Kamis, 30 Oktober 2008

SIAP DIPOLIGAMI, MIT ???


Poligami merupakan issue yang cukup hangat untuk dikupas. Bahkan beberapa waktu lalu issue ini sempat memenuhi media cetak maupun elektronik di negeri kita. Sebenarnya, ana sendiri pun begitu greget ingin menanggapi issue heboh ini. Namun di beberapa kali kesempatan ana tak peroleh peluang untuk menyuarakannya.

Pernah suatu ketika, tepatnya Desember 2006 lalu, saat issue poligami sedang panas-panasnya, teman-teman akhowat dari Jaringan Muslimah menyampaikan ke ana bahwa akan diadakan aksi dan ana diminta bersiap-siap untuk orasi. “Ok, siip...,Ukh!!”, tandas ana dengan yakinnya. Spontan malamnya ana siapkan ‘all about poligami’... tapi parahnya ana lupa satu hal yaitu memastikan issue apa yang akan diangkat... Dalam pikiran ana ketika itu hanya satu, issue poligami.... Lucunya, keesokan harinya, aksi pun dijalankan... Saat ana tiba di lokasi, ternyata jargon-jargon yang terpampang adalah ‘Terima Kasih..Ibu...’ Ternyata issue yang diangkat adalah Hari Ibu, Men... Ya sudah..., maka semangat berapi-api yang sudah ana siapkan semalam harus disimpan dalam... dan orasi yang kami sampaikan adalah untuk ‘Sang Ibu Tercinta’. Yah..., satu kesempatan ana untuk menyuarakan issue poligami telah gagal. When next?? (Eits.. pembaca dilarang tertawa or senyam-senyum...).

Kesempatan kedua. Awal Januari lalu ‘jalur’ ana mengadakan daurah murobbi. Dari 30-an peserta ternyata tak sampai 10 orang yang masih single... selebihnya adalah ibu-ibu... Seperti biasa, sesion terakhir adalah materi Micro Teaching, dan seperti biasa pula, metode yang dipakai adalah bentuk simulasi. Kami pun dibagi menjadi beberapa kelompok dan kelompok ana berjumlah 3 orang. Kami pun saling berhadapan dan secara bergiliran memberikan materi (yang harus kami pilih sendiri diantara beberapa item yang telah disiapkan panitia) di hadapan kelompok masing-masing. Dari item-item yang ada, urutan pertama adalah tentang poligami. ”Wah..., ni dia nih...,the second challenge for me!!” Tapi ternyata di kelompok ana ada ibu-ibu… Walhasil ana harus mengalah padanya yang lebih dulu telah memilih materi poligami untuk diangkat… Maka ana pun harus menyimpan kembali keinginan itu J dan mengangkat materi ’Disiplin sebagai Profesionalisme dalam Da’wah’ sebagai pilihan ana dan alhamdulillah mendapat respon yang sangat baik dari peserta dan tim penilai… Yah mungkin karena semangat ana untuk masalah ’disiplin’ pun tak kalah dengan poligami….

Kesempatan ketiga. Suatu waktu, ana lagi kumpul bareng teman-teman cowok (red:ikhwan2 ammah) ana di kampus. Asyik ngobrol tentang keadaan BEM Farmasi sekarang, entah ada angin apa, topik pembicaraan langsung berubah jadi membahas poligami. Tiba-tiba pertanyaan langsung dilemparkan ke ana (mungkin karena waktu itu cuma ana yang pakai jilbab rada gedean...), ”Siap dipoligami, Mit...???”. Tanpa basa basi, spontan ana jawab dengan tampang meyakinkan dan alis sedikit diangkat ”Siap donk...!!”. Sontak mereka mengangguk-anggukkan kepala. Lantas salah seorang dari mereka bertanya lagi ”Kok jawabnya bisa yakin gitu, Mit??”. Dengan gaya sedikit angkuh ana jawab, ”Wah..., bagi akhwat-akhwat KAMMI masalah poligami mah sudah dibahas TUNTAS...!!! Gak ada yang gak sepakat!!!”. Tampaknya dari jawaban itu mereka sudah sangat puas. Tapi pada akhirnya salah seorang dari mereka menutup pembicaraan dengan pernyataan singkat ”Mit..., klo gitu siap-siap yah jadi istri kedua atau ketigaku...!!”. Ana hanya bisa menanggapi dengan senyum dua senti ke kanan sembari bergumam dalam hati ”Weits... GAWATTT!!”

Kesempatan keempat. Kali ini bukan kesempatan untuk menanggapi via lisan melainkan via tulisan. Sebenarnya ana tak begitu bersemangat untuk mengangkat issue poligami melalui tulisan sebab sudah sangat banyak diangkat di media cetak terutama majalah-majalah Islam. Namun karena beberapa teman me-request terkait pendapat ana tentang poligami, maka baiklah... ”I’ll do it for U, Friends!!!” Apalagi memang tampaknya yang menulis tentang poligami kebanyakan adalah dari kalangan ikhwan (yang tampaknya dianggap memang menguntungkan bagi ikhwan)... dan sangat jarang yang mengangkatnya dari kalangan akhowat sehingga terkesan miring. "So, let I start to write, ok!" But dengan bahasa ana sendiri kali ya...!”

***

Ok, sebelum masuk pada pembahasan serius ana tentang POLIGAMI, ana akan mengawali dengan kisah pengalaman lucu yang ana baca dari sebuah kumpulan cerpen Islami berikut ini :

Suatu ketika seorang ikhwan mengkhitbah (red:melamar) seorang akhowat dan diterima, dimana sebelumnya mereka tak pernah saling bertemu. Sang ikhwan adalah orang yang agak pemalu dan akhowatnya agak pendiam. Sembari persiapan pernikahan, sang ikhwan berkonsultasi pada sahabatnya (ikhwan yang telah menikah) mengenai bagaimana caranya mencairkan suasana pada malam pertama. Sahabatnya memberi masukan, ”Antum harus memulai pembicaraan dengan topik apa saja! Yang jelas ajak bicara saja...”. Usai prosesi pernikahan, malam pertama pun tiba. Maka dengan penuh percaya diri sang mempelai ikhwan mengikuti saran dari sahabatnya. Namun keringat dingin tetap saja mengucur di tubuhnya sedang sang akhowat duduk membelakanginya. Sang ikhwan tiba-tiba tersadar, ”Waduh, topik apa yang harus ana angkat??” ia kebingungan. Rupanya ia lupa mempersiapkan topiknya. Dalam benaknya hanya terpatron ”Yang penting ajak bicara..!!!.”. Cukup lama suasana hening. Tiba-tiba ada sebuah topik yang melintas di benak sang ikhwan dan tanpa basa basi kemudian ia memulai pembicaraan ”Ukhti..., bagaimana pendapatmya tentang poligami...??” Sang akhowat tak langsung menjawab. Suasana kembali hening. Tiba-tiba dari arah sang akhowat terdengar isak tangis... Spontan sang ikhwan kebingungan menghadapinya... Tahu tidak penyebab sang akhowat menangis tersedu-sedu???, ternyata sang akhowat ditengah keheningan tadi bertanya-tanya dalam hati ”Kenapa baru malam pertama sudah membahas poligami??? Artinya ana sudah akan dipoligami???”

Ok, itu tadi sekedar intermeso sekaligus pembelajaran buat para ikhwan sebelum menghadapi malam pertama. Next, kita akan masuk ke area pembahasan serius tentang poligami, so... don’t move from ur site!! Keep in touch, ok!!!

***

Sudah menjadi keharusan bagi para aktivis da’wah bahwa issue poligami sebagai objek yang santer dibahas di berbagai media merupakan prokontra yang harus segera dituntaskan. Lagi-lagi ana mengatakan aktivis da’wah… sebab tidak lain dan tidak bukan, aktivis da’wahlah yang harus pertama kali angkat bicara ketika syari’at Islam coba dilecehkan, bukan begitu??
Sebagai pembuka ana akan mencoba menanggapi issue-issue miring terkait poligami. Siapa orang-orang yang dengan sengaja menyembulkan issue-issue miring tersebut ke permukaan?? Siapa lagi kalau bukan kaum feminis dan sepupunya, yaitu para sekularis. Sebenarnya mereka bukan orang jauh kita, melainkan saudara kita juga yang secara hitam di atas putih (red: KTP) sama-sama berlabel Islam. Bahkan mereka mengangkat poligami itu pun dengan dalih sebagai orang2 yang paham benar dengan Islam. Berikut beberapa dalih yang paling sering mereka gunakan:

1. Poligami merupakan penyebab terbesar terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tan

gga (KdRT)
2. Poligami merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan sehingga harus diangkat KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender)
3. Rasulullah sendiri melarang putrinya dipoligami
4. Al-Qur’an menyebutkan bahwa tak ada manusia yang mampu berbuat ”adil”, dengan membenturkan antara QS An Nisaa ayat 3 dengan ayat 129; dan lain sebagainya.

Ok, ana akan membahas satu persatu tanggapan atas berbagai dalih yang selalu mereka teriakkan itu.

Pertama, tentang KdRT. Jika kita lihat lebih jauh, ternyata KdRT tidak hanya terjadi pada keluarga yang menerapkan poligami. Pada keluarga monogami pun banyak yang menjadi korban KdRT. Dan setelah digali akar permasalahan KdRT ternyata bukan diakibatkan oleh poligami ataupun monogaminya, melainkan lebih pada ketidakpahaman para suami terhadap hak-hak istri, bahasa sederhananya, akibat banyaknya suami-suami yang tidak sholeh. Lantas apa solusinya? Sangat sederhana sebenarnya. Bukan dengan pelarangan poligami... karena memang bukan itu substansi permasalahannya... melainkan meningkatkan pembinaan terhadap para suami agar menjadi lebih sholeh, sebab suami yang sholeh tak akan mungkin melakukan kekerasan terhadap keluarganya. The main conclution is pelegalan syari’at Islam, termasuk pelembagaan poligami tentunya. Susah memang penerapannya, namun sebuah hasil besar juga harus diawali dari pemikiran besar dan kajian mendasar, bukan. So, anggapan para pemuja antipoligami dengan dalih untuk membasmi KdRT dengan cara pelarangan poligami adalah salah besar.

Kedua, tentang KKG. Ide KKG ini bukan muncul dengan sendirinya melainkan dari sebuah latar belakang, yaitu sebuah asumsi bahwa perempuan merupakan kaum yang tertindas dan selalu didiskriminasi oleh kaum laki-laki. Mereka beranggapan bahwa, perempuan yang identik dengan pekerjaan kerumahtanggaan (sektor domestik) juga dicitrakan sebagai makhluk terjajah, terpenjara atau terampas kemerdekaannya (wow..!!), sehingga dengan KKG, perempuan akan ‘dibebaskan’ dari ‘penjara’ dengan mengeksploitasi mereka agar diberdayakan di sektor publik. Jika dikaitkan dengan poligami, maka menurut mereka, logikanya, apabila laki-laki boleh beristri dari satu maka perempuan pun seharusnya boleh bersuami lebih dari satu (poliandri)
(Weits..).
Wah…, kalau pemikiran seperti ini tidak segera diberangus maka akan sangat berbahaya. Tapi kalau memang ingin bermain logika, maka harus dijawab pula dengan logika donk. Diantara suami dan istri, yang dianugerahkan kesempatan untuk melahirkan anak adalah... istri tentunya. Bisa kita bayangkan, bagaimana jika seorang perempuan dalam waktu bersamaan bersuami lebih dari satu. Maka tentu mereka akan kesulitan mencari tahu dari suami yang manakah anak yang dikandungnya?? Meskipun sudah ada alat canggih untuk test DNA, tetap saja akan menambah permasalahan di negeri kita, sebab tidak semua masyarakat kita memiliki taraf kehidupan yang tinggi sehingga mampu membiayai testnya. Maka akan semakin kompleks-lah permasalah di bumi Indonesia. Artinya jika ide poliandri (sebagai bentuk KKG) juga ingin diperbolehkan sebagaimana poligami, maka bukan solusi atas beban permasalahan di Indonesia yang kita tawarkan, melainkan meng-add list problems of Indonesia.

Sebenarnya, jika kita mau mengkomparasikan dengan kehidupan Rasulullah saw, dimana beliau beristri lebih dari satu (berpoligami), toh ternyata beliau tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan di sektor domestik. Beliau bahkan memasak dan melakukan pekerjaan kerumahtanggaan lainnya sendiri. Bukankah itu menunjukkan bahwa substansi permasalahan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender tak ada hubungannya sama sekali dengan poligami, melainkan, sebagaimana point pertama, karena ketidakpahaman tentang bagaimana sebenarnya Islam mengatur tentang keluarga.
(makanya... tarbiyah donk!!)

Ketiga, dalih bahwa Rasulullah melarang putrinya, Fatimah, dipoligami oleh Ali ra. Jika kita mencermati secara keseluruhan (bukan sebagian) tentang hadits yang dijadikan tameng hingga kaum sekularis menyatakan tentang pelarangan poligami oleh Rasulullah tersebut, ternyata bukan merupakan bentuk pelarangan poligami, tetapi Rasulullah melarang Ali untuk menikahi putri dari Abu Lahab (musuh Allah) sebab menurut Ibnul Munayyir al Iskandari, seorang ulama, ”itu termasuk dalam wanita-wanita yang diharamkan”. Rasulullah sendiri pernah bersabda , ”Tidak akan berkumpul putri Rasulullah bersama putri musuh Allah”. Lagipula, seandainya poligami memang dilarang, larangan itu tentu bukan hanya ditujukan kepada Ali bin Abi Thalib, tapi semua sahabat beliau, termasuk Rasulullah, namun nyatanya tidak, bukan?

Keempat, tentang pembenturan ayat-ayat Allah swt mengenai kemampuan untuk berbuat “adil”. Ok, pertama kita harus luruskan dahulu pemahaman kita bahwa sangat tidak mungkin Allah memberikan ayat-ayat yang saling kontradiktif. Tuduhan yang mengatakan bahwa QS An Nisaa ayat 3 berbenturan dengan QS An Nisaa ayat 129 sangatlah tidak benar.


“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bila mana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki,” (QS An Nisaa’ : 3)

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…” (QS An Nisaa’: 129)


Berikut penjelasannya. Dalam berbagai kitab fiqh dan tafsir, para ulama telah menjelaskan bahwa makna “adil” pada QS An Nisaa’ ayat 3 berkaitan dengan keadilan dalam pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban yang bersifat zahir, yaitu nafkah zahir dan batin, termasuk hak bermalam (ehm…). Sedangkan makna kata “adil” pada QS An Nisaa’ ayat 129 berbicara tentang kecenderungan hati, dimana Allah yang Maha Memiliki hati manusia. Oleh sebab itulah Rasulullah saw berdoa :


“ Ya Allah, inilah pembagianku terhadap apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau hokum aku pada apa yang Engkau miliki, dan aku tidak miliki.” (HR Abu Daud).


Apatah lagi, di sisi lain, peringatan bagi suami yang tidak berlaku adil pada istri-istrinya tidaklah ringan. Rasulullah bersabda :


“... Ia akan datang dengan berjalan dengan pundak miring di akhirat kelak.”
(HR Abu Dawud)


Sesungguhnya, menikah atau belum, poligami atau monogami, seorang Muslim tetap harus bersikap adil dalam kehidupannya sebab keadilan merupakan prinsip utama Islam. Sebagaimana firman Allah :

Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS Al Maidah : 8)


Berikut ana kutip hasil wawancara antara tim dari majalah Sabili dengan seorang istri pertama (Ummi Zahra) dari keluarga bahagia yang menerapkan poligami dari seorang aktivis Majelis Mujahidin Indonesia, Fauzan al-Anshari. Ummi Zahra menceritakan ihwal poligami suaminya. Saat itu, menurutnya suaminya mengatakan ”bukan karena saya jatuh cinta lagi”, ia menikah. Tapi lebih pada upaya menjalankan syari’at Allah. ”Suami saya ingin membuktikan bahwa dia mampu seperti apa yang disebutkan Al Qur’an,” kata Ummi Zahra. Persoalan cemburu menurutnya hal yang manusiawi.
”Kalau cemburu itu sih wajar” tuturnya. Urusan adil, terangnya, bukan urusan dia dengan suami. ”Kalau saya yang menilai adil itu nantinya relatif. Adil itu urusan suami saya dengan Allah swt. Dia yang bertanggung jawab sama Allah”, tambah Ummi Zahra.

***


Sudah sangat jelas bagi kita bahwa musuh-musuh Islam sudah semakin nyata di bumi Indonesia. Mengapa ana mengatakan demikian? Sebab usaha-usaha mereka untuk melecehkan Syariat Islam kini tersistematis dengan sangat rapi dan legal pula. Tahukah kita, bahwa misi besar dibalik issue antipoligami adalah bentuk konspirasi besar zionis yang ingin mengaburkan bahkan menjauhkan umat Muslim dari syariat Islam yang sebenarnya. Jika kita sebagai umat Muslim tidak segera meng-counter pemikiran dan issue yang mereka angkat, maka apa jadinya generasi Muslim ke depan??

Poligami jelas-jelas merupakan syariat Allah. Poligami, menurut Hasyim Muzadi, merupakan pintu keluar darurat (emergency exit). Sangatlah aneh, ketika Allah telah menyediakan pintu untuk dilewati, namun kita berusaha ”menutup”nya. Itu sama halnya menentang hukum Allah. Dan menentang (menghalang-halangi) penerapan hukum Allah sama dengan ”kafir”. Naudzubillahi min dzalik.

***


Bagi para ikhwan, sepanjang telah ditopang oleh kesiapan, kafa’ah ilmu tentang poligami serta pengetahuan akan konsekuansi ”adil” yang dimaksud, tafadhdhal melaksanakannya, sebab sebagaimana yang dikatakan Ummi Zahra tadi, ”Adil itu urusan suami dengan Allah swt. Dia yang bertanggung jawab sama Allah”. Dan perlu diingat bahwa jika ingin menjalankan syari’at Islam termasuk sunnah Rasul, maka laksanakanlah dengan totalitas, Islam secara kaffah, tidak dengan memilah-milah melaksanakan hanya yang sesuai dengan nafsu kemanusiaan.

Bagi para akhowat, sebenarnya pemahaman tentang poligami telah sangat jelas sebab sebagaimana yang ana katakan sebelumnya, masalah poligami sudah dibahas tuntas di kalangan akhowat, terutama dalam bahasan-bahasan di ”lingkaran” masing-masing. Termasuk jaminan Allah atas Jannah-Nya, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan segala yang tak pernah dipandang oleh mata dan tak pernah didengar oleh telinga sebelumnya... bagi para istri yang dengan penuh ke-ridho-an mengizinkan sang suami berpoligami. Bahkan Allah memberikan pilihan bagi para wanita yang merasa tak sanggup untuk menjalankannya, yaitu dengan meminta cerai. Tinggal kemudian bagaimana para akhowat mempersiapkan dirinya untuk memilih antara menyambut janji Allah itu sembari berdoa agar senantiasa diberikan kekuatan dalam menghadapi ujian atas keimanannya ataukah membiarkan peluang syurga Allah itu berlalu begitu saja....

Bicara memang mudah, berani buktikan tidak??? Anti khan belum nikah!! Hati-hati nanti kena teguran Allah dalam Surat As Saff ayat 3 lho!!” kata salah seorang teman ana.

Siapa sih yang tak ingin peroleh jannatullah?? Bukankah Allah swt telah menyediakan saluran-salurannya. Termasuk di dalamnya ketika sang ibu syahid ketika melahirkan anak tercinta, dan diantaranya pula yaitu seorang istri yang ikhlas dipoligamu oleh sang suami. Bahkan niat baik pun dapat mengantarkan kita ke syurgaNya, termasuk niat untuk mengisi saluran-saluran itu. Dan Allah Maha Mengetahui niat-niat dibalik setiap kata yang terucap dari lisan kita. Sekarang pilihan itu ada di tangan kita, para akhowat.

***


Sekali lagi ana ingin menegaskan bahwa pada dasarnya semua akhowat (kader tarbiyah) sepakat dengan poligami, tak ada yang tak sepakat. Sebagaimana ustadz Surahman, Dr Surahman yang juga alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dengan bijak mengatakan ”Kalau kebanyakan perempuan (akhowat) itu belum apa-apa sudah menolak poligami, berarti persoalan tarbiyahnya nggak jalan.” Bahkan salah seorang ustadzah pernah mengatakan ”Jika ada akhowat yang tidak sepakat dengan poligami, maka patut dipertanyakan ’keakhowatannya’...!” Tapi ingat ukhti, ke-sepakat-an kita bukan karena perkataan manusia melainkan harus dengan al-fahm yang mendalam. Tinggal kemudian pertanyaannya adalah sudah siapkah para akhowat mengaplikasikannya??? We will see!!!
(Wallahu a’lam bishowab)
(By mitha_farma)

12 komentar:

ze' mengatakan...

terus terang ana salut sekali sama pemahaman anti!!!!!!!, ketika istri ana berkata kepadaku; saya siap berbagi dgn wanita lain(amal sunnah), maka ana langsung sujud syukur karena gembiranya. persoalan jadi poligami atau tidak itu urusan Allah, yg jelas istri ana sudah ada kefahaman terhadap syariat Allah yg agung ini. seandainya wanita-wanita kita memiliki kefahaman seperti ini, masya Allah.

Anonim mengatakan...

Sebelum menemukan tulisan ini, saya membaca tulisan - tulisan lain yang menyudutkan Islam mengenai Poligami. Namun dengan penjelasan dari tulisan ini, semuanya jadi Gamblang, orang yang membuat tulisan yang menyudutkan tersebut hanya memandang secara parsial dan menggunakan dasar yang lemah. Terima kasih atas tulisannya.
Allohu Akbar.

Herdy Faizal mengatakan...

apa yang ukhti fahami merupakan bagian dari keyakinan yang kaffah terhadap ajaran Islam. an mendukung apa yang menjadi pemahaman ukhti meskipun tidak semua akhwat memahaminya seperti itu karena hal itu butuh proses untuk meluluhkan hatinya agar menerima seseorang selain suaminya di dalam hatinya dan belum siap berbagi kebahagiaan. istri ana pun tidak mau dipoligami dan ana tidak mungkin memaksakannya, yang ana lakukan hanya bersabar menerima keadaan ini. padahal alasan ana ingin beristri lagi bukan hawa nafsu dasarnya akan tetapi ana punya keyakinan mampu untuk beribadah menjalankan Syariat Islam secara kaffah dan mampu dengan rizki yang telah Alloh berikan kepada ana untuk menafkahi keduanya selain itu lebih memperbanyak keturunan yang sholeh dan sholehah agar Islam lebih dominan. sukses selalu ukhti...

Herdy Faizal mengatakan...

apa yang ukhti fahami merupakan bagian dari keyakinan yang kaffah terhadap ajaran Islam. an mendukung apa yang menjadi pemahaman ukhti meskipun tidak semua akhwat memahaminya seperti itu karena hal itu butuh proses untuk meluluhkan hatinya agar menerima seseorang selain suaminya di dalam hatinya dan belum siap berbagi kebahagiaan. istri ana pun tidak mau dipoligami dan ana tidak mungkin memaksakannya, yang ana lakukan hanya bersabar menerima keadaan ini. padahal alasan ana ingin beristri lagi bukan hawa nafsu dasarnya akan tetapi ana punya keyakinan mampu untuk beribadah menjalankan Syariat Islam secara kaffah dan mampu dengan rizki yang telah Alloh berikan kepada ana untuk menafkahi keduanya selain itu lebih memperbanyak keturunan yang sholeh dan sholehah agar Islam lebih dominan. sukses selalu untuk ukhti...

Anonim mengatakan...

afwan ana copy tulisan antum, jazakillah khiran

BisnisOnline mengatakan...

minta izin untuk mengcopy tulisan anti, jazakillah khoiran

Anonim mengatakan...

yang nulis dah nikah belum ya??
kalo bener antara ucapan dan perbuatan...BUKTIKAN menjadi istri ke dua.....
atau cuma jago bicara saja..???

Mujahidah Farma mengatakan...

AlhamduliLlah sudah nikah.. :)
Tafaddhal dibaca di profil blog ini di pojok kiri atas..

Ana tidak akan jadi isteri ke-2 sebab ana sudah menjadi isteri pertama bagi suami ana :)

JazakumuLlahu khair

Beni Act mengatakan...

Woww.. ajiibb.. beneran ini akhwat yg nulis?? koq seperti tak yakin ya ada akhwat yg sampai memikirkan poligami sebegini dalam.. Alhamdulillah sudah menikah ya.. setelah menikah, cuma tanya, apa pandangan ukhti berubah ttg poligami, kalau suami mau poligami apa diizinkan? apa ada syarat2 utk suami utk poligami? Jazakillah utk jawabannya :) #sambil doa semoga akhwat macam ini semakin banyak di Jakarta :D

Zainuddin Batumarta mengatakan...

Sungguh beruntung para suami yg memiliki istri spt anti, disaat zaman skrg banyak umat islam jauh dr agama yg membenci syariat poligami ini bahkan duduk bersama musuh2 ALLAH dlm membenarkan kebenciannya pd syariat yg benar, lupa atau egois pd nasib akhwat yg mmg dlm perbandingannya dg ihwan sdh 1:7, rela melihat saudarinya tdk sempat bahagia menyempurnakan separuh agamanya dn melahirkan generasi robbani, justru anti mampu bersikap objektif dlm pemahaman poligami yg biasanya hanya muncul dr ikhwan, mari kita kokohkan keluarga kita utk siap mengamalkan sluruh syariat ALLAH scr kaffah, mjd istri pertama, ke2, ke3, atau ke4 bukanlah inti permasalahannya, yg lbh penting adlh apakah kita siap menerima dn menjalankannya dan layak dijamin dan dimasukkan ALLAH dlm surgaNYA. Salam dr ikhwan alkhamdulillah sdh beristri 2.

dedi mardiansyah mengatakan...

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
ukhti fillah.mhn info kl ada teman anti atau ada akhwat yg memiliki pemahaman seperti ukhti dan siap untuk di poligami, insyaAllah ana beserta istri telah siap untuk menjalankan syariat Allah tsb. atau hub Ana di alamat email dedi.mardiansyah@yahoo.co.id atau 08117812205.jzkllh

dedi mardiansyah mengatakan...

ust.kl ada info akhwat yg siap di poligami, mhn bantuan nya di alamat email dedi.mardiansyah@yahoo.co.id. jzkllh semoga diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT

Template Design by SkinCorner