Kamis, 30 Oktober 2008

MANAJEMEN RUMAH TANGGA, Euy...


Jangan mengerutkan dahi atau terheran-heran melihat judul di atas.. Tulisan ini ana angkat bukan karena ana telah berumah tangga... Bukan pula atas persepsi pribadi tanpa dasar sedikit pun jua... Melainkan berdasarkan hasil dari pengalaman ketika diskusi ringan dengan salah seorang ustadzah.

***

Fenomena aktivis akhowat dengan frekuensi amanah luar bisa kemudian menjadi vakum setelah menikah telah menjadi masalah klasik yang seolah tak mungkin terselesaikan dari waktu ke waktu. Kecewa demi kecewa pun berduyun-duyun datang dari para aktivis baru yang merasa menjadi korban atas fenomena tersebut sebab merasa ditinggalkan atas amanah yang begitu banyak nan belum tertuntaskan. Hampir di setiap kajian keakhowatan, fenomena ini tak pernah absen sebagai qodhoyah. Satu persatu saran dilontarkan, namun toh di setiap sisi yang bersentuhan dengan aplikasi akan selalu beririsan dengan perulangan fenomena yang sama. Kalaupun ada yang berhasil melewati masa uji fenomena tersebut, cukup lama masanya baru kemudian ia mampu untuk aktif kembali mengemban amanah seperti dulu, itupun dibarengi dengan penurunan drastis dari isti’ab (kapasitas) yang dimiliki sebelumnya. Lantas, sebegitu ribetnya-kah problem ini sampai-sampai tak kunjung ditemukan win win solutionnya??? Ibarat sebuah kasus kriminal “pembunuhan berantai” yang telah bertahun-tahun diusut hingga memakan korban yang tak sedikit, haruskah kasus ini ditutup sebab pelaku tak kunjung ditemukan???

Kasus ini jelas tak akan mungkin diselesaikan oleh para ikhwan sebab ini adalah masalah/ kasus akhowat. Maka para akhowatlah yang memang harus turun tangan langsung menuntaskannya. So, what should we Do, Sisters???

***

Tepatnya Desember 2006 lalu ana dan salah seorang anggota regu Santika lainnya (Ukhti Sumayyah) diamanahkan untuk misi pengawalan seorang ustadzah dari DPP yang ketika itu menemani sang suami yang diundang ke Sulsel dalam rangka Rapimwil, Ibu Suzana namanya. Pukul 19.00 tepat, dengan pakaian seragam lengkap kami berdua dan seorang anggota kepanduan ikhwan (Akhi Amri) sebagai pengamanan untuk mengawal ustadz telah berada di bandara Hasanuddin nan megah untuk menjemput beliau. Karena cuacu buruk, maka penerbangan tujuan Makasar ditunda selama beberapa jam. Empat jam lebih menunggu ditemani kepulan asap dan hingar bingar musik serta suara manusia di waiting room bandara cukup membuat kami berulang-ulang beristighfar. Akhirnya pukul 23.30 pesawat yang mereka tumpangi tiba di bandara. Beberapa menit kemudian Akh Amri tampak menyambut sepasang penumpang, yaitu tamu dari DPP. Penampilan ustadz dan ustadzah memang beda, meskipun belum pernah bertemu sebelumnya, tetap saja dari penampilan kharismatik mereka dapat dengan mudah dikenali. Apalagi Ibu Suzana, sisa-sisa kecantikan serta aura keakhwatannya masih tampak jelas di wajahnya. Dengan senyum ramah ia membalas sambutan kami.

Dengan berat hati, kami harus memisahkan pasangan ustadz dan ustadzah itu, sebab Al-Ustadz harus segera diboyong oleh Akh Amri ke Rapimwil di Palopo, sedang Ibu Suzana kami amankan di Makassar, di rumah salah seorang ummahat di Makassar, Mbak Ati namanya. Pesan singkat Ustadz sambil tersenyum simpul kepada kami, “Tolong dijaga istriku tercinta, yaa..!”. Sambil tersenyum kami menjawab, “Siap, Ustadz!” Dalam hati ana bergumam “Wow, subhanallah... sudah setua itu, masih romantis gitu??” Beberapa menit kemudian, Al-Ustadz pun naik kendaraan bersama Akh Amri dan beberapa ustadz dari Makassar lainnya.

Dengan mengendarai mobil salah seorang akhowat (Ukhti Nitri), kami pun melaju ke Jl. Bung Permai. Tampaknya Ibu Suzana asyik bercerita dengan Mbak Ati yang merupakan sahabat lamanya sesama aktivis da’wah kampus di Jakarta dulu. Sesekali Ibu Suzana menatap jalan-jalan kota Makassar yang masih cukup ramai di tengah malam sekali pun. Pukul 00.30 kami pun tiba di rumah Mbak Ati, namun kami belum diizinkan untuk pulang sebab kota Makassar masih diguyur hujan, kata Mbak Ati. Mau tak mau, kami pun harus masuk terlebih dahulu ke rumah Mbak Ati. Wajah-wajah sayu dan mengantuk tampak di wajah ukhti Sumayyah dan Ukhti Nitri, ana juga sepertinya. Alhamdulillah ada teh manis dan bakara’ disuguhkan untuk kami sehingga mata kami agak sedikit bercahaya.

Di sela suara rintik hujan yang menabrak-nabrakkan dirinya ke atap rumah, kami pun berdiskusi singkat. Ternyata Ibu Suzana sangat supel meskipun dengan kami yang jeda umurnya sangat jauh, apalagi dengan dialek Jakartanya yang gaul menambah cair suasana. Mengawali pembicaraan, satu persatu dari kami diinterogasi mulai dari nama, fakultas dan universitas, angkatan, asal daerah, sampai status marital. Keheranan Ibu Suzana dimulai ketika mengetahui bahwa ternyata masih ada aktivis da’wah kampus angkatan 2001 yang belum menyelesaikan studinya. Keheranannya pun bertambah ketika mengetahui bahwa ternyata kasus seperti itu banyak terjadi di Sulsel. Dari sinilah kemudian berlanjut ke pembahasan tentang manajemen rumah tangga. Untungnya diantara kami bertiga, ana adalah yang termuda, sehingga tak begitu disorot oleh Al Ustadzah. Kemudian pertanyan pun berlanjut pada lingkungan tempat tinggal. Dan ternyata kami bertiga adalah perantau. Status kami sebagai perantau menambah topik bahasan kami malam itu. Maka diskusi pun berlanjut seru. Dari sini, alhamdulillah ana mendapat begitu banyak masukan dan taujih yang mungkin tak semua akhowat mendapatkannya, apalagi spesial dari Kewanitaan DPP. Lumayan buat bekal ilmu....

Salah satu topik yang sempat menjadi bahan diskusi dengan ustadzah adalah mengenai aktivis akhowat yang vakum ketika telah menikah. Pertanyaan ana yang selama ini tak terjawab, akhirnya dikupas malam itu. Menurut ustadzah, penyebabnya agak kompleks dan saling terkait antara lingkungan, buruknya manajemen pengelolaan amanah da’wah akhowat ketika di kampus, dan fasilitas yang kurang dari wajihah keakhowatan.

Menurut beberapa survey yang beliau lakukan di berbagai pulau, baik di Sumatra, Kalimantan, Jawa, maupun Sulawesi ternyata problenya tak jauh berbeda. Bahwa fenomena di atas mayoritas dialami oleh aktivis akhowat perantau, terutama yang tinggal di asrama atau kost-kost-an (Kena donk Ana??). Mengapa bisa demikian?? Memang di satu sisi, aktivis-aktivis akhowat perantau memiliki kontribusi luar biasa dalam da’wah sebab mereka memiliki jam terbang yang luar biasa pula dimana tak ada tarikan-tarikan dari orang tua atau keluarga yang membatasinya. Namun, di sisi lain, pada akhirnya mereka menjadi sangat kurang pemahamannya terhadap manajemen rumah tangga. Manajemen waktu antara amanah da’wah dengan rumah menjadi tidak tawazun. Walhasil, pengetahuan-pengetahuan terkait “potensi kewanitaan” dalam rumah hampir-hampir terabaikan sama sekali. Para aktivis akhowat yang tidak tinggal bersama orang tua ataupun keluarga, untuk membereskan rumah sebelum beraktivitas di luar dapat dengan seenaknya mereka kerjakan kapan saja tanpa ada yang menegur atau mengarahkannya. Bahkan memasak pun seadanya dan serba instant.

Masalah seperti ini, kemudian diperparah dengan buruknya manajemen akhowat dalam mengelola amanahnya yang seabrek yang harus pula diimbangi dengan aktivitas akademiknya. Maka ilmu Manajemen Rumah Tangga (MRT) pun semakin jauh ditinggalkan. Belum lagi wajihah-wajihah keakhowatan tampaknya kurang concern untuk menjadi fasilitator dalam hal meng-up grade potensi keakhowatan terkait MRT ini. Kata Ibu Suzana,


”Dulu, ketika kami masih jadi aktivis da’wah kampus, bahkan untuk masalah bagaimana memasak, menyetrika, dan lain sebagainya itu difasilitasi lho..!! Saya heran kenapa sekarang para ADK akhowat sudah tak pernah terdengar ada kegiatan semacam itu?? Apa karena alasan amanah yang semakin menuntuk banyak waktu?? Saya pikir, sebenarnya bisa, tergantung apakan kita concern dan serius untuk meng-up grade masalah akhowat ini.... Apa susahnya sih, minimal dua bulan sekali misalnya diadakan pelatihan khusus akhowat terkait manajemen rumah tangga, gitu..!!”


Nah, dari permasalahan kompleks inilah kemudian terus terbawa hingga para aktivis akhowat dengan jam terbang tinggi tadi akhirnya menikah. Hasilnya, setelah ia menikah, maka ia harus ”mundur” untuk waktu yang lama disebabkan harus kembali ke titik nol untuk mempelajari kembali hal-hal basic yang seharusnya telah tuntas ia pelajari sebelumnya. Maka jangan heran, jika kemudian santer terdengar bahwa aktivis-aktivis akhowat mengalami kevakuman dalam waktu yang lama setelah menikah. Bahkan tidak sedikit pula yang kemudian menjadi stagnant pada urusan rumah tangga tanpa menyentuh sedikitpun amanah da’wah di luar, padahal kereta da’wah terus melaju dan semakin menuntuk kontribusi kita. Ini adalah penyakit da’wah yang sangat berbahaya apabila tetap dibiarkan.

Lantas, apakah itu berarti kita tidak boleh tinggal di asrama atau kost dan harus kembali ke orang tua atau keluarga??? Menurut Ustadzah, ”Ya tidak demikian”. Sebab ternyata kasus seperti kader-kader akhowat yang tinggal bersama orang tua pun banyak yang menjadi penyakit bagi da’wah. Mengapa demikian, sebab kontribusi mereka untuk da’wah pun sangat minim disebabkan adanya pembatasan dari keluarga atau orang tua untuk beraktivitas di luar sehingga jam terbangnya untuk da’wah sangat minim dan biasanya menjadi cenderung kurang militan.

Jadi gimana donk solusinya??? Bukankah telah jelas, untuk menyembuhkan suatu penyakit kita harus mendiagnosa terlebih dahulu dan kemudian mencari penyebabnya. Sekarang penyebab-penyebabnya telah kita temukan. Dengan kata lain, bukti-bukti telah berada di tangan kita, maka kasus ini harus segera kita tuntaskan.

Pertama, bagi para aktivis akhowat yang tinggal di lingkungan asrama atau kost harus memiliki manajemen yang tawazun antara perawatan dan pengelolaan rumah tangganya (minimal kamarnya lah..) dengan aktivitas di luar, entah dengan membuat scedule rutin atau hal lainnya. Begitu pula dengan para aktivis yang tinggal bersama keluarga atau orang tua, dengan kata lain harus serajin mungkin ketika braktivitas di rumah sehingga mampu merebut hati orang tua dan diberi kepercayaan ketika harus menjalankan amanah di luar rumah. Kedua, perbaiki manajemen pengelolaan amanah da’wah berdasarkan urutan prioritas. Mungkin, agak susah, namun yakinlah bahwa Allah Maha Melihat azzam kita untuk keberlangsungan da’wah ini. Dan Ketiga, penyehatan wajihah keakhowatan yang memang berfungsi untuk meng-up grade potensi kewanitaan tadi. Namun perlu diingat profesionalisme dalam hal pengelolaan wajihah-wajihah keakhowatan yang ada. Untuk wajihah siyasih tentu harus tetap concern pada up-grade di bidang siyasih (BKM Seruni misalnya...) dan untuk wajihah lainnya (seperti Jaringan Muslimah Daerah dll) harus greget untuk menghidupkan kegiatan-kegiatan sebagaimana yang digambarkan oleh ustadzah tadi. Dan mungkin masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa kita lakukan.

Oh ya, hampir lupa. Ada satu lagi pesan Ibu Suzana untuk para akhowat, ”Jangan terlalu lama penyelesaian akademiknya... Semakin cepat selesai maka semakin cepat pula menuju jenjang da’wah selanjutnya...!!!” Yah..., ini sekadar bagi-bagi ilmu yang ana dapatkan dari Al-Ustadzah dari Kewanitaan DPP lho... sekalian sebagai masukan untuk para akhowat. So, siap dieksekusi, ukhtifillah...???

***

Setelah cukup lama berdiskusi dengan ustadzah dan Mbak Ati, akhirnya kami pun memberi kode dengan sesekali melihat ke arah jam dinding... dan akhirnya kami pun diizinkan pulang ke rumah masing-masing. Sekitar pukul 02.... dini hari dengan sisa kekuatan yang ada kami pun melaju ke rumah masing-masing. Ketika itu dengan kapasitas penglihatan tinggal tiga watt, dalam benak ana hanya terlintas pesan dari sang pemberi amanah dari divisi Santika bahwa ”fitalitas dan kebugaran jasad harus tetap dipertahankan sebab tugas pengawalan dan pengamanan Al-Ustadzah masih berlanjut dua hari lagi. Tetap ZMANGAT! ALLAHU AKBAR!!!”



@Aspuri Smd-Mks
Pkl 00.40
Diiringi lantunan nasyid ”Kupinang Engkau dengan Al Qur’an”
Ditengah kegelisahan akan keberlangsungan ”penelitian”

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner