Rabu, 12 November 2008

Jangan Berhenti...



6 Ramadhan 1429 H
On Melak – Kaltim
Writed by : mujahidah farma
Edited by : mujahid071

Dunia memang tak selebar daun kelor... Masih banyak sisi kehidupan yang tidak kita ketahui... Kedewasaan berpikir pun terus tumbuh seiring perjalanan waktu, meskipun tidak semua orang mencapai titik itu… Namun menjadi tua, itu sudah tentu…

Sekali lagi teman…, dunia tak selebar daun kelor. Masih banyak sisi kehidupan yang membutuhkan seberkas perhatian kita...

Dalam perjalanan mencapai proses pendewasaan, kita memerlukan lebih dari satu problematika yang berhembus secara bersamaan... Sebab itu akan mengalunkan irama-irama yang berbeda, yang menyadarkan kita bahwa dunia ini kompleks... Bahwa sebuah karya musisi terindah tidak lahir dari satu nada atau irama... bahwa sebuah lukisan termegah bukan berasal dari satu warna semata, melainkan perpaduan beraneka ragam warna... Sungguh hidup ini akan terasa sangat hambar tanpa adanya romantika duka dan gembira...

Maka ketika hari ini kau sedang gembira, bersyukurlah...
Namun ketika hari ini kau sedang berduka, maka bersabarlah...
Ambillah mushafmu, teman... lalu bacalah... hingga kau benar-benar menitikkan air mata...
Sebab setelahnya kau akan merasakan... betapa Allah selalu ada mendengarkan keluh kesah kita dan begitu menyayangi kita...

***

Pada sebuah surah dalam Al Qur’anul karim yaitu Al Insyirah yang berarti “kelapangan”…
Terdapat pembelajaran berharga yang setidaknya bermanfaat bagi diri ini yang begitu sering terlupa…
Pembelajaran yang semoga mampu mengistiqomahkan setidaknya bagi iman ini yang kadang naik dan mungkin lebih sering menurun…
Pembelajaran yang semoga mampu menguatkan setidaknya bagi pikiran dan hati ini yang begitu sering lalai dari mengingat dan merenungi kekuasaan dan ayat-ayat Allah…

***

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan… Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan… Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
(QS Al Insyirah : 5-8)

***
Dari dua ayat pertama di atas (ayat 5 dan 6), dua kali Allah mengulang pernyataanNya… Dua kali Allah memberi penekananNya… Dua kali Allah meyakinkan kita… Bahwa “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan…”
Bahwa kemudahan akan selalu membersamai kesulitan…
Bahwa di setiap datangnya kesulitan, kemudahan selalu menunggu untuk hadir menyegerainya… Dan niscaya ini akan berlaku selamanya…
Kapan saja…
Dan bagi siapa saja… yang mengimaninya…

Mungkin… telah sering lisan kita menyebut-nyebut ayat ini…
Bahkan mungkin… pun telah bosan telinga kita mendengar penyataan ini…
Namun… sudahkah kita memaknainya sebagai bagian yang benar-benar menyatu dalam prinsip hidup kita??
Sebagai sesuatu yang benar-benar meyakinkan kita tanpa ada sedikit pun celah keraguan di dalamnya??
Ataukah hanya kita jadikan sekedar hiasan berlabel moto hidup yang mungkin sebenarnya juga tidak benar-benar kita yakini keniscayaannya??

Sebab jika seseorang sungguh-sungguh mengimani ayat Allah ini…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya begitu larut dalam kesedihan dalam waktu yang lama…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya menyerah hanya karena keberhasilan yang tertunda…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya putus asa hanya karena harapannya tak kunjung Tak akan rela ia membiarkan dirinya kecewa hanya karena orang-orang tak menghargai, bahkan menarik diri dan menjauh darinya…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya ragu dalam mengambil keputusan dan memulai langkah kecilnya…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya menjadi pesimis dan apatis akan masa depan diri dan pendapat orang-orang di sekitarnya…
Tak akan rela ia membiarkan dirinya berkeluh kesah atas semua penderitaan dan kelelahannya…

***

Berlanjut dari dua ayat tersebut, kemudian Allah menyambungnya dengan ayat ke-7, yaitu “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)…”

Ayat ini membuat ana merenungi peristiwa beberapa tahun lalu... dan mungkin kisah ini berulang kembali… saat ini ataupun di masa yang akan datang…

Ketika itu, ikhwah sangat disibukkan dengan sebuah kegiatan kepanitiaan yang cukup menyita banyak waktu, tenaga, materi dan pikiran… Selama beberapa bulan, semua focus pada persiapan kegiatan tersebut…
Saking kelelahannya, seorang ikhwah mengeluarkan sebuah statement “Ah.., kayaknya ini kegiatan terakhir yang ana ikuti tahun ini, Mit… Setelah ini, ana mo cuti dulu deh… Serius… Kegiatan ini bener-bener bikin ana kelelahan…” (n”n)

Memang benar… bahwa melanjutkan perjuangan, rehat sejenak, ataukah berhenti di tengah jalan adalah sebuah pilihan…
Sekali lagi, ini adalah sebuah pilihan…

Tapi lupakah kita dengan motto hidup seorang mujahid…
Bahwa seorang mujahid selalu mengambil pilihan tersulit bagi dirinya…
Sebab itu akan menguji daya tahan dan kapasitas keimanannya…
Ana teringat dengan pesan saudari ana yang ia tuliskan di sebuah buku yang ia hadiahkan…

“Ukhti…
Terkadang waktu tidak memberikan ruang yang luas untuk terlalu banyak berpikir dan menimbang… yang pada akhirnya akan bermuara pada kebimbangan dan keraguan yang berkepanjangan…
Karena…
Kemampuan dalam menentukan pilihan itulah yang akan menentukan kualitas hidup kita…”

***


“Kami para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, untuk apa kami membai’at Anda?’ Beliau menjawab, ‘Untuk tunduk patuh dan taat dalam kedaan semangat dan malas. Berinfak dalam keadaan lapang dan sempit. Melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar , serta istiqomah di jalan Allah”
(HR Imam Ahmad dari Jabir ra)

***

Bukankah…
Bagi seorang mujahid…
Kesulitan adalah tantangan…
Kesedihan dan kelelahan adalah kenikmatan…
Dan justru harta, anak, istri, dan kekuasaan adalah ujian…

Bukankah…
Bagi seorang mujahid…
Hidup adalah perjuangan…
Yang tak kenal jeda untuk rehat lama manjakan raga…
Apalagi rasa aman dari kerikil kehidupan…

Maka…
Ketika pun segunung kesulitan telah berada di depan mata…
Ketika pun harus berjuang sendiri di pedalaman belantara atau pun jauh dari saudara seiman demi menyambung nyawa dan asa…
Ketika pun telah di ujung usia penantian namun tak kunjung bertemu belahan jiwa…
Ketika pun ujian demi ujian menunda tergapainya cita dan amanah orang tua…
Ketika pun tantangan amanah da’wah yang semakin berat seolah nyaris patahkan tulang punggungnya…
Ketika pun bertubi kegagalan telah melanda…

Tak akan mampu patahkan ghirahnya…
Tak akan mampu hentikan langkahnya…
Tak akan mampu putuskan asanya…
Tak akan mampu goyahkan imannya…
Sebab ia selalu yakin…
Bahwa kemudahan dan kelapangan selalu membersamai setiap tantangan hidupnya…
Bahwa kemudahan dan kelapangan akan selalu terbit menyegerainya…

Mungkin…
Melalui ayat ini Allah ingin kembali mengingatkan kita…
Bahwa setiap manusia, apatah lagi kita – seorang muslim – yang memang harus mengimaniNya…<>
Melalui ayat ini Allah ingin kembali mengingatkan kita…
Bahwa setiap manusia, apatah lagi kita – seorang muslim – yang memang harus benar-benar mengimaniNya…
Jangan pernah takut untuk mulai melangkah…
Sebab jarak jutaan mil tak akan mampu kita tempuh tanpa keberanian kita memulai langkah awalnya…

Melalui ayat ini Allah ingin kembali mengingatkan kita…
Bahwa setiap manusia, apatah lagi kita – seorang muslim – yang memang harus benar-benar mengimaniNya…
Jangan pernah berhenti untuk berjuang… hingga lelah itu benar-benar lelah mengikuti perjuangan kita…

***

Dan kita - umat Islam - tidak perlu lagi memilih...
Dan memang tidak punya otoritas untuk memilih...
Karena cukuplah Islam yang hanif ini sebagai pedoman...
Keep HAMASAH !!!

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner