah beberapa tahun lalu, saat daerah-daerah se-Indonesia termasuk Sulsel secara serempak melakukan aksi munasharah Palestina... saat itu Palestina belum merdeka... Aksi kita saat itu ter-ekspose oleh media... dan ternyata beritanya sampai pada saudara-saudara kita di Palestina... Dan tahukah Ade’..., dukungan kita melalui aksi tersebut ternyata mampu membakar semangat perjuangan mereka di Palestina... Karena mereka menyadari bahwa ternyata masih ada... bahkan banyak saudara-saudaranya, kaum muslimin di belaha bumi lain, yaitu Indonesia, yang mendukung perjuangan mereka... Meskipun senjata mereka mungkin hanya bebatuan... dan harus berhadapan dengan tank-tank Israel... dan meskipun kita tak secara langsung turun berjihad bersama mereka... namun dukungan moril dan pekikan takbir kita nan penuh ghirah dalam aksi-aksi tersebut mampu memberikan kekuatan luar biasa bagi mereka....”

”Ade’ pernah dengar sebuah hadits bahwa Rasulullah pernah berkata: ’Barang siapa tidak pernah memikirkan ummatku maka ia bukan termasuk golonganku’?? Di negara kita, Indonesia, ketika ada sebuah kebijakan pemerintah yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat (apalagi mayoritas warga Indonesia adalah muslim) apakah kita hanya berdiam diri saja tanpa ada sedikitpun usaha perbaikan?? Tidak, bukan? Partisipasi kita dalam aksi turun ke jalan untuk menyuarakan amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu bentuk kecil usaha kita dan merupakan indikasi bahwa kita masih peduli terhadap permasalahan ummat... dan bukan hanya sebagai penonton tanpa usaha apapun...”

”Barang siapa yang menyendiri dan memilih berdiam diri dari mengucapkan kebenaran maka dia adalah syetan yang bisu”

(Syaikh Abu Ali Ad Daqqaq)

”Ade’ kenal tarbiyah khan?? Sebenarnya dalam ’aksi’ juga ada nilai-nilai tarbiyah yang bisa ditanamkan... yaitu sebuah ’keberanian’, keberanian yang positif tentunya! Akan sangat berbeda, antara mental-mental orang yang sering ikut aksi dengan yang tidak pernah sama sekali ikut aksi... Biasanya, orang yang pernah atau pun sering ikut aksi memiliki keberanian dan percaya diri yang jauh lebih tinggi... Mau bukti?? Silakan dicoba sendiri....!!”

”Ade’ sayang..., mungkin Ade’ sering mendengar atau pun menyaksikan melalui media cetak maupun televisi tentang aksi-aksi yang mungkin terlihat brutal dan anarkis... Tapi perlu Ade’ ketahui bahwa aksi seperti itu sangat jauh berbeda bahkan dibenci oleh kader-kader KAMMI sebab aksi-aksi semacam itulah yang merusak citra aksi yang sebenarnya terutama citra mahasiswa... Aksi-aksi KAMMI sangat terkenal santun dan rapi serta tidak membuat jalan menjadi macet... Tapi itu bukan kata kakak lho...melainkan dari pandangan beberapa tokoh pengamat dan media... Masih mau bukti?? Silakan dilihat sendiri...!!”

”Perlu Ade’ ketahui pula bahwa bagi kader-kader KAMMI, aksi bukanlah sesuatu yang main-main... Bahkan bagi semua kader yang akan turun aksi, sangat dianjurkan untuk melaksanakan dan meningkatkan kualitas qiyamul lail pada malam sebelum aksi... bahkan diminta untuk membuat surat wasiat terlebih dahulu... dan tidak jarang yang pergi aksi dalam keadaan shaum (berpuasa)... sebagaimana para sahabat Rasulullah ketika pergi ke medan perang untuk jihad fisabilillah... Mengapa demikian? Sebab niat awal kita jelas... yaitu untuk melakukan perbaikan di tengah-tengah ummat... Sangat tidak mungkin kita berkoar-koar untuk melakukan perbaikan, jika kualitas ibadah kita sendiri tidak baik atau bahkan sangat jauh dari ’pas-pas’-an..., iya khan?? Pada zaman Rasulullah, urutan shaf (barisan) pasukan yang akan berjihad disusun berdasarkan qiyamullailnya... Mujahid-mujahid yang berada pada barisan terdepan adalah mereka yang pada malam harinya melaksanakan qiyamullail... Itulah rahasia strategi kemenangan kaum muslimin...!!”

”Dalam aksi-aksi KAMMI, selalu dipisah antara barisan ikhwan dan barisan akhwat... Jadi Ade’ tidak perlu khawatir akan terjadi campur baur... Satu hal yang juga selalu ditekankan kepada kader-kader KAMMI yaitu ’meluruskan niat’ sebelum melangkah... termasuk ketika akan melakukan aksi... bahwa bukan untuk kesombongan atau pamer keberanian kita melakukan aksi... melainkan dengan niat jihad fisabilillah yang berujung pada sebuah pengharapan akan ridho Allah! Maka tidak heran pembagian amanah dalam pelaksanaan aksi baik yang bertugas sebagai korlap, orator, tim medis, tim media, pengamanan, dan peserta aksi benar-benar dilakukan dengan serius tanpa main-main... bahkan mereka selalu berazam bahwa syahid adalah cita-cita tertinggi... Sebagaimana kaum muslimin dalam setiap pertempuran... sementara para musuh Allah berperang agar dapat bertahan hidup... para prajurit Allah justru berperang untuk mati syahid... maka hidup atau pun mati tetap merupakan sebuah kemenangan bagi prajurit Allah!”

”Apakah kakak terlalu berlebihan? Kakak pikir tidak! Sebab memang seperti itulah yang diajarkan dan ditekankan pada kader-kader KAMMI. Itulah sebabnya kami selalu bersemangat!”

”Jadi... kalau nanti Ade’ melihat masih ada kader KAMMI yang main-main saat aksi... atau cengar-cengir sana sini... Atau tidak bersemangat... Ya diingatkan saja... Kakak pikir... mungkin dia seperti itu karena waktu malam harinya dia tidak melaksanakan qiyamul lail... atau mungkin tilawahnya kurang... atau mungkin lupa shalat dhuha... atau mungkin dalam sepekan itu tidak tarbiyah... Yang jelas itu masalah personalnya... dan sudah menjadi kewajiban kita sebagai saudara untuk mengingatkannya, ok...”

***

Sampai pada penjelasan tersebut, ana menangkap binar kepahaman di mata si ’adik baru’... Matanya berkaca-kaca... tatapannya penuh semangat... dengan senyum kepuasan di bibirnya.... Sejenak ana menarik napas dalam... Namun tiba-tiba mimik wajahnya berubah menjadi sedih...

”Waduh, Kak... saya baru ingat... besok pagi ada Mid Test...”, katanya sambil memasang wajah cemberutnya yang imut.

”Wah, kalau gitu mah Ade’ harus ikut Mid atuh... Pernah dengar motto KAMMI khan : ’Aksi Kuat, Ibadah Taat, Prestasi Hebat’. Ketiganya harus tawazun (seimbang)... gak boleh berat sebelah... Akademik juga masuk hitungan lho... Apalagi Mid Test!”

”Tapi ingat... di luar dari masalah Mid, ujian final dan lain sebagainya... tetap harus diseimbangkan secara benar lho... Yah... kita lebih tahu-lah... yang mana prioritas pertama, kedua dan seterusnya... sebab toh kita-lah yang menjalaninya…”

”Cuman... kakak mau menceritakan kisah seorang sahabat... mudah-mudahan bisa menguatkan kita:

Pada zaman Rasulullah, ada seorang sahabat yang begitu ingin pergi berperang bersama Rasulullah... Padahal ia sudah diberi rukhshah (kemudahan/ keringanan) untuk tidak ikut berperang disebabkan ia adalah seorang buta dan pincang... Namun ia tetap saja berkeinginan kuat untuk pergi... Alasannya sederhana sekali... Ia hanya ingin menggentarkan para musuh Allah dalam medan perang bersama pasukan Rasulullah... meskipun hanya dengan menjadi satu titik hitam (bayangan) di antara sejumlah prajurit Allah hingga syahid benar-benar menjemputnya...”

”Terkadang kita terlalu sering bersembunyi di balik alasan-alasan yang memang sebenarnya hanya kita-lah yang mengetahui dengan jelas seberapa urgen alasan kita... termasuk untuk urusan ikut aksi... Terkadang kita terlalu banyak mengambil rukhshah karena uzur kita... Padahal dalam setiap langkah... kita hanya memiliki 2 pilihan... apakah ingin mengambil ’rukhshah’ (keringanan) ataukah ’azzam’ (tekad)... Akan sangat berbeda nilainya di sisi Allah antara orang yang memegang tekad yang kuat dalam setiap langkahnya dengan orang yang lebih memilih mengambil hal yang ringan-ringan saja... Dan seorang mujahid/ mujahidah selalu lebih memilih untuk berkomitmen dengan azzamnya... sebanyak apapun rukhshah yang terhampar di hadapannya... sebagaimana sahabat Rasulullah itu...”

”Maka pilihan itu ada di tangan kita... Wakafaa billahi syahida!”

***

Wajah cemberut si ’adik baru’ akhirnya berubah menjadi senyum penuh keyakinan... Adik-adik yang lain tampak memberi semangat untuk menguatkan si ’adik baru’... dengan mengangkat tangan kanan mereka dan mengepalkannya di depan dada seraya bertakbir... Si ’adik baru’ pun tanpa ragu membalasnya dengan takbir pula... ”Allahu akbar!!”

Tiga puluh menit lebih pun berlalu... kami membubarkan diri dari lingkaran diskusi kami dan mengambil posisi di dekat hijab (pembatas antara ikhwan dan akhwat) sembari meraih mushaf masing-masing sambil menunggu pemateri... dan bersiap-siap untuk menerima materi tatsqif... Pukul 16.40 terdengar suara MC mengingatkan para ikhwah untuk bersiap-siap menerima materi sebab sang ustadz pembawa materi telah hadir... Dalam sekejap suara-suara lantunan ayat-ayat Allah pun berhenti... para akhwat pun satu persatu meninggalkan majelis-majelis kecil mereka dan maju ke shaf terdepan dekat hijab bersiap menerima materi... Suasana hening... Hanya suara pemateri yang terdengar... Wajah-wajah nan haus akan ilmu pun tertunduk penuh ketawadhu’an menyimak materi yang diberikan... Air mata ana serasa ingin tumpah... sebab memikirkan... Sungguh Maha Penyayang Engkau ya Rabb... masih memberi kesempatan kepada ana untuk menikmati ’taman-taman syurga’ seperti ini... Apakah kelak ana masih bisa merasakannya??? Wallahu a’lam.

***

Teruntuk adik-adik ana yang sedang dalam keraguan atau pun sedang diterpa banyak ujian... Ambillah nasehat-nasehat berikut sebagai pelajaran untuk kalian :

Imam Syafi’i dalam antologi puisinya berkata:

”Siapa yang tidak mau berda’wah pada masa mudanya, maka takbirkan kepadanya empat kali takbir. Karena ia telah (mati sebelum ia mati).”

Imam Syahid Syaikh Hasan Al-Banna dalam risalahnya mengatakan :

”Kami menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat dan tegar... Hati-hati yang baru nan berkibar-kibar... Emosi-emosi yang membara nan menggelora... dan ruh-ruh yang memiliki thumuhat, obsesi jauh ke depan... yang merenungkan teladan dan tujuan-tujuan yang mulia.”

***

Keep hamasah !!! ALLAHU AKBAR !!!

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner