Kamis, 30 Oktober 2008

Kisah Seorang Ibu...


Ibu adalah sosok perempuan yang luar biasa...

Ketika ia mampu menjalankan peran yang sebenarnya...

***
Berikut adalah kisah seorang Ibu Shalihat yang semoga mampu menginspirasi para muslimah :

Allah menghendaki ibu ini mendapat ujian sebagaimana para ibu yang lain. Anak lelakinya yang terbesar dijebloskan ke dalam penjara pada 1954 M, disebabkan ia adalah salah satu mujahid yang ingin menegakkan kalimat "laa ilaha illallah..." di tanah Mesir yang sedang bergejolak.

Ibu ini tidak bersedih hati dan tidak berkeluh kesah, sebagaimana keluh kesahnya seorang ibu yang mengetahui anaknya tertimpa petaka. Tetapi, ia bersikap sebagaimana seorang muslimah yang beriman, sabar dan tegar dalam membela kebenaran serta kelompok mukmin yang ada di tengah-tengan umat ini. Ia berusaha melawan panah hina yang berasal dari lisan orang-orang munafik dan orang-orang yang kalah, yang berusaha melecehkan orang-orang beriman dan berjihad yang tengah mendekam di balik terali besi.

Ia mengingatkan kita pada seorang wanita muslimah yang menghadapi Al-Hajjaj, mengguncangkan kesewenang-wenangan dan menjadikannya kembali dalam keadaan ketakutan. Seorang penyair menyebut wanita tersebut dengan sebuah syair :


Seolah harimau dalam peperangan, padahal ia adalah...
Cincin indah yang dicetak dari ukiran emas murni...
Beranikah anda melawan kijang betina dalam perang...?
Tentu hatimu takut bersama sayap burung yang terbang...

***

Pada saat mendung tersibakkan dan ujian berakhir, ketegaran dan kepahamannya terhadap tabiat dakwah ini, di mana puteranya merupakan salah satu dari ribuan pendukungnya, semakin bertambah...

Kemudian kezaliman terulang lagi, di masa Gamal Abdul Naser. Putranya termasuk salah seorang dari orang-orang yang diusir dari kampung halaman dengan tanpa alasan yang benar, kecuali karena mengucapkan "Rabb kami adalah Allah". Sang ibu ini tetap tegar, tabah, dan kokoh keimanan dan sangat paham dengan jalan yang mesti ditempuh oleh para aktivis dakwah. Ia tidak mengatakan, kecuali kata-kata yang pernah dikatakan oleh Asma' buat puteranya, Abdullah bin Zubair yang tengah menghadapi kematian,

"Ya Allah, sesungguhnya aku telah menyerahkan dia kepada-Mu, aku ridha dengan apa yang Engkau tentukan. Karena itu, anugerahkanlah kepadaku pahala orang-orang sabar yang bersyukur..."

***

Tiga tahun sudah waktu berlalu, namun ia tidak mengetahui puteranya dan tidak mendengar kabar, kecuali tentang pembantaian besar yang dilakukan oleh para durjana terhadap putera-putera terbaik ummat ini yang tidak bersenjata. Hingga pada saat kaum zalim itu mengizinkan untuk berkunjung pada orang-orang yang terpenjara, yaitu pada 1967 M. Sang ibu ini pun berangkat bersama para pembesuk untuk mengunjungi puteranya, bukan untuk mengatakan, "Sungguh telah lama ujian ini dan aku sangat rindu kepadamu." Tetapi untuk mengokohkan puteranya, mendoakannya agar tegar dalam berjuang dan berwasiat kepadanya agar tidak lemah dan menghinakan diri.

Ia mengatakan semua itu dengan wajah yang menggambarkan kebanggaan atas puteranya beserta saudara-saudara seperjuangannya. Sebab dalam pandangannya, mereka semua adalah teladan yang benar dalam kejujuran dan kepahlawanan. Kunjungan tersebut berakhir dengan ucapannya kepada putranya,


"Wahai puteraku, sesungguhnya aku berdoa kepada Allah swt agar engkau menjadi orang yang paling terakhir keluar dari penjara, bila Allah mengizinkan kepadamu dan saudara-saudaramu untuk keluar. Sebab kamu tidak lebih utama daripada mereka semua."

***

Ketika sang ayah meninggal dunia, sementara sang putra masih berada di belakang terali besi, ia (sang ibu) menulis surat kepada sang putra untuk berbela sungkawa, mengokohkan keimanannya dan mengabarkan tentang rencana kunjungannya agar dapat -seperti penuturannya- melihat sang putra menyambutnya dengan senyum keridhaan sebagaimana biasanya. Saat berkunjung, ia tidak memakai pakaian hitam untuk menceritakan peristiwa kematian. Sungguh, Allah swt telah mengaruniakan keridhaan dan ketenangan sehingga ia tidak mengadakan acara ratapan dan tidak mengatakan serta tidak melakukan, kecuali seperti apa yang dikatakan dan dilakukan oleh para wanita yang sabar dan mengharap pahala dari Allah.

Ia terus berkunjung dan menulis surat kepada sang putra. Ia mengucapkan selamat kepada saudara-saudaranya saat berkunjung, mengokohkan kesabaran mereka dan menumbuhkan optimisme, semangat serta keyakinan bahwa mereka adalah pemenang, sehingga puteranya keluar dari penjara bersama orang yang paling akhir, persis seperti doa yang telah diucapkan.

***


Teruntuk para muslimah dambaan ummat...
Islam menunggu kebangkitanmu...
Dipundak kita tersimpan amanah besar sebagai pencetak generasi Rabbani...
Dengan sentuhan dan didikan seorang Ibu Shalihat... maka akan lahir sosok mujahid/mujahidah tangguh...
Generasi pengibar panji Islam untuk menegakkan kalimatullah
LAA ILAHA ILLALLAH...


Makassar, jelang Hari Ibu...


Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner