Senin, 22 Desember 2008

Wanita HAMAS



Gaza - Karim El Gharably - Keberhasilan Gerakan Islam HAMAS di berbagai tingkatan memiliki sejumlah alasan; di antaranya penyebab manusianya (SDM) itu sendiri, dan yang lainnya adalah ideologi dan metodologinya. Dan berkenaan dengan manusianya, HAMAS memiliki banyak hal; di antara faktor utamanya adalah hadirnya para wanita sebagai mujahidat dan muqawimat di hadapan para penjajah Zionis, dan kehadiran mereka sebagai syahidat (syuhada) untuk membela kepentingan dan permasalahan mereka.

Para wanita HAMAS banyak memainkan peran penting dalam perkembangan gerakan ini, merekalah yang menjadi pendamping para suami, orang tua dan anak-anak serta saudara-saudara mereka untuk maju secara bertahap melakukan gerakan dan jihad, membentuk apa yang dikenal sebagai tentara “Wanita HAMAS”.

Dalam laporan ini, akan disampaikan beberapa aktivitas dan peran yang dilakukan wanita HAMAS terhadap harakah yang penuh berkah ini…


Bahwa sejak awal lahirnya gerakan HAMAS, selalu memberikan perhatian terhadap kalangan dan unsur wanita, karena mereka selalu bekerja dengan giat dan mengikuti perkembangan, sehingga terbentuklah kelompok Islam yang kuat, dan kemudian menjadi gerakan wanita Islam sebagai organisasi independen; memiliki lembaga tersendiri, media, dan melakukan seminar-seminar bersama dengan kaum laki-laki HAMAS dalam usaha mengembangkan harakah yang pada saat ini tanggal 14 Desember sedang dirayakan hari jadinya yang ke 21.


Tentunya semua pihak telah menyaksikan akan peran wanita dalam pertumbuhan dan pengembangan gerakan ini; mereka berjuang di semua lini dan bidang kehidupan; sosial, pendidikan dan bahkan pada bidang media informasi dan jihad serta politik.


Sementara itu, dalam kancah politik, wanita HAMAS menjadi anggota legislatif pertama dalam ranah politik legislatif di Palestina; setelah mereka berjuang pada bidang sosial dan pendidikan, dan mendapatkan syahadat (legitimasi) yang banyak dari masyarakat, dan melahirkan enam anggota parlemen dari gerakan ini sebagai anggota legislatif; yaitu Jamilah As-Syanthi, Maryam Farhat, Samira Al-Halayqa, Muna Mansur, Huda Naim dan Maryam Saleh; wanita yang disebut terakhir saat ini menjabat sebagai Menteri Urusan Peranan Wanita, sementara itu Maryam Farhat adalah sosok “Khansa Palestina” yang menjadi model dalam perjuangan dan pengorbanan kaum wanita di Palestina dan dunia, dan menjadi anggota legislatif setelah tiga anak-anaknya mendapat syahid, dan anak terakhir darinya tersebut diberikan wasiat untuk melakukan sebuah operasi syahid. Karena itu beliau adalah contoh dalam memberikan pengorbanan yang ikhlas untuk bumi Palestina.


Tidak berlebihan jika kami katakan bahwa kaum wanita adlaah “Tentara Wanita HAMAS”; sebagai tentara yang terstruktur dan kedisiplinan, tampak perannya secara jelas dan kuat dalam perjuangan melawan penjajah Zionis, terutama dalam mendukung gerakan untuk memenangkan pemilihan legislatif terakhir pada tahun 2006, dan pada pada waktu sama telah berhasil melakukan penyerangan di lintas perbatasan Rafah; untuk membuat opini umum dan memperoleh simpati masyarakat, sebelum kaum laki-laki datang dengan membawa bahan peledak.Partisipasi aktif

Dalam berbagai festival “Islam” HAMAS tidak seperti Fatah - baik dalam kancah perpolitikan dan pemilihan umum, di universitas-universitas, sekolah-sekolah, perkotaan dan pedesaan serta di jalan-jalan; para wanita HAMAS melakukan pekerjaan yang besar, memberikan seruan dan dukungan yang signifikan, mengangkat bendera, mengadakan halaqah-halaqah dan diskusi; di rumah-rumah dan di masjid-masjid, dan bahkan banyak dari mereka yang menjadi kepala sekolah, menjadi direktur pada suatu lembaga sosial Islam; semua itu merupakan realita yang sangat berbeda yang tidak dapat ditafsirkan secara logika oleh para pemerhati sekalipun; yang mengklaim bahwa “HAMAS adalah kelompok garis keras, militan dan eksklusif”, seperti terbukanya dan inklusifnya wanita Fatah, padahal HAMAS adalah gerakan yang selalu mendukung hak kaum perempuan dalam kesetaraan dan perannya dalam pemerintahan.


Wanita pendukung Hamas

Begitu pula Tentara wanita HAMAS memainkan perannya yang menonjol dalam berjihad dan melakukan perlawanan, bahu membahu dan berdampingan dengan kaum laki-laki; sehingga menjadi garis pertahanan kedua setelah laki-laki dari tentara Qassam, dan berada dibaris terdepan terutama pada bagian logistik dan pembantu umum dan kebutuhan pokok, maka dari itu, para wanita yang selalu mendorong anaknya dan suaminya serta saudaranya untuk melakukan jihad adalah seperti para pejuang Al-Qosami.


Tersebutlah seorang wanita yang bernama Reem Riyashi wanita HAMAS pertama yang berhasil melakukan pengeboman pada Januari 2004, sehingga menjadi sebuah kejutan, dan “Sheikh Ahmed Yasin” seorang pentolan dan pendiri HAMAS berkomentar bahwa era jihad dari kalangan wanita Palestina telah dimulai.


Selain itu pula bahwa peran wanita HAMAS lebih diperluas, dan mampu mengambil peran yang signifikan pada dimensi yang lebih dalam dan lebih inklusif, sehingga seorang analis politik Abdel Sattar Qassem, dalam konteks ini berkata: “Bahwa sesungguhnya mereka telah menyandarkan diri pada ajaran Islam, yaitu ajaran yang memotivasi untuk berpartisipasi dalam kerja-kerja umum; pendidikan, sosial dan perjuangan.”


Menurut Qasim, HAMAS adalah harakah yang memiliki “komitmen dan disiplin lebih daripada Fatah, dan paling berhasil dalam memanfaatkan seluruh sumber daya dan energinya”, beliau berdalih bahwa HAMAS adalah harakah yang memiliki ideologi yang kuat, sehingga berhasil membawa para wanitanya untuk memainkan peran penting dan sangat penting di tengah berkecamuknya perang melawan musuh eksternal dan internal.


Qasim menambahkan “Bahwa para wanita HAMAS telah mengerahkan seluruh tenaganya dua kali lipat lebih selama pemilu legislatif baru-baru ini, mereka mengadakan halaqah pendidikan dan pembinaan di masjid-masjid dan lembaga-lembaga serta yayasan-yayasan, mengorganisir kunjungan lapangan ke kota-kota, desa-desa dan kamp pengungsi.”


Qassim juga menegaskan bahwa ada 2 alasan penting atas keberhasilan wanita HAMAS: kepatuhan dan keterikatan mereka terhadap ajaran-ajaran Islam, dan kepatuhan dan keterikatan mereka terhadap ajaran Gerakan organisasi (jamaah). Beliau juga menambahkan: karena itu tidak ada bandingannya antara Fatah dan HAMAS; bahwa yang pertama hanya sebagai organisasi dan yang kedua tidak hanya demikian.


Wanita HAMAS menentang Livni
Pada saat perayaan 21 tahun berdirinya HAMAS, Perdana Menteri Ismail Haniyeh menyampaikan penolakannya atas keterangan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Zionis Tzipi Livni; yang menegaskan bahwa komponen masyarakat mengirimkan surat kepada publik Amerika, Presiden Bush dan entitas Zionis serta orang-orang yang berdiri dalam satu parit yang sama; bahwa mereka sama sekali tidak akan mendapatkan kemenangan, sambil mengarah kepada kaum wanita ” dan ucapan tersebut juga diarahkan kepada Livni yang diberikan julukan sebagai (As-Sahbah) dan Kami akan menghadapi dengan para wanita HAMAS dan warga Palestina untuk melakukan perjuangan sehingga mendapatkan kemenangan atau mati syahid di jalan-Nya. ”


Barisan Wanita Hamas dengan panji-panji Hamas

Sementara itu anggota Dewan Legislatif Huda Naim menyatakan: “Bahwasanya Sejak berdirinya harakah HAMAS pada akhir tahun tujuh puluhan, Syeikh As-Syahid Ahmed Yasin berambisi untuk menghadirkan organisasi khusus untuk wanita; karena pemahamannya terhadap peran perempuan dalam mereformasi masyarakat begitu dalam”, dan beliau menjelaskan bahwa perhatian terhadap kaum perempuan dan memberikan pandangan khusus kepadanya adalah merupakan visi strategis, dan tentunya perhatian tersebut bukanlah dadakan atau reaksi sesaat saja, namun telah direncanakan pada awal tahun tujuh puluhan yang ada di tubuh kaum perempuan; yaitu peran yang seimbang dan terpadu dalam perjuangan dan pergerakan.


Naim juga menegaskan; bahwa dalam memperingati hari jadi HAMAS yang ke 21 ini, organisasi kewanitaan HAMAS jauh lebih kuat daripada lembaga-lembaga yang ada di seluruh dunia bukan hanya di negara-negara Arab saja. dan karena itulah kembalinya perhatian dan perlindungan yang telah lalu, dan besarnya pengorbanan yang dilakukan oleh kaum perempuan ada;ah untuk menjaga prinsip-prinsip dan tsawabitnya, dan menjelaskan bahwa besarnya harakah, cepatnya perluasan dan penyebarannya menuntut darinya -pada setiap tahapannya- akan banyak perangkat, sehingga dapat bertambah kekuatannya dalam bentuk peran, dan masuknya wanita HAMAS dalam ranah politik, -dan karena itu pula para wanita mencalonkan pada pemilu-, dan tentunya permintaan tersebut menuntut adanya mimbar informasi yang mengemban risalah secara subjektif dengan penuh kekuatan dan memberikan peluang yang baik yang membutuhkan arahan dan taujihat.


Garis Pertahanan Terdepan


Dia menambahkan: “Bahwa Kaum wanita Palestina tidak hanya mencetak anaknya menjadi syahid atau memberikan dukungan kepada suaminya menjadi seorang mujahid, namun setiap pertemuan dari kalangan wanita menjadi syarat pertama, yang mana dia berkata; “Kami ingin ikut berpartisipasi dalam jihad,” dengan menegaskan bahwa peran yang dilakukan para wanita dalam memainkan perannya sangat penting dan serius, yaitu menjadi barisan pertama untuk melakukan pertahanan dalam menghadapi musuh Zionis.

Pada sisi lain, Jamilah As-Syanthi, seorang anggota parlemen dari harakah HAMAS - dalam siaran pers – menegaskan bahwa harakah ini sejak awal lahirnya telah membuka pintu lebar-lebar bagi kalangan wanita untuk menjadi bagian penting dalam harakah ini, dan dia menegaskan bahwa harakah ini tidak memberikan batasan tertentu seperti halnya partai lain atau mengekang peran serta wanita di dalamnya, namun harakah ini justru membiarkan mereka untuk terjun dan aktif dalam berbagai bidang dan lini dan dalam memberikan khidmah (pelaynan) di semua bidang. Dan beliau menambahkan: “Bahwa wanita HAMAS memiliki bagian penting dalam harakah HAMAS ini melalui musyawarah, tingkatan dan struktur yang ada di dalam harakah yang penuh berkah ini, dan pada selanjutnya kami seperti Ikhwan yang lainnya yang berada di dalam kawasan ini.”


Ia juga menyebutkan bahwa aktivitas kaum wanita ada di semua bidang ; dalam bidang pendidikan, lembaga-lembaga, dalam harakah dan organisasi (struktur). Beliau juga menegaskan bahwa kondisi Palestina memiliki ciri khusus terutama yang berhubungan dengan kondisi keamanan untuk pekerjaan perempuan. As-Syanti juga menjelaskan bahwa pada sisi sosial dan politik tidak ada kata penundaan dalam status perempuan, dengan dalih bahwa ada aspek keamanan dalam bekerja untuk wanita pada periode-periode tertentu.


Beliau juga menyebutkan bahwa kerja para wanita di dalam masjid tidak hanya mengadakan seminar mingguan dan berakhir seperti sebelumnya tanpa hasil, namun beliau menunjukkan bahwa ada agenda yang dilakukan di masjid untuk mengajarkan para murid tingkat SD, SMP dan SMA khusus bagi wanita, dengan menunjukkan bahwa masjid telah memberikan hasil yang hubungan sosial dan memiliki konsideran dengan masyarakat sekitar; pendidikan sosial, tarbawi dan program pengajaran dan hafalan Al-Quran.


Bahwa wanita HAMAS telah memasuki ruang lingkup masyarakat Palestina secara umum dan lebih luas lagi, sehingga lahir kepercayaan masyarakat, dan pada yang terakhir tersebut kaum wanita terus memobilisasi dan memotivasi anak-anak wanitanya serta keluarga para syuhada dan yang tertawan, sehingga memberikan kekuatan dan motivasi bagi pergerakan kaum wanita.


Adapun peran wanita dalam berjihad, As-Syanti berkata:


“Dalam hal jihad telah terjadi dan tidak ada masalah, betapa banyak dari para pemuda direkrut oleh brigade Qassam, sekiranya kaum wanita membuka barisan secara paralel maka jumlah pasukan (Qosamiyat) akan berlipat jumlahnya hingga tiga kali dari pasukan laki-laki,” dan ditegaskan bahwa kaum wanita dalam pergerakan wanita memiliki keberanian dan kekuatan.


Ia melanjutkan:

“Bahwa wanita merupakan baris pertahanan kedua setelah laki-laki brigade Qassam, dan pada saat terjadi invasi mereka menjadi pemasok logistik dan pembantu utama yang memberikan peran signifikan, wanita yang memotivasi anaknya dan suaminya serta saudaranya dan memperkuat azam mereka untuk berjihad merupakan contoh kongkret lahirnya sang mujahid al-qossam.”


Dijelaskan pula bahwa HAMAS sangat menghargai dan mengapresiasi peran kaum wanita, dan sebelum pemilu legislatif gerakan ini mengeluarkan pernyataan kepada publik; “Ini adalah eranya untuk kaum wanita Palestina untuk mengambil perannya yang sebenarnya, dan masyarakat hendaknya mengapresiasi dan menghargai besarnya pengorbanan dan jihad kaum wanita, mereka adalah ibu, saudara, istri dan anak perempuan, yang mampu melahirkan para pencipta (creator), pahlawan, syuhada dan generasi masa depan, dan HAMAS akan berusaha memberikan peran bagi kaum wanita di Dewan Legislatif, dan akan bersama laki-laki dalam mengelola konflik dengan musuh, sementara mereka -kaum wanita- pada sisi legislatif akan menjadi pelindung bagi urusan kaum perempuan dan hak-hak mereka, dan HAMAS akan menolak segala upaya yang memarginalisasi atau merendahkan peran kaum wanita. “


Taked from http://www.al-ikhwan.net

Keep HAMASAH !!!!!

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner