Kamis, 30 Oktober 2008

Pewaris Risalah Para Nabi...

Sedih rasanya ketika mendengar jawaban dari seorang teman ketika ditanyakan, “Kenapa tidak hadir di tatsqif?”. Ana berharap jawabannya ”Oh, afwan Ukh, ana tadi ada syuro’” atau ”Afwan, ana sedang kurang sehat...” dan alasan syar’i lainnya. Namun ternyata jawaban yang ana dapatkan sangat jauh dari yang ana harapkan, jawabannya, ”Gak apa-apa Ukh, cuman lagi males aja...”(What?!)

Separah inikah militansi kita untuk menuntut ilmu Allah? Sungguh sangat tidak pantas kita menyandang predikat sebagai pewaris risalah para Nabi... jika untuk mendatangi majelis-majelis ilmu dengan fisik yang masih sempurna dan dibekali jiwa muda seperti ini pun kita begitu enggan... bahkan mendekati ghirah para Sahabat Rasulullah dalam mengejar ilmu-Nya pun kita masih teramat sangat jauh...

***

Katsir bin Qais ra. Berkata : “Ketika aku sedang duduk-duduk di majelis Abu Darda ra, di masjid Damsyik, datanglah seorang laki-laki menghampiri Abu Darda ra, lalu berkata, “Aku datang dari Madinah Munawwarah ke sini semata-mata untuk mendengar sebuah hadits darimu. Aku dengar, engkau telah mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah saw.” Kemudian Abu Darda ra bertanya kepada laki-laki tersebut, ”Apakah engkau ke sini sambil berdagang?” Laki-laki itu menjawab, ”Tidak.” Abu Darda ra bertanya lagi, ”Apakah ada urusan lain sehingga engkau datang kemari?” Jawab lelaki itu, ”Tidak ada. Aku datang ke sini hanya untuk mengetahui hadits itu saja.” Abu Darda ra berkata, ”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,

Barang siapa pergi menuntut ilmu, maka Allah swt memudahkan baginya jalan menuju syurga. Para malaikat membentangkan sayapnya bagi orang-orang yang menuntut ilmu, dan semua makhluk hidup di bumi akan memohonkan ampunan bagi orang yang menuntut ilmu, hingga ikan-ikan di lautan juga memohonkan ampunan untuknya. Keutamaan seorang alim dengan ahli ibadah seperti perbedaan bulan dan bintang-bintang di langit. Ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi as tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh kekayaan yang tidak ternilai.”

***

Banyak kisah lainnya yang menceritakan bahwa untuk mendapatkan satu hadits, seseorang rela menempuh jarak yang begitu jauh. Perjalanan jauh bukanlah sesuatu yang berat bagi mereka. Perjalanan demi perjalanan dilakukan hanya untuk mendengarkan dan mempelajari satu hadits saja. Hal yang merupakan sesuatu yang mudah bagi mereka.

Sya’bi rah.a. adalah seorang muhaddits terkenal di Kuffah. Suatu ketika, ia mengajar hadits kepada murid-muridnya. Ia berkata,

Sekarang, hanya dengan duduk-duduk di rumah, kalian dapat mempelajari hadits. Sedangkan orang-orang terdahulu harus berjalan ke Madinah untuk mendapatkannya dan mempelajarinya. Pada waktu itu tidak ada tempat untuk mempelajari hadits kecuali harus pergi ke Madinah, di sanalah hadits-hadits tersimpan. Bagi para pecinta, mereka bersedia melakukan perjalanan jauh demi memperoleh ilmu.”

Seorang tabi’in terkenal, Sa’id bin Musayyab rah.a. berkata, ”Aku berjalan kaki siang dan malam untuk mendapatkan hadits demi hadits.”

Imam Bukhari rah.a., pada usia 11 tahun ia mulai belajar hadits. Seluruh kitab karangan Abdullah bin Mubarak rah.a. telah dihapal oleh Imam Bukhari pada masa kecilnya. Pada tahun 216 H ia memulai perjalanan untuk menambah ilmu pengetahuan setelah mendapatkan semua hadits di kotanya, pada saat itulah ayahnya meninggal dunia sehingga ia menjadi yatim. Ibunya turut menemani perjalanannya. Mereka berjalan ke Balkh, Baghdad, Makkah, Basrah, Kuffah, Syam, Asqalan, Hims, dan Damsyik. Dari kota-kota inilah Imam Bukhari rah.a. mendapatkan hadits. Apabila di suatu tempat tersimpan hadits, maka ia akan mendatanginya. Walaupun usianya masih sangat muda, ia sudah menjadi pengajar hadits. Pada saat itu, janggutnya belum tumbuh sehelai pun. Imam Bukhari berkata, ”Aku telah menulis kitab Fatwa Para Sahabat dan Tabi’in pada umur 18 tahun.”

Hasyid rah.a. dan salah seorang temannya berkata,

Kami bersama Imam Bukhari biasa mendatangi guru untuk belajar. Kami bersama teman-teman senantiasa menulis pelajaran, sedangkan Imam Bukhari tidak pernah menulis pelajaran hingga pulang. Setelah beberapa lama kami mengingatkan dirinya, ”Engkau telah banyak menyia-nyiakan waktumu.” Dia hanya diam. Setelah berulang kali dikatakan kepadanya, barulah dia berbicara, ”Kalian ini menggangguku saja, ambillah semuanya yang telah kalian tulis.” Kami pun mengeluarkan kitab kumpulan hadits-hadits yang telah kami tulis sejumlah 15.000 hadits lebih. Kemudian ia membaca semua hadits itu dari hapalannya sehingga kami merasa takjub.”

***

Ana pikir, jika saat ini kita masih merasa enggan untuk menghadiri tatsqif, ta’limat khusus atau sejenisnya (sekecil apa pun itu) tanpa alasan yang syar’i... maka silakan menagisi diri sejadi-jadinya dan beristighfar sebanyak-banyaknya... sebab mungkin noda di hati kita sudah terlalu pekat akibatnya kesombongan dan banyaknya maksiat yang kita lakukan... hingga seruan dan panggilan jihad (da’wiy, siyasiy, ataupun ilmiy) tak menyentuh sedikit pun qalbu kita... Apatah lagi menggetarkan hati dan menggerakkan langkah kaki kita...

Atau jangan-jangan memang bukan kita pewaris risalah yang dinanti-nantikan itu...
Sebab mereka bukan hanya para pemuda militan yang kuat ruhiy dan jasadiy...
Melainkan juga selalu haus akan ilmiy...

(Wallahu a’lam bishawab)

Padamu pewaris negeri...
Harapan selalu terpatri...

Azam tetap membahana...
Hingga terwujudnya janji.
..

(Pewaris Negeri-Izzatul Islam)


Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner