Kamis, 30 Oktober 2008

SIAP NIKAH UKH???


Percaya atau tidak, berdasarkan survey yang ada, ternyata setiap pembicaraan yang berbau ”nikah” ataupun ”walimah” selalu mengundang perhatian khusus dan lebih di kalangan ikhwah (ikhwan wal akhwat). Bahkan seorang ustadz mengatakan bahwa keyword yang mampu memancing kembali perhatian peserta ikhwah ketika sedang lesu atau mengantuk di tengah materi yang disampaikannya adalah kata ”nikah”.

Berdasarkan survey pula, kebanyakan ketika pemateri menghadirkan pembicaraan tentang pernikahan antara ikhwan dan akhwat, maka para ikhwan akan mulai kasak-kusuk, senyam-senyum sambil bersuara, dan bertakbir...(sampai2 ada akhowat yang mengatakan : ”Beraninya cuma takbir!!”). Kemudian para akhwat akan saling bertatapan lalu senyam-senyum kecil tanpa suara dan sebagian saling mengerutkan dahi (entah apa maksudnya). Juga ada yang mengatakan bahwa ikhwah sangat rajin berkumpul di dua kegiatan utama, pertama saat aksi dan yang kedua saat ada walimatul ursy. Serta masih banyak lagi hasil survey (secret tim : pemerhati ikhwah) lainnya.

***

Ada pengalaman seru yang ana dapat ketika masa tarbiyah di kampus telah berjalan 1 tahun. Saat itu ana baru mulai diaktifkan dalam da’wah kampus, tepatnya di penghujung tahun tahun 2003. Ketika itu, selama beberapa kali pertemuan liqo’at, murobbiyah ana mencekoki kami dengan materi-materi yang terkait dengan kesiapan untuk menikah (padahal saat itu beliau pun belum menikah...) Dengan penuh semangat beliau menjelaskan ”Menikah adalah da’wah, Ukhti...apalagi kalau anti masih kuliah sudah berani menikah...Subhanallah...!!”. Tiba pada ujung materi, satu persatu kami ditanya, ”Siap nikah,Ukh..???”. Spontan berbagai ekspresi pun muncul... ada yang senyum-senyum menanggapi dengan bercanda dan ada yang manggut-manggut. Saat pertanyaan itu sampai pada giliran ana, dengan semangat dan wajah serius ana menjawab ”InsyaAllah siap, Kak!!”. Walhasil sejak itu, selama beberapa pekan, yang menjadi pokok pembicaraan teman2 akhowat saat bertemu adalah masalah nikah dan walimah. Bahkan teman yang awalnya ”males” hadir liqo’ jadi bersemangat untuk hadir. Ana kembali berpikir..ternyata hasil survey itu benar...

Selang beberapa lama, ternyata murobbiyah ana membuktikan kata-katanya bahwa beliau akan menikah sebelum sarjana. Ana dan mutarobbinya yang lain berdecak kagum atas keberanian dan kebulatan tekadnya. Ketika itu, mujahid yang datang menjemputnya ternyata berasal dari harokah yang berbeda hingga sempat menimbulkan kontroversi di kalangan ikhwah. Bahkan tidak sedikit yang kecewa dan ”patah hati”. Namun sekali lagi beliau membuktikan azzamnya di jalan da’wah ini bahwa ia akan tetap berkomitmen memilih jalan ini meskipun sang pendamping hidupnya belum memilih jalan da’wah yang sama dengannya. Hingga setahun kemudian, akhirnya ana dan teman liqo’ lainnya dimutasi ke murobbiyah lain dikarenakan beliau harus ikut ke kampung halaman sang pendamping hidupnya...

***

Sebenarnya, tak ada yang salah dari seorang akhowat ketika ia harus memiliki pendamping hidup dari harokah yang berbeda atau bahkan orang ammah sekalipun sebab ia hanya menyambut sang mujahid yang dengan penuh kesiapan datang menjemputnya. Dan, tak ada alasan bagi para ikhwan untuk menyalahkannya sebab kesalahan ada pada dirinya yang tak datang lebih dahulu menjemput sang bidadarinya. Setangguh apapun seorang akhowat, ia tetap hanyalah seorang pemilih pasif sedangkan ikhwan adalah pemilih aktif. Dan tak semua akhowat sanggup menjadi khadijah yang datang ”menjemput” Rasulullah..., sepakat???
Kata seorang ustadzah, justru di masa ini akhowat harus mampu melakukan ekspansi da’wah termasuk kesiapan untuk menikah dengan ikhwan ammah. Apatah lagi jumlah mujahidah jauh lebih banyak dibandingkan mujahid. Maka pertanyaannya kemudian, ”Sudah siap nikah, Ukh...???” (Wallahu a’lam bishowab)

***


Teringat pesan beliau (murobbiyah ana) sebelum beliau pergi ke pulau seberang :

”Selagi masih sendiri isilah waktumu dengan aktivitas dan amanah da’wah...
Nikmatilah setiap lelah dan masa-masa indahmu berjuang di kampus...
Tingkatkan kualitas ibadahmu... Nikmatilah qiyamullail di setiap malammu...
Sebab saat engkau telah bersama pendamping hidup, waktumu tak lagi seperti itu
Qiyamullail belum tentu dapat kau nikmati di setiap malammu...”

3 komentar:

Anonim mengatakan...

assalamualaikum...
afwan tidak sengaja saya menemukan blog anda, salut... backsoundnya menggugah semangat, sampai betah saya ngedengerinnya sambil buka buka situs lain...
yach salam kenal saja, saya seorang ikhwan dari pulau seberang, Sumatra Riau Dumai.
Sudah nikah yaa..?? Alhamdullilah berarti tidak menimbulkan fitnah.
Yapp, segitu nie mau lanjutin browsing sambil ditemani backsonud anda...
Syukron... :D

Abu Yusuf Al Benggaly mengatakan...

yah... memang indah, berat, repot, bangga, mulia, menjadi akhwat yang siap mengarungi kehidupan bersama pendamping hidupnya. Menjalani ibadah yang sama dgn tantangn yg lebih, tentu diganjar dgn pahala yg lebih juga. Kalo biasa nikmat bermunajah qiyamulail sebelum "dimiliki" sang suami,maka jadikan setiap detik menjadi istri sbgai ladang ibadah dgn cara yg berbeda. Hanya beda cara saja kok. Menyikapi dgn benar itu lebih baik. Jgn dijadikan alasan, menjadi istri sbgai penjauh kita dari kenikmatan berkhalwat dgn Allah SWT. Maaf ya..ana gak setuju dengan murobiyah anti

arief adi nugroho mengatakan...

inspiratif sekali. setelah membaca artikel ini saya dapat menyimpulkan bahwa banyak akhowat yang menanti untuk di khitbah. terimakasih
untukcalonistriku.blogspot.com

Template Design by SkinCorner