Kamis, 30 Oktober 2008

SELAMAT DATANG SAUDARAKU


”Tidak ada yang lebih mengetahui alur petualangan hidup manusia kecuali Allah SWT. Sang Rabb telah mensettingnya sedemikian rupa dengan memperhadapkan kita pada berbagai tantangan dan kesedihan yang silih berganti sehingga akan mengantarkan kita pada sebuah pilihan hidup.”

***

Selamat datang…! Itulah sebuah ungkapan singkat yang sering menggelayut di pendengaran kita dan terkadang muncul sebagai tulisan singkat yang diformat dengan huruf besar dan terpampang di pintu-pintu gerbang sebagai bentuk sambutan. Tak terkecuali saat kita baru hijrah ke sebuah dunia baru yang dikenal dengan dunia kampus. Saat itu merupakan proses dimana perubahan mulai terjadi pada pola pikir dan prilaku seorang anak manusia. Saat itu status kita berubah ke level yang lebih tinggi yaitu dari seorang siswa menjadi seorang mahasiswa. Namun proses hijrah setiap orang tidaklah selalu sama karena kita akan mengalami tarikan-tarikan antara jalan ‘kefasikan’ dan jalan ‘ketakwaan’ yang berkembang di dunia kampus. Kedua potensi ini pada dasarnya telah ada pada diri setiap manusia sebagaimana Allah SWT berfirman :

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sesunggunya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy Syams [91] : 8-10).

Jika kita sebagai mahasiswa baru tidak pandai- pandai memilih antara dua potensi tersebut maka boleh jadi kita akan terjerumus pada jalan yang akan melalaikan kita dari Allah SWT. Begitu banyak contoh karakter yang telah berkembang pada diri seorang mahaiswa, sebagaimana Firman Allah :

“Kemudian Kitab ini Kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah…” (Q.S. Faathir [35] : 32).

1. Orang yang melampaui batas dan menganiaya dirinya sendiri

Orang semacam ini menjadi lupa akan adanya pengawasan dari Allah yang selalu melihatnya dan lupa akan hari perjumpaan dengan-Nya. Ia lebih menyukai hidup berhura-hura dan berbuat sesukanya. Padahal boleh jadi dulunya ketika ia masih menjadi seorang siswa, ia telah mengenal bahkan terlibat dalam berbagai kegiatan ke-Islaman. Namun sangat disayangkan ia terlena dengan persepsi yang salah sebagai seorang mahasiswa. Ia terseret oleh arus modernisasi dan melupakan jati dirinya sebagai seorang ‘pemuda muslim’.

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)…” (Q.S. An Nazi’at [79] : 37-39).

2. Orang yang bersikap pertengahan

Orang semacam ini melakukan aktivitas kesehariannya hanya sebatas rutinitas. Ia tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya namun tidak pula menyukai untuk berbuat kerusakan. Ia memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang diperbolehkan seraya menunaikan hal-hal yang difardhukan dan menjauhi hal-hal yang diharamkan. Namun sangat disayangkan karena ia tidak menggali ‘potensi’ seorang pemuda Islam yang penuh dengan semangat berda’wah mempertahankan dan memelihara Ad-Diennya padahal potensi itu pada dasarnya telah ia miliki. Ia hanya disibukkan oleh orientasi akademik dan enggan untuk sekadar menggali ilmu Allah.

Padahal Allah SWT telah berfirman :

“ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar…” (Q.S. Ali Imran [3] : 142).

3. Orang yang mempelopori kebaikan

Orang-orang jenis ini adalah pemuda Islam yang sebenarnya, pembimbing tauhid, dan penyuluh ajaran Rasulullah SAW. Mereka adalah orang-orang yang akan membawa fajar baru bagi Islam ini. Sesunggunya mereka adalah para pemuda yang mengetahui arti kehidupan. Mereka mengetahui bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Rabbnya yang mengetahui semua yang ghaib untuk dimintai pertanggungjawaban. Pemuda pelopor kebaikan ini menjadikan Kitabulah sebagai pegangan dan temannya, pelera duka, dan penghibur hatinya. Shalat lima waktu tak pernah tertinggal olehnya dan mereka tak pernah terlambat dari takbiratul ihram berjama’ahnya.

Mereka adalah orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan lagi penuh dengan semangat yang menyala-nyala dalam memecahkan berbagai permaslahannya dan gemar melakukan penelitian. Mereka senantiasa memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang berguna lagi tidak pernah terlambat dari menghadiri pengajian-pengajian (liqo’at) yang mengandung hidayah, kebaikan, dan kajian keilmuan dan keimanan lainnya.

Pelajaran mereka adalah da’wah dan pertemuan-pertemuan mereka penuh dengan semangat yang menggugah dan membangkitkan, dan gerakan mereka adalah ketaatan. Mereka adalah pelopor dalam meraih kebaikan. Namun mereka bukanlah orang yang menghancurkan akademiknya serta bukan pula orang yang taklik (merasa diri paling benar).

***

Itulah sebuah pilihan sekaligus tantangan bagi kita sebagai orang yang baru hijrah ke dunia yang baru karena pilihan akan selalu ada kapan dan dimana pun kita berada. Apakah kita ingin menjadi seorang calon penghuni nar Allah, menjadi orang yang biasa-biasa saja, ataukan memilih untuk menjadi seorang pemuda muslim yang sebenarnya. Semua berpulang dari kedewasaan kita dalam menyikapi kerasnya dunia kampus.

Akan tetapi jangan pernah lupa bahwa di pundak kitalah izzah (kemuliaan) Islam itu bertumpu. Seorang pemuda Islam bukanlah seorang yang lemah dan tak mampu berbuat apa-apa untuk diri dan agamanya.

Seorang mahasiswa muslim seharusnya bangga dengan kemuslimannya. Bukan malah malu dan bahkan menjauhi ajaran yang sebenarnya. Katakanlah dengan penuh keyakinan “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim” dengan membuktikan dari sikap dan tingkah laku.

Contohlah keberanian sahabat Rasulullah, Khalid bin Walid yang namanya harum sepanjang masa lagi terkenal di dunia sebagai sosok yang berhasil membinasakan para penyembah berhala di muka bumi untuk meninggikan panji Laa ilaaha illallah. Jangan pernah lupa bahwa kita adalah keturunan Sa’d bin Abu Waqqas yang telah berhasil menghantam Iwan Kisra dan mengumandangkan takbir di kerajaannya. Sehingga setelah runtuh kerajaan jadilah mereka seperti yang disebutkan dalam firman-Nya :

“ Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.” (Q.S. As-Dukhaan [44] : 25-28).

Janganlah pula lupa bahwa kita adalah keturunan ‘Umar bin Khathab yang bila disebutkan namanya di berbagai tempat para kaisar dan para kisra, mereka (bagaikan orang yang) pingsan tak sadarkan diri (karena gentar).

Malulah kita sebagai keturunan ‘Umar, Sa;d, dan Khalid jika hingga saat ini kita masih berhura-hura dan belum berbuat apa-apa untuk agama yang mulia ini.

Maka salah satu cara agar kita tidak terjerumus dalam jalan kefasikan yaitu dengan banyak mengkaji ilmu-ilmu Allah dan mencari teman atau lingkungan yang dapat memelihara kita dari kelalaian terhadap Allah SWT karena dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa :

“ Seseorang itu berada pada agama teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi temannya.” (H.R. Abu Daud, At-Tirmidzy, dan Ahmad).

Selamat datang Saudaraku… Islam sedang menunggu kebangkitanmu….

Wallahu a’lam bishawab. (mitha_farma)

Diramu dari berbagai maraji’ :

1. Minhajul Qashidin Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk karya Ibnu Qudamah

2. Cambuk Hati karya Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni

3. Intisari Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali Mensucikan jiwa karya Sa’id Hawwa.

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner