Kamis, 30 Oktober 2008

Skenario Allah


Feb 2007

Ana tak tahu harus mulai dari mana menggoreskan pena malam ini…

Terlalu besar kegembiraan ana…

Berbunga-bunga…

Warna-warni...

Serasa memenuhi dada ana…

Tapi terasa agak sesak...

Hampir mirip seperti ketika ana sedang “patah hati” saat pertama dan terakhir dapat nilai error di semester lima dulu...

Namun beda warnanya…

Karena kali ini seolah ekspresi senyuman selalu melekat di wajah ana...

Enggan untuk lepas...

Seolah ana ingin sekali berteriak sambil berjingkrak-jingkrak...

Persis seperti tayangan kontes tarik suara di televisi yang ana saksikan kemarin... dimana para pemenang tak bisa membendung kebahagiannya...

Padahal kemarin ana beranggapan bahwa ekspresi mereka itu sangat konyol...

Tapi ternyata saat ini ana seolah bisa merasakan apa yg mereka rasakan kemarin...

Sesekali ana harus menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan seraya beristighfar untuk membendung emosi ana...

Rasanya tahmid ingin terus-menerus berkumandang di sanubari ana...

***

”Welcome to semester 10, Mit...!!” Itulah sapaan tanpa suara yang keluar dari hati kecil ana saat mengisi KRS beberapa bulan lalu. Sempat rasa khawatir akan pertanyaan ”kenapa belum selesai, Mita??”melintas di hati ana ketika akan meminta tanda tangan ibu (dosen) Pembimbing Akademik (PA) ana yang kebetulan juga sebagai Ketua Jurusan ana di Farmasi yang terkenal sangat tegas. Namun ternyata kekhawatiran ana waktu itu tidak terjadi sama sekali... bahkan beliau tersenyum begitu ramahnya karena alhamdulillah SKS ana sudah penuh, tinggal penyelesaian penelitian dan skripsi, katanya. Tapi..., meskipun ini semester kedua dimana ana sudah tak ada perkuliahan, tetap saja ana harus rajin ke kampus untuk bergelut di laboratorium mengolah sampel penelitian ana. (Basicly, I love to do some researches in a laboratory, but not really like to make the reports).

***

Kalau dipikir-pikir lucu juga kisah ana. Sebenarnya pengajuan judul beserta proposal penelitian telah ana rancang sejak Juni 2006 karena ana sudah tak ada perkuliahan. Meskipun waktu itu banyak teman yang menyarankan untuk tidak mengambil judul penelitian itu disebabkan menurut mereka judul yang ana angkat terlalu susah (katanya sih lebih cocok untuk penelitian mahasiswa profesi Apoteker), namun ana tetap bersikeras mengambilnya karena sejak awal semester dua ana telah berkeinginan kuat untuk melakukan penelitian yang bisa menghasilkan suatu produk tertentu. Karenanya, ketika mendapatkan judul itu ana begitu bersemangat meskipun harus melakukannya sendirian. Ana pun akhirnya mengambil judul ”Formulasi Krim Antioksidan dari limbah Kulit Buah Kakao”.

Selama beberapa pekan ana disibukkan dengan hunting berbagai literatur di perpustakaan, toko buku, termasuk browsing di internet untuk mendukung penelitian ana, yah...sebagaimana sibuknya orang yang menyusun proposal. Namun, setelah rancangan ana agak rampung, ternyata penelitian ana harus terhambat beberapa bulan karena sampel kulit buah kakao (cokelat) tak ana dapatkan disebabkan sedang tidak musim, katanya. Dan ketika ana dapat info bahwa ada pohon kakao yang berbuah di daerah kabupaten Maros, ana sudah tak sempat untuk ke sana sebab ternyata ana telah disibukkan dengan padatnya agenda da’wah yang ketika itu tak henti-hentinya dari satu pekan ke pekan berikutnya. Seingat ana, waktu itu tak ada hari tanpa rapat (biasa ajha lagi...) bahkan dari pagi hingga sore dan tak jarang ana harus mabit di luar. Sampai-sampai tak terasa ana telah bertemu dengan bulan Oktober tanpa memulai sedikit pun penelitian. Padahal penelitian ana harus memakan waktu 3-6 bulan untuk diselesaikan. Walhasil, target ana untuk wisuda S1 di bulan Desember 2006 harus ana rubah total. Kesedihan sempat melintas di hati ana ketika teman-teman yang dulu mengajukan judul pada waktu yang sama dengan ana telah menyelesikan penelitian mereka dan bersiap-siap untuk menggunakan toga sarjananya di bulan Desember... Namun ketika itu ana berpikir ”Pantaskah seorang yang disebut orang sebagai aktivis da’wah mengeluh dan menyesal dengan perniagaan yang telah ia nisbatkan untuk da’wah ilallah??? Ini baru sekelumit pengorbanan, Ukh... Anti belum diminta untuk memanggul senjata dan berdarah-darah di medan perang...!! Keimanan itu harus dibuktikan dengan pengorbanan..., keikhlasan... serta kesabaran..., bukan sekadar kata atau pun teori saat mengisi halaqoh di hadapan binaan-binaan anti..!!. So, jangan berhenti untuk sekadar bersedih sebab perjalanan masih panjang. Yakinlah akan janji Allah!!! Sebab Allah Maha menepati janji!!!”

***

Pekan pertama Oktober ana sempat menjadi ”wanted” di fakultas. Meskipun setiap hari ana ke kampus, namun tak pernah sempat singgah di fakultas... sebab ketika itu sedang sibuk di kepanitiaan FSLDKD yang bersekretariat di Ramsis Unhas, sehingga ana hanya beredar di seputaran Ramsis dan MKN (Masjid Khairun Nisaa’). Kata teman-teman, ana dicari-cari oleh petugas bidang kemahasiswaan fakultas sebab beasiswa ana dan dan gaji asisten telah cair (he..he..). Maka mau tak mau ana harus ke bidang kemahasiswaan untuk mengurusnya. Setelah dua hari bolak-balik di kantor jurusan dan ruang bidang Kemahasiswaan, tiba-tiba ana dipanggil oleh Pembantu Dekan III (PD III) F-MIPA. Entah ada angin apa, PD III tiba-tiba bertanya, ”Sudah penelitian?”.

Terang saja ana kaget dan dengan cengar-cengir menjawab, ”Belum, Pak.”

Lantas beliau bertanya lagi, ”Tapi sudah buat proposal penelitian?”.

Kali ini ana agak lega menjawabnya, ”Sudah, Pak!”

”Bisa saya lihat”, tandasnya lagi.

Wah, perasaan ana jadi tidak keruan, dalam hati ana bergumam ”Ngapain Bapak mau baca proposal penelitian ana??! Apa harus diasistensi juga oleh PD III?!” Namun rupanya beliau menangkap mimik kebingungan ana. Setelah membaca proposal ana, ternyata beliau menyarankan untuk memasukkannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari DIKTI (Ooo.. itu toh maksudnya...).

Wah, kapan itu, Pak? Syaratnya apa saja? Date line-nya kapan, Pak?”, tanyaku penasaran.

”Sebenarnya tanggal 3 ini terakhir pengumpulannya... Tapi, kalau Anda siap untuk ikut PKM, saya kasih waktu sampai tanggal 5. Program ini sangat bagus untuk meningkatkan minat mahasiswa dalam mengasah kreatifitasnya, terutama dalam bidang penelitian (riset-riset). Lagipula kalau proposal anda lolos seleksi, lumayan dana yang diperoleh dari DIKTI untuk biaya penelitian Anda. Syaratnya, diketik sesuai format dan dijilid kemudian digandakan sejumlah yang diatur pada pedoman pembuatan PKM, nanti minta buku petunjuknya pada Pak Ahmad di ruang sebelah... Persyaratan berikutnya, anggota tim minimal 3 orang... jadi Anda harus mencari minimal 2 orang lagi sebagai anggota tim dan kalau bisa yang lebih muda angkatannya agar jika nantinya Anda telah sarjana lebih dulu maka anggota tim Anda yang akan mempresentasikan hasilnya. Bagaimana…, Anda sanggup??”, pak PD III menjelaskan.

”Artinya tinggal 2 hari lagi ya, Pak?! Baik, insyaAllah saya sanggup, Pak!”, jawabku yakin. Namun dalam hati ana sempat berbisik ragu, ”Bisa gak ya?! Ah, optimis ajha! Yang penting coba dulu... Berhasil or gak itu belakangan... Semangat!!! Kamu pasti bisa!”. Semangat ana menggebu-gebu waktu itu... Apalagi langsung ingat nasyid Izzatul Islam yang bersemangat....(Cayoo.. maju..pantang mundur...).

Beberapa saat kemudian ana bergegas ke ruang Pak Ahmad. Setelah mendapatkan penjelasan detil dari beliau, ana langsung hunting anggota tim. Alhamdulillah ana berhasil meminang 3 orang mahasiswa angkatan 2004 yang bersedia, 2 orang akhwat dan 1 orang ikhwan (kebetulan mereka juga kader dan simpatisan KAMMI... sekaligus pemberdayaan kader gitu... he..he..). Dari siang hingga sore, ana nangkring di perpustakaan untuk menambah referensi proposal ana sebab berdasarkan format yang diberikan, bagian tinjauan pustaka dan metodologi pelaksanaan program harus lebih detil... sebab program yang ana ambil adalah bidang PKM-Penelitian. Setelah ana merasa cukup dengan referensinya, ana segera melaju ke Aspuri untuk mengetik hasilnya. Alhamdulillah setelah jemari ana bergulat dengan keyboard komputer semalaman, akhirnya 80% proposal telah siap! tinggal hunting curriculum vittae pembimbing dan anggota tim, survey harga bahan-bahan kimia yang akan ana gunakan nantinya sebagai estimasi anggaran, asistensi, penggandaan dan penjilidan proposal, kemudian hunting tanda tangan pembimbing, ketua jurusan, dan PD III (wah..masih perlu kerja keras yang banyak juga ya..). Selama 2 hari lebih ana tidak sempat ke sekretariat panitia FSLDKD (afwan ya ukhti-ukhti... akhi-.akhi...). Ana hanya sempat melakukan progress controlling via sms. Dalam 2 hari itu ana diasistensi habis-habisan oleh pembimbing. Alhamdulillah beliau sangat care dan kooperatif (mungkin karena sama-sama perempuan kali ya..).

***

Tangal 5 pun tiba. Pagi-pagi ana sudah sibuk menjilid. Pukul 08.00 ana sudah standby di depan kantor jurusan untuk hunting ttd. Sempat deg-degan juga waktu akan masuk ke ruang Bu Ketua Jurusan (he..he..penakut juga ya..).

Tok..tok..tok...”, ana mengetuk pintu ruangannya dengan semangat yang maju mundur.

Apa itu, bukan proposal kegiatan kau punya BEM toh??”, tanyanya sambil melirik ke arah proposal ana dari balik kacamatanya.

”Bukan, Bu! Lagipula saya kan bukan pengurus BEM lagi, Bu... Sekarang kepengurusan BEM dari angkatan 2003...”, jawabku sambil nyengir tanpa pamer gigi.

Oo..., jadi apa itu...? Mau kau minta tanda tangan?”, tanyanya lagi. Tapi kali ini wajahnya dihiasi senyum canda.

Ini, Bu! Proposal PKM.”, jawabku singkat sambil membalas senyumnya.

Setelah beliau membacanya, wajahnya tampak begitu ceria dan langsung menandatangani proposal tersebut (Wuih...seneng banget!!). Btw,peristiwa ini jadi launching perdana keartisan ana rupanya... (artis..??. sejak kapan??!). Setelah ana keluar dari kantor beliau, Bu ketua jurusan langsung promosi ke mahasiswa-mahasiswa se-lantai 4 di jurusan tentang PKM ana. Nama Nur Mita jadi sering disebut-sebut di beberapa dosen dan adik-adik..., perlu dicontoh katanya (he..he.. jadi GR!! Istighfar...istighfar...). Alhamdulillah pukul 14.00 proposal PKM berhasil ana kumpul ke pak Ahmad.

***

November, kemudian Desember pun berlalu... Research tahap pertama pun ana mulai di bulan Januari 2007. Bagi ana, diterima ataupun ditolaknya PKM ana tetap saja penelitian harus tetap jalan. Wisuda bulan Maret jelas tak ana dapatkan sebab tahap penelitian ana memakan waktu yang cukup panjang. But, it’s ok!Whatever happen... the show must go on! Keep fight!”, kata teman ana. Sampai akhir Januari, ana sudah tak berani berharap sedikit pun bahwa PKM ana akan diterima.

Hingga bertemulah ana dengan bulan Februari… Waktu itu ana sedang serius-seriusnya bergelut dengan sample penelitian di laboratorium, ditemani gelas-gelas kimia, Erlenmeyer, labu ukur, dan aroma-aroma menyengat dari bahan kimia seperti aseton, alkohol dan senyawa radikal bebas (DPPH) yang bila sedikit saja menyentuk kulit ana atau terhirup secara langsung mampu merusak jaringan-jaringan tubuh ana dan menyebabkan kanker, sehingga ana harus menggunakan sarung tangan karet… plus dua lapis masker untuk menutup mulut dan penciuman ana… ditambah lagi harus berada di ruangan yang gelap dan jauh dari paparan langsung sinar matahari sebab senyawa radikal bebas tadi dapat rusak/ terurai jika terlalu lama terpapar cahaya... Hampir setiap hari dari pagi hingga sore ana bergaul dengan bahan-bahan tersebut. Kalaupun ada suara terdengar, paling-paling hanya nada dering ponsel yang bernasyid ketika ada sms masuk ataupun telepon dari teman. Sebenarnya aktivitas ponsel ana itu cukup mengganggu namun khawatir juga kalau-kalau ada informasi penting dan mendadak, apalagi kalau info Santika, ana tak boleh telat membacanya… maka ana tak bisa menonaktifkan ponsel meskipun pada akhirnya ana tetap tak pernah sempat membalas sms as soon as possible atau menggubris telepon yang masuk, kecuali all about Santika. (Afwan ya… buat yang sms-nya telat dibalas atau teleponnya gak ana angkat…).

***

Sampai kemarin pagi… everything berjalan biasa saja. Bahkan ana sempat kurang bersemangat karena beberapa kali hasil uji efek antioksidan sampel ana, hasilnya kurang memuaskan... sehingga ana harus melakukannya berulang-ulang lagi bahkan sampai kehabisan sampel kulit buah kakao... (hiks...hiks...) Tapi siang harinya..., tiba-tiba ada yang menginformasikan ke ana bahwa ada surat pemberitahuan yang dititip di kantor jurusan untuk ana terkait info PKM. Dan setelah dibuka... ternyata proposal PKM ana diterima. (Wah... siang itu ana bahagia banget...). Beberapa dosen pembimbing ana pun turut senang dan terus memotivasi ana. Bu Sekretaris Jurusan mengatakan bahwa dari 58 judul proposal PKM dari Unhas yang diajukan, ada 18 proposal yang diterima, dan dua di antaranya dari Farmasi. Apalagi dana yang ana estimasikan di proposal tak sedikit pun dikurangi. Siang itu, ana jadi kangen berat sama sampel ana... ingin cepat-cepat mengolahnya di laboratorium... Kebahagiaan ana pun begitu lengkapnya sebab beberapa kabar gembira juga ana dapatkan hari ini... ketemu sahabat karib yang sudah sangat lama berpisah... ditambah lagi info bahwa my brother akan segera walimah di bulan April...

***

Sore tadi ana tak sabar untuk membagi kebahagiaan ana pada adik tercinta. Adik tempat ana berbagi suka dan duka sebab kami hanya berdua di perantauan. Rasa senangnya terpancar jelas di wajahnya meski ana tahu ia sangat lelah karena aktivitas perkuliahan, tugas-tugas gambar, belum lagi kesibukan rapat-rapatnya di dewan mahasiswa di Arsitektur... Segera pula kutelepon ayah dan ibu di Samarinda. Sudah sangat lama ana tak memberikan kabar gembira seperti ini pada mereka. Mereka sangat bahagia rupanya..., meskipun ekspresi mereka hanya terdengar dari suara di ponsel ana lewat lantunan tahmid dan mutiara nasehat mereka... plus kecupan hangat yang terdengar via ponsel.

Ana tahu bahwa ekspresi wajah mereka masih sama seperti dulu... saat kebahagian dan kepuasan terpancar ketika ranking kelas selalu ana dapatkan di SD dan SLTP... saat guru-guru memuji ana di depan mereka... saat beberapa kompetisi akademik ana ikuti... saat sekolah dan kelas-kelas unggulan ana peroleh di SMU... saat para tetangga membangga-banggakan kami, anak-anak mereka yang dianggap berprestasi... saat IPK di atas 3,5 ana peroleh di awal-awal semester dulu...

Dan ana tahu... bahwa ekspresi bahagia mereka itu sempat hilang beberapa tahun sebab tak ada prestasi luar biasa yang mampu menghiasi kebanggaan mereka... Selama beberapa tahun itu... hanya IPK di atas 3 yang mampu ana pertahankan... itu pun sekadar agar ana bisa tetap mendapatkan beasiswa dari pemprov. Kaltim, tak lebih....

Ana juga tahu... bahwa ayah dan ibu merindukan kembali prestasi-prestasi kami, anak-anaknya... seperti dulu...

Dan mereka tahu... bahwa kami masih selalu berusaha untuk mewujudkan impian mereka itu... Meskipun mungkin mereka tidak tahu... bahwa ”kebahagiaan hakiki” sedang kami rancang sebagai impian terindah untuk mereka... melaui kerja-kerja da’wah dan amalan shaleh untuk mereka... Bahwa sebuah mahkota dari cahaya di yaumil akhir kelak sedang dipersiapkan untuk mereka... melalui tilawah dan hapalan Qur’an kami, anak-anaknya...

Ayah... Ibu... Andai kalian tahu... bahwa kami selalu ingin mempersembahkan yang terbaik untuk kalian... I miss U all....

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner