Kamis, 30 Oktober 2008

Pertarungan Sepanjang Masa



“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”
(Al Baqarah : 251)


Pertarungan antara al-haq dan al-bathil akan selalu ada... Ini telah menjadi sunnatullah... Pertarungan ini adalah pertarungan sepanjang masa… Maka tidak ada dalam kamus generasi pengemban risalah Qur’an untuk berleha-leha, kehilangan ruh haroki, berhenti belajar dan stagnant dalam mengasah kemampuan strategi... Sekali lagi, sebab pertarungan ini adalah pertarungan sepanjang masa, Saudaraku...

Namun, pun telah menjadi sunnatullah bahwa selalu ada pencegahan Allah atas keganasan seseorang terhadap orang lainnya... Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah di atas... Inilah yang disebutkan oleh para ulama sebagai ”pertarungan untuk eksis”. Ini bukan semata untuk hal yang bersifat perang, namun juga mencakup seluruh pertarungan untuk mempertahankan eksistensi dan kemenangan...

Ayat tersebut merupakan rangkaian dari kisah penuh hikmah yaitu kisah Thalut bersama Bani Israil dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 246-252. Ayat ini menyebutkan adanya pertarungan antara kebenaran (al haq) dan kebatilan, yang terepresentasikan pada Thalut dan pasukannya dengan Jalut dan pengikutnya. Kemudian Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firmannya “Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” Ini menunjukkan bahwa pencegahan kejahatan dengan cara ini merupakan nikmat yang Allah tawarkan dan curahkan kepada seluruh manusia...

Inilah yang harus disadari... Bahwa disinilah letak rahasianya... Inilah yang harus dikelola... Bahwa usaha para pemuja kebatilan untuk mengalahkan kebenaran dan keadilan itu akan selalu ada... Dan usaha mereka akan semakin tampak dari masa ke masa seiring semakin eksisnya para pejuang keadilan... Sebab kehidupan ini adalah pertarungan untuk eksis... Namun pencegahan dan pertolongan dari Allah pun akan selalu ada...

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul Fikih Kemenangan dan Kejayaan mengatakan,

“Adalah sebuah kewajiban mendesak bagi umat Islam untuk menyadari sepenuhnya sunnah-sunnah Allah akan adanya penolakan keganasan sebuah kaum atas kaum yang lain, agar dia mengerti bahwa sunnah Allah untuk menghancurkan kebatilan adalah dengan meng-eksis-kan kebenaran, yang direpresentasikan oleh sebuah umat... Sehingga kemudian Allah menghancurkan kebatilan dengan kebenaran, dan binasalah kebatilan itu...”

Ini berarti kebatilan hanya akan bisa dibinasakan bila kebenaran itu eksis... Dimana ia direpresentasikan oleh sebuah umat... Artinya para pejuang itu harus bersatu dalam tubuh umat... menjadi pejuang umat... untuk kemudian menyatukan kekuatan dan mengorganisasi kekuatan itu agar kebenaran pun tidak sekedar eksis namun juga legal... Sebab sesuai fiqih realitas hari ini bahwa legalitaslah kunci kemenangannya... Maka benarlah kata ustadz Anis Matta... bahwa ”kekuasaan itu harus direbut...” Sebab kekuasaan adalah bapak kandung dari legalitas... Ya... ekstrim memang... Tetapi begitulah bahasa dalam medan laga pertarungan...


***


Dalam fi Zhilalil Qur’an disebutkan bahwa :


Kemenangan sangat berkaitan erat dengan sunnah saling mempertahankan... Allah Mahatahu bahwa kejahatan itu senantiasa akan menyerang dan dia tidak akan bisa berlaku fair... Dia tidak akan pernah membiarkan kebaikan itu tumbuh dan berkembang, walaupun kebenaran itu menempuh jalan yang lapang dan lurus... Sebab tumbuh dan berkembangnya kebaikan akan menjadi ancaman bagi kejahatan, dan wujud yang haq akan menjadi ancaman bagi kebatilan... Kejahatan akan senantiasa menampakkan permusuhan, dan kebatilan akan membela dirinya dengan cara membunuh kebenaran dan mencekiknya dengan kekuatan... Dari sinilah akan senantiasa terjadi pertarungan sengit antara kebenaran dan ahlinya dengan kebatilan dan ahlinya... Inilah sunnah Allah dan engkau tidak akan dapatkan perubahan pada sunnah Allah...

***

Memahami, menganalisa, dan mempelajari sunnah-sunnah Allah dengan sungguh-sungguh adalah sangat penting bagi para pejuang da’wah dan umat... bahkan ulama mewajibkannya... agar kita bisa mengambil manfaat dan jangan sampai berbenturan dengannya...

“Janganlah Anda berbenturan dengan sunnah-sunnah alam, karena sesungguhnya dia pasti MENANG. Namun TAKLUKKAN-lah dia dan gunakanlah dia, UBAH ARUS-nya, dan mintalah bantuan dengan mempergunakan sebagian lainnya”
(Imam Syahid Syaikh Hasan al-Banna)

Jadi, KEMENANGAN itu hanya bisa dikelola oleh jiwa-jiwa PENAKLUK... Sebab seorang penakluk memiliki 1001 alasan untuk menang... Sebab ia memiliki ketajaman analisa dalam setiap detil yang dipelajarinya... Dan ketajaman analisa itu hanya bisa lahir dari kebersihan hati dan intensitas yang cukup dalam interaksi dengan Zat yang Maha Memberi... Semoga kau salah satu dari para penakluk itu, Saudaraku...

***

Sungguh... pelajaran apa yang tidak kita dapati di Al Qur’an?? Peta dan pedoman menjalani kehidupan ini telah ada di dalamnya... Semakin kita mempelajarinya, semakin jelaslah arah dan strategi mengelola kehidupan... Semakin kita mendalaminya, maka semakin kagumlah kita akan kebesaran Allah...

Al Qur’an demikian peduli untuk mengajarkan pada kaum muslimin apa yang menjadi urusan penting baik urusan dunia maupun urusan akhirat... Al Qur’an menjelaskan dengan sangat jelas sunnah-sunnah Allah... Al Qur’an menjelaskan bagaimana sunnah-sunnah itu terjadi...dan sebab-sebab yang mengharuskannya... Maka masihkah kita ragu dan kehilangan kepercayaan diri atas kebenaran dan kemuliaan risalah ini dibandingkan analisa-analisa manusia yang tak berdasar dan serba nisbi itu???

***

Dari kajian beberapa ayat dalam surat Al Baqarah yaitu ayat 246-252 tentang kisah Thalut saja begitu banyak kita dapati pelajaran berharga... Setelah kita baca dan analisa kandungannya... InsyaAllah akan kita dapati pelajaran yang luar biasa...

Sayyid Quthb dengan sangat indah telah memaparkan hakikat-hakikat kisah tersebut dengan mengatakan :

”Pelajaran yang menyeluruh tampak pada keseluruhan kisah... Yakni bahwa intifadhah ini – intifadhah akidah – walaupun demikian banyak hambatan di depan pengalaman yang terjadi berupa kekurangan dan kelemahan dan adanya orang-orang yang mundur secara beruntun dan berbondong-bondong dalam perjalanannya, namun demikian keteguhan segelintir orang mukmin telah melahirkan hasil yang besar... Karena di dalamnya telah ada harga diri, kehormatan, dan kemenangan setelah mereka mengalami kekalahan yang menyedihkan, kehinaan yang memalukan, pengusiran yang demikian panjang, dan kehinaan di bawah para manusia biadab...”
***

Dari kisah Thalut tersebut tampak beberapa pelajaran yang mahal bagi setiap kaum muslimin di setiap zaman, mari kita cermati bersama :


Pelajaran kedua, bahwa sesungguhnya pengujian atas semangat yang bersifat luaran dan semangat yang menyala-nyala dalam jiwa sebuah kelompok, jangan dinilai pada awalnya saja...

Sebagaimana dalam ayat tersebut digambarkan bahwa sebenarnya jumlah kaum Bani Israil ketika itu banyak, namun ketika diwajibkan perang atas mereka, mereka berpaling... Hingga tidak tersisa dari mereka kecuali sejumlah kecil orang yang tetap berpegang teguh dengan janji terhadap Nabinya... Merekalah pasukan yang berangkat bersama-sama dengan Thalut...

Kemudian dalam perjalanannya, kebanyakan dari tentara itu berjatuhan pada fase awal dan mereka menjadi lemah pada ujian pertama... Mereka minum dari air sungai... hingga hanya sedikit di antara tentara itu yang mampu menyeberangi sungai itu...

Dari yang sedikit ini pun ternyata tidak semua tegar sampai akhir... Ketika mereka menghadapi sebuah guncangan yang hebat, berupa jumlah musuh yang banyak, maka semangat dan tekad mereka mengendur... dan hati mereka berguncang hebat karena takut...

Namun di tengah konspirasi dahsyat ini, ada beberapa orang yang tetap kokoh dan tetap berpegang teguh kepada Allah dan senantiasa yakin dengan panji-Nya... Kelompok inilah yang kemudian mampu memenangkan perang dan berhak mendapatkan kejayaan dan kemuliaan...

Dari sini kita dapatkan bahwa proses screening terhadap Bani Israil itu selesai melalui tiga lapisan... Dan inti dari inti semua itu adalah bahwa mereka adalah ORANG-ORANG YANG JUJUR KEPADA ALLAH DALAM BERJUANG... dan Allah pun memenuhi janji-Nya, kemudian Allah turunkan pertolongan-Nya kepada mereka...

Pelajaran ketiga, yaitu pelajaran tentang pemimpin yang shaleh, penuh vitalitas, dan beriman yang kesemuanya itu terlihat pada diri Thalut, antara lain :
  • Pengalaman yang cukup tentang bagaimana mengenal jiwa manusia
  • Ketidaktertipuannya dengan semangat luaran kelompoknya
  • Dia tidak mencukupkan diri dengan pengujian pertama
  • Usahanya dalam menguji ketaatan dan tekad kuat yang ada pada tentaranya sebelum perang
  • Tindakannya memisahkan orang-orang yang lemah dan meninggalkan mereka di belakang
  • Sikapnya yang tidak pernah melemah pada saat tentaranya melemah setelah menjalani pengalaman demi pengalaman dan ujian demi ujian sehingga pada akhirnya tidak tersisa dari tentaranya kecuali kelompok terpilih...dan dia terjun ke medan laga bersama mereka...

Pelajaran terakhir, bahwa hati yang senantiasa mendekat kepada Allah, berubah-ubah standar dan persepsinya sesuai tuntutan keadaan... Namun hati yang senantiasa berinteraksi dengan Allah akan mampu melihat setiap realitas yang ada secara proporsional...

Melalui kisah tersebut tampak bahwa kelompok kecil yang beriman itu tetap kokoh dan teguh di medan perang dan berhasil mendapatkan kemenangan dan pertolongan... Meskipun melihat jumlah mereka yang sedikit dan jumlah musuh mereka yaitu Jalut dan tentaranya demikian banyak, namun mereka tidak sedikit pun gentar terhadap kondisi itu... Mereka justru memberlakukan hukum lain dan berkata,

”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit mampu mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kemudian mereka menghadap Tuhannya dengan berdoa,

”Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas kami dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”

Kelompok ini merasa bahwa neraca kekuatan bukan berada di tangan orang-orang kafir... melainkan kekuatan itu hanya ada di sisi Allah... Maka mereka pun meminta pertolongan kepada-Nya... dan mereka pun mendapatkannya dari tangan yang memiliki dan memberi...

Begitulah kebenarannya... bahwa ketika iman yang benar telah melekat di dalam kalbu... maka persepsi dan standar nilai terhadap sesuatu akan berubah bagi orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan Allah... Subhanallah...

***

Dari ayat-ayat ini juga dikisahkan tentang Nabi Daud... Ia adalah seorang pejuang yang masih begitu muda belia, yang berasal dari tengah-tengah tentara mujahid... Dan dari medan peranglah dia kemudian memulai karir hidupnya... yang kemudian dia bergerak di lini kepemimpinan, hikmah, dan tanggung jawab...

Dari sini kita menangkap sebuah isyarat bahwa kerja nyata dan berkreasi di lapangan-lah yang dapat menghasilkan pemimpin... dan keberhasilan menghadapi pengujian di medan-lah yang akan menyingkap bakat-bakat...
Dua pemimpin yaitu Thalut dan Daud muncul di tengah-tengah manusia, dihadirkan oleh keberhasilannya di medan (lapangan), bekerja secara nyata (berkreasi), dan keberpihakan realitas... Inilah jalan para pemimpin, yang berhasil memimpin umat menuju jalan kemenangan dan keteguhan...

***

”Pandangan yang penuh seksama terhadap Al Qur’an akan mampu memperlihatkan bahwa orang-orang yang berusaha untuk menerapkan syariat Rabbul Alamin memiliki ujian-ujian yang besar... dan senantiasa mendapatkan cobaan keimanan dalam setiap fase hidupnya... Dan hal ini akan mewariskan pada setiap generasi umat warisan-warisan para Nabi dan Rasul mengenai cara pandang mereka kepada Dzat Yang Mahatunggal, juga dalam cara pandang mereka terhadap kehidupan, alam semesta, hakikat manusia, dan metode reformasi yang mereka selami di dalam kehidupan ini...”

(DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi)

***

Dan pertarungan al-haq dan al-bathil itu belum usai, Saudaraku...
Kemenangan hari ini dan esok adalah milik kita...
Siapa pun dirimu... Apapun warnamu...
Panji Islam ’kan tetap memayungi kita...
Tak ’kan ada yang tersakiti... Tak ’kan ada yang terdzolimi...
Bebanmu adalah amanah kami...
Sebab kau bagian dari ummat ini...
Maka jangan lunturkan keyakinanmu...
Bahwa HARAPAN itu masih ada...
Semoga Allah senantiasa memayungi kita dengan keadilan-Nya...
Demi kesejahteraan kita bersama...

***

Wahai umat Islam bersatulah...
Rapatkan barisan... Jalin ukhuwah...
Luruskan niat... Satukan langkah...
Kita sambut KEMENANGAN...

Dengan bekal iman... Maju ke hadapan...
Al Qur’an dan sunnah jadi panduan...
Sucikan diri... Ikhlaskan hati...
Menggapai ridho Ilahi...

Dengan persatuan... Galang kekuatan...
Panji Islam kan menjulang...
Tegak kebenaran... Hancur kebatilan...
Gemakan takbir...

ALLAHU AKBAR!!!
(Nasyid ”Senandung Persatuan” oleh Izzatul Islam)

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner