Kamis, 30 Oktober 2008

Oh Kakao....


March 2007

Hari ini seperti biasa ana mencoba mempraktekkan wacana MRT yang pernah ana angkat. Jam 7 teng all about home telah tuntas, sarapan beres, mandi oke, tinggal nangkring di depan TV untuk hunting new news for today sambil menunggu jam dinding menunjukkan pukul 07.30 sebab pukul 08.00 i have a deal dengan akhwat di kampus tercinta.

Penelitian ana tidak jalan hari ini karena ana kehabisan sample. Siang ini ana harus hunting buah kakao (cokelat) lagi untuk jadi sampel penelitian ana, tidak boleh tidak! Memang pekerjaan hunting buah cokelat ini cukup membuat ana pusing tujuh keliling sebab lagi-lagi musimmya sudah lewat. Di setiap perjalanan, mata ana harus terus berkeliaran mengamati tanaman-tanaman di setiap halaman rumah orang… Pun setiap malam yang terbayang-bayang di benak ana adalah si kakao (orang Malaysia menyebutnya dengan Koko). Mau makan ingat kakao… mau tidur ingat kakao… sampai-sampai setiap buah mangga yang ana lihat jadi mirip buah kakao… (Nah lo ?! Apa ana jatuh cinta sama kakao ya??!).

***

Alhamdulillah kemarin waktu ana lagi jalan-jalan di Wesabbe untuk mengantar file ke salah seorang ikhwah, tiba-tiba ana melihat si kakao dan teman-temannya sedang bergelantungan di pohon depan sebuah rumah yang jaraknya beberapa meter sebelum sekretariat KAMMI… Dalam hati ana berteriak histeris, “Wah… bahagia banget…! Seperti baru ketemu barang berharga yang lama hilang gitu...!!” Rasanya mata ana berbinar-binar melihat si Kakao (sebenarnya ingin tersenyum lepas... tapi bahaya kalau ada yang melihat. Nanti dipikir ana aneh kalau senyam-senyum sendiri...).

Namun sayangnya, rumah empunya tampak sepi... lagipula kemarin ana harus buru-buru kejar ontime di meeting ikhwah. Karenanya, ana sudah membuat planning hari ini untuk nge-date ke rumah itu. (Yah... pokoknya nekat lah... terpaksa ana harus jadi orang SKSD/ so’ kenal so’ dekat gitu deh... Mumpung punya pengalaman direct selling ^_^ ). Oh kakao..., tunggu ana ya!

***

Pukul 07.30 teng, ana start from my lovely Aspuri. Dua kali naik pete’-pete’ (angkot) dari BTP ke kampus cukup memakan waktu lama, apalagi pak supir hoby banget singgah lama-lama di pinggir jalan menunggu penumpang…

“Ya…namanya mengais rezeki, Ces.. Harus banyak sabar..!”, kata pak supir.

***

Jam di ponsel ana telah menunjukkan angka 07.50 dan ana sudah standby di depan laboratorium Fisika, tempat janjian ana, namun akhwat yang ana tunggu belum tampak. 10 menit kemudian… masih belum ada. Ana sempat berpikir, “Tumben, padahal setahu ana, akhwat yang satu ini ontime banget orangnya… jangan-jangat terjadi sesuatu lagi ?! Naudzubillah…”.

Sepuluh menit berikutnya… oh ternyata masih belum ada juga. Di masa penantian yang panjang ini…(he..he.. hiperbola banget!) lagi-lagi ana ingat si kakao…, alhamdulillah ada si mushaf (Al Qur’an), jadi tenang rasanya. Memang ayat-ayat cinta-Nya sungguh luar biasa… sangat menyejukkan. Seberat apapun beban yang ada, jadi ringan terasa. Wajar saja para sahabat Rasulullah tak pernah lepas darinya. Bahkan ketika dalam sehari mereka tidak membacanya, mereka akan teramat sangat menyesal.

“Dan kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar, dan RAHMAT bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”

(QS Al Isra’ : 82)

Apalagi ayat-ayat ancaman-Nya… lebih luar biasa. Pantas saja Ali ra begitu sering menghiasi malamnya dengan isak tangis bahkan sering pula pingsan ketika sedang shalat sebab neraka seolah telah di hadapannya karena begitu dahsyatnya ayat-ayat-Nya...

***

Lima menit selanjutnya… alhamdulillah… akhirnya beliau tiba juga. Dengan napas yang tergopoh-gopoh ia menghampiri ana dan meminta maaf sembari menjelaskan alasan keterlambatannya. Ternyata benar saja sangkaan ana tadi. Rupanya ban motornya tiba-tiba bocor di tengah jalan depan gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa)Unhas. Tak ada orang yang ia kenal untuk membantunya kecuali seorang ikhwan yang saat itu tampak baru keluar dari PKM. Kata sang akhwat, ia sudah berusaha memanggil ikhwan itu... namun rupanya si ikhwan ”nggak ngeh” dengan panggilannya. ”Entah apakah memang ia tidak mendengar ataukah karena ana seorang akhwat lantas malu untuk bantu ana??! Tapi ana manggilnya nggak jauh kok! Masa nggak dengar?!”, kata si akhwat. (Wah... malunya salah tempat tuh...). Terpaksa si akhwat harus menelpon orang rumahnya untuk menjemput motornya. Walhasil, ia harus menunggu hingga salah seorang keluarganya datang. ”Nggak tau gimana jadinya klo nggak ada yang bantuin, Ukh... Apa semua ikhwan gitu ya, Ukh?!”, tambah si akhwat. Ana hanya bisa menjawab dengan mimik wajah heran dan kerutan di dahi.

By the way, kalau dipikir-pikir... ada benarnya juga perkiraan akhwat itu. Banyak akhwat yang bilang bahwa mereka merasa lebih baik meminta bantuan pada ikhwan ammah daripada ikhwan tulen... sebab ikhwan ammah justru lebih care... (Nah lo!). Ana jadi ingat cerita seorang ikhwah. Katanya, pernah suatu ketika ada seorang ikhwan dan seorang akhwat berpapasan di jalan. Entah mungkin karena malu plus grogi atau bagaimana, tiba-tiba si akhwat jatuh ke dalam got. Akan tetapi si ikhwan, entah karena malu, bukannya segera menolong malah terdiam berdiri sambil menatap si akhwat dengan mimik bingungnya. Dan pada akhirnya, yang membantu si akhwat adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang tiba-tiba lewat di jalan itu...

***

Ana sendiri juga pernah punya pengalaman tentang ikhwan-ikhwan yang ”nggak care”. Ketika itu ana masih tinggal di ramsis Unhas. Tiba-tiba ada yang menelpon bahwa dibutuhkan bantuan akhwat ramsis untuk membantu di kepanitiaan Rakorda DPD di gedung LAN hari itu juga untuk 3 hari. Akhwat-akhwat ramsis pada banyak agenda sehingga ana mengajak seorang akhwat lain dari farmasi untuk membantu. Maka kami berdua pun segera melaju ke sana. Sesampainya di LAN, kami cukup terkejut karena ternyata dalam kepanitiaan itu ikhwan semua.... Namun bukan itu masalahnya... Pengalaman yang cukup membuat ana rada berkerut adalah ikhwan-ikhwan itu (kecuali Pak Ketupat...) sangat ”nggak care”!. Mulanya pak ketupat menyuruh kami untuk ke ”ruang antara” (tempat registrasi) di depan ruang pertemuan sebab para peserta rakorda telah mulai meeting di dalam. Begitu kami tiba di sana, ternyata di ”ruang antara” yang sempit itu telah ada 2 orang ikhwan. Mereka duduk dengan santainya seolah tidak mengetahui kehadiran kami. Sebenarnya di ruang itu ada 3 kursi. Dua diantara kursi-kursi itu telah diduduki oleh para ikhwan, sedang yang satu lagi berada tepat berdampingan dengan kursi salah seorang ikhwan itu. Hampir setengah jam kami berdiri dalam ruangan itu, namun mereka tetap nggak ngeh juga... Dalam hati ana mencak-mencak, ”MasyaAllah... ni ikhwan-ikhwan nggak sensi banget sih...! Akhwat bukannya nggak kuat berdiri... biar berapa jam juga insyaAllah sanggup... Cuman... care dikit napa?! Apa nunggu akhwat duluan yang minta??!”

Akhirnya karena kekesalan ana sudah memuncak... mau tidak mau ana pun memulai!

”Afwan! Bisa akhwat duduk di kursi itu??” pinta ana sambil menunjuk kursi kosong di samping salah satu dari ikhwan itu. Tampaknya mereka sangat terkejut karena volume suara ana rada tinggi dan kursi yang ana minta berada tepat di samping ikhwan. Sebenarnya waktu itu ana ingin sekali tertawa melihat keterkejutan mereka namun karena tensi ana agak naik jadi tetap saja wajah sangar yang ana tampilkan.

”Oh, ini... silakan Ukhti...!”, jawabnya sambil menyodorkan kursi kosong dan kursi yang ia duduki untuk kami, lantas keluar dari ruang antara. Walhasil ikhwan yang satu lagi ikut keluar sebab mungkin merasa tidak enak sendirian ditemani 2 akhwat di dalam.... ^_^

”Yeee..., dari tadi kek!”, bisik teman ana. (ikhwan...ikhwan...).

***

But sebenarnya tidak semua ikhwan seperti itu kok (ntar ana dimarahin para ikhwan lagi...he..he..). Buktinya, berdasarkan pengalaman ana yang lain, masih ada beberapa yang teramat sangat care. Mungkin tergantung dari individunya kali ya...

(Lho.. kok ana jadi membahas tentang ikhwan ya?!)

***

Kembali ke laptop..! Eh salah, kembali ke kakao!

Setelah menyelesaikan urusan ana dengan akhwat tersebut, ana pun menjalankan agenda berikutnya di fakultas untuk hunting dosen pembimbing plus nangkring di perpustakaan. Pukul 15.00 agenda di kampus telah tuntas. This is time to hunt you, Kakao....! Just wait for me…!

Seketika ana melaju ke Wesabbe untuk menjalankan misi ana nge-date ke rumah empunya si Kakao. Beruntung ana ditemani my best friend (jazakillah ya, Ukh…). Tak sampai beberapa menit, ana tiba di depan rumah itu. Pagarnya terbuka… namun pintunya tertutup… Mulanya ana ketuk pintunya… eh tiba-tiba pintunya terbuka sendiri… (hayoo..! Mungkin ana terlalu keras mengetuk pintunya kali ya…). Dua kali ana mengucapkan salam… tetapi tak ada jawaban dari dalam… “Kalau salam yang ketiga tetap gak dijawab… terpaksa ana pulang dengan tangan hampa…”, gumamku dalam hati. (khan sunnah Rasul cuman sampai 3 kali…).

“Kayaknya salam yang ketiga mesti lebih kencang deh, Ukh…”, teman ana menyarankan.

Ana ikuti sarannya. Salam ketiga ana ucapkan dengan suara lebih kencang... Alhamdulillah sarannya berhasil... Tak lama kemudian ada jawaban dari dalam...

” Ada perlu apa ya?”, tanya sang pemilik rumah yang penampilannya rada mirip ikhwan, dengan celana rada gantung plus berjenggot. Ana pun mengutarakan maksud kedatangan ana dengan panjang lebar sambil menunjuk-nunjuk pohon kakao di depan rumahnya. Tanpa basa-basi, empunya rumah pun akhirnya mengizinkan kemudian ia masuk kembali ke dalam. Ana dan teman ana langsung bertatapan dengan senyum kepuasan...namun kami jadi bingung... ”Bagaimana cara mengambil kakao-kakao yang bergelantungan itu ya?? Apa harus manjat sendiri?”, gumamku dalam hati. Teman ana sempat memberikan ide agar singgah ke sekret KAMMI untuk meminjam penjuluk buah atau sekalian pinjam satu ikhwan di sekret untuk memanjat pohon kakao... ”Bagus juga idenya, Ukh...”, kata ana. Namun baru beberapa langkah keluar pagar... empunya rumah sudah memanggil kami... Rupanya ia masuk ke dalam tadi untuk mengambil pisau... dan tanpa basa-basi ia langsung memanjat pohon kakao itu dan menjatuhkan satu persatu kakao ke halaman rumahnya... (he..he.. alhamdulillah... ternyata orangnya care...). Sambil menunggu, ana dan teman ana hanya bisa nyengir-nyengir kesenangan... Ana sempat berpikir, ”Ini orang baik banget... gak pake basa-basi lagi... Tanpa diminta dia langsung ngerti apa yang kami mau... care banget... beda dari yang biasa ana kenal!”

Ternyata si empunya rumah tidak kaku-kaku amat... Sambil memanjat dan memetik buah kakao, beliau sempat mencairkan suasana...”Hati-hati... jangan berdiri di bawah situ... kalau kena buah kakao yang jatuh, lumayan bikin bengkak kepala...”, katanya. Kami pun menanggapi dengan senyum.

Setelah cukup banyak kakao yang beliau ambil, kami segera berusaha mengumpulkannya. Namun beliau melarang.... katanya beliau saja yang ambilkan sebab kebanyakan jatuhnya di got... Bahkan setelah beliau mengetahui bahwa ana hanya membutuhkan kulit buah kakaonya saja, beliau langsung membelahkan satu persatu buah kakao itu dan membersihkan isinya... kemudian mengumpulkan kulitnya di sebuah tempat dan diberikan kepada ana... (wah... salut...salut... sama ini ikhwan...).

Tadinya ana sempat bertanya nama beliau, tapi sudah lupa (mungkin karena ana hanya basa-basi kali ya?!). Meskipun ana lupa siapa nama ikhwan itu, yang jelas ana salut sama beliau... dan bersyukur... ternyata masih ada ikhwan yang care... alhamdulillah....

***

Akhirnya ana dapat juga si kakao... Artinya besok ana bisa lanjutkan penelitian ana lagi... Ikhwan... ikhwan... eh salah ya?! Kakao... kakao....

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner