Sabtu, 17 Januari 2009

Hayya Alal Jihad



Namun Jihad dan Niat
Risalah Mursyid
8/1/2009 | 10 Muharram 1430 H | 212 views
Oleh: DR. Muhammad Mahdi Akif

Hayya alal jihad
Penterjemah:
Abu Ahmad

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada Nabi pembawa petunjuk dan yang terpercaya; Muhammad saw beserta keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya; amma ba’du

Allah SWT berfirman :

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ


“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu, dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Al-Anfal:30)

Kekejaman musuh dan konspirasi saudara sekandung

Seakan masa sedang mengitari porosnya, dan seakan kita hidup pada satu kondisi yang sama saat terjadi hijrah yang penuh berkah; terhadap apa yang terjadi pada saudara kita dan permata hati kita di Gaza serupa dengan apa yang terjadi pada kondisi saat itu (hijrah nabi saw); konspirasi dan tantangan dari kerabat dekat dan jauh, usaha untuk menghancurkan dan memerangi mereka dengan berbagai macam sarana yang tidak manusiawi; bukan untuk tujuan lain kecuali memerangi Allah, Rasul-Nya dan menggagalkan proyek Islam.

Apa yang terjadi saat ini juga pernah dialami oleh al-mustafa saw di Mekkah sebelum hijrah, dan apa yang dialami pada saat mengemban amanah risalah dan dakwah, sekalipun tidak mencapai pada batas kekejaman dan kebrutalan dari musuh dan kehinaan dan konspirasi dari bangsanya sendiri.

Demikianlah usaha mereka

Sekalipun kekejaman dan kezhaliman yang dilakukan oleh zionis terhadap saudara kita di Gaza yang tercinta bukanlah baru bagi mereka, karena sejarah perjalanan hidup yang keji dan tangan-tangan yang berlumuran darah menjadi awal dimulainya sejarah mereka; bahwa mereka adalah pembunuh para nabi dan rasul, anak-anak kecil dan orang-orang lemah dengan tangan dingin, bahkan penyimpangan tersebut telah mencapai pada penistaan terhadap Allah; maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan dengan angkuh dan sombong.

Bagitupu pula konspirasi mereka atas Rasulullah saw dan dakwahnya, kita tidak akan pernah lupa akan penerimaannya –karena nabi adalah pemaaf dan memiliki kasih sayang- dengan keputusan Sa’ad bin Mu’adz terhadap mereka saat terjadi perang dengan bani Quraizhah; dengan membunuh para lelakinya, menawan wanitanya dan keluarga mereka, serta membagi ganimah dan harta rampasan mereka kepada para Muhajirin dan Anshar, oleh karena ulah dan balasan dari apa yang telah mereka perbuat.. sekalipun dari itu semua; kecuali ada sebagian orang yang lupa atau pura-pura lupa akan tabiat orang-orang yang telah menyimpang dan jauh dari jalan Allah yang lurus, para pelaku kezhaliman dan kerusakan di muka bumi.. karena itulah, tidak layak bagi kita melupakan kejahatan, makar dan tipu daya mereka, dan hendaknya kita jadikan sejarah kelam mereka sebagai pelajaran yang berharga bagi kehidupan kita di masa kini dan akan datang.

Tidak ada hijrah setelah al-Fath (penaklukan)

Pada saat ini kami akan menghadirkan peristiwa yang sangat mengagumkan, yaitu hadits nabi saw yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-, dia berkata: Nabi saw bersabda pada saat terjadi Al-Fath (fathu Makkah):

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ، وَإِذَا اسْتََنْفَرْتُمْ فَانْفِرُوْا

“TIdak ada hijrah setelah al-fath; namun yang ada adalah jihad dan niat, jika kalian diperintahkan untuk berangkat maka berangkatlah”.
(Bukhari)

Jadi makna hijrah dari segi syar’i bukan sekedar berpindah dari satu negeri (tempat) ke negeri (tempat) yang lain saja, namun adalah hijrah secara umum yaitu hijrah dari segala sesuatu yang diharamkan dan dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah; maka kita bersikap pada bagian kedua dari hadits ini:


وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ، وَإِذَا اسْتََنْفَرْتُمْ فَانْفِرُوْا

“Namun yang ada adalah jihad dan niat, jika kalian diperintahkan untuk berangkat maka berangkatlah”.

Yang ada pada kita saat ini adalah makna jihad dalam arti yang luas dan umum, karena hal tersebut memang dalam bentuk umum, saya mengira bahwa kita pada saat-saat seperti ini seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita di Gaza berada dibawah penjajahan zionis sang perampas, konspirasi Arab dan dunia internasional; maka kita harus hidup seperti negara-negara dan masyarakat, bangsa dan perseorangan memahami makna jihad dengan sebenarnya; mulai dari jihad dalam arti perang bersama pasukan dengan menggunakan kemampuan dan potensi yang dimilki, dan kelompok perlawanan nasional sekalipun kecil kemampuannya, dan berakhir dengan makna jihad dalam memberikan sumbangan darah, harta dan kata-kata (tulisan), bahkan juga dengan melakukan boikot ekonomi dengan berbagai bentuk dan caranya. Karena itu, saat ini kita dituntut untuk melakukan perang dengan tingkat yang paling tinggi untuk dapat memberikan alasan dihadapan Allah kelak, membela saudara kita disana dengan berbagai sarana yang kita miliki; jika pada masa sebelumnya kita menyeru untuk membina jiwa dan mentarbiyahnya, maka pada kondisi ini ada perbedaan; sejarah perjuangan dengan zionis Israel.

Inilah yang kita tegaskan pada bagian akhir dari hadits nabi : “Namun yang ada adalah jihad dan niat”. Pada saat inilah telah datang masanya untuk berjihad, dan ini merupakan kewajiban kita seluruhnya dan tidak ada alasan sedikitpun bagi seseorang untuk tidak melakukannya; karena barangsiapa yang bermalas-malasan membela saudaranya saat ini maka pada hakikatnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta umat Islam seluruhnya, dan dia akan mendapatkan dosa dan balasan yang keras hingga hari kiamat kelak, inilah yang dimaksud dengan hadits diatas; karena itu jika kalian diseru dan diajak untuk berperang maka segeralah menyambutnya, baik secara umum kepada umat Islam; karena saat ini sudah tiba saatnya melakukan perang:

انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

<“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui”.
(At-taubah:41)

Antara hijrah dan hajr (menjauh)

Jika kita ingin menghidupkan makna hijrah yang sebenarnya; maka kita harus bersungguh-sungguh berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, bekerja dengan giat dan jujur untuk membela Islam… hijrah menuju ketaatan dan pendekatan diri, hijrah dari dosa dan maksiat, syahwat dan syubhat, hijrah dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat, begitu pula hijrah dari mengabaikan kewajiban dan hak-hak, hijrah dari acuh menolong saudara-saudara kita, hijrah dari kelemahan diri kita, hijrah dari membantu musuh-musuh kita sendiri dan bahu membahu dengan mereka, hijrah acuh dibalik kemaslahatan kita secara khusus, hijrah untuk kembali pada memperhatikan kemaslahatan bangsa dan umat.

Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat; sehingga berhasil mengeluarkan mereka dari daya tarik dunia dan mengangkat mereka menuju luasnya langit dan bumi serta apa yang ada dibalik keduanya:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
(At-Taubah:100)

Lalu mereka keluar dengan penuh ketaatan akan kenikmatan diri dan dunia, sehingga mereka berhak mendapatkan ridha Allah SWT:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الصَّادِقُونَ

“(juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar”.
(Al-Hasyr:8)


Karena itupula mereka berhak mendapat surga dan ridha Allah SWT.

Kami ingin, memaknai hijrah yang sebenarnya bagi umat menuju Allah, kami ingin mentauladani yang sebenarnya kepada para sahabat yang mulia; dalam menghiasi diri dengan hijrah yang sebenarnya untuk membela Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhkan diri secara jujur terhadap hal-hal yang dapat membatalkan perjuangan ini.

Kewajiban Bersatu

Jika diantara inti penting dari pelajaran hijrah –bahkan merupakan faktor penting keberhasilannya- adalah para Anshar yang membela orang-orang muhajirin dan semua elemen saling bergotong royong dan tolong menolong untuk mendukung dan membela Allah dengan berbagai macam nilainya; karena itu yang kami inginkan saat ini adalah; hijrah untuk membela umat Islam kepada saudaranya yang muslim.


الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ؛ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ
“Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; tidak boleh menzhaliminya, menghinanya dan melecehkannya”.

Karena itu, ketika tumpah darah orang-orang yang tidak bersalah dari penduduk Gaza di bumi, oleh tingkah laku biadab zionis Israel dan didukung oleh konspirasi Arab, pengkhianatan warga sebangsanya dan membisunya dunia internasional; adalah menjadi kewajiban atas kita semua untuk menghidupkan kembali persatuan dan ikatan akhlak, perbuatan dan aktualisasi, menggelorakan kepada seluruh umat untuk bersatu dan menolong para mujahidin di Gaza:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمْ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنْ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ . إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (At-Taubah:38-39)

Pelajaran dan ibrah

1. Tsiqah pada kemenangan Allah

Bahwa perjalanan hijrah selalu dibayangi dengan marabahaya dan kondisi yang mengerikan dan menakutkan; pedang yang mengepung rumah nabi saw, dan bahkan tidak ada jarak diantara keduanya kecuali pintu..para pemburu berdiri di depan gua tempat nabi bersembunyi..Suraqah seorang penunggang kuda yang lihai dengan membawa senjata pedang terhunus, begitu dekat dengan Nabi saw, sehingga dia sempat mendengar apa yang dibacanya.

Sementara itu Rasulullah saw, dalam kondisi yang mengerikan seperti itu tetap bertawakkal kepada Allah dan tsiqah pada kemenangan Allah:

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah Telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia Berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang Tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(At-Taubah:40)

Disinilah tampak perasaan kerbesamaan dengan Allah dan yakin akan kemenangan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman:

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأَشْهَادُ

“Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),
(Ghafir:51)

Karena itu, dapat kita pahami bahwa jalan menuju jihad adalah berat, panjang dan berhamparan dengan sesuatu yang dibenci dan sulit, namun bagi siapa yang sabar akan beruntung, dan bagi siapa yang tsabat akan mendapat kemenangan:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)

Namun, sekalipun kondisi begitu keras dan cuaca begitu gelap, seorang mukmin harus tetap bertawakkal kepada Allah dan tetap tsiqah dengan kemenangan yang dijanjikan oleh-Nya Hendaklah tanganmu tetap komitmen… dengan berpegang teguh pada tali –agama- Allah. Karena sesungguhnya itu merupakan rukun… sekalipun banyak yang mengkhianatimu...

2. Yakin bahwa semua akibat hanya untuk orang bertaqwa

Bagi siapa yang melihat dan mempelajari perjalanan hijrah, pada mulanya pasti menduga bahwa dakwah akan punah dan hilang serta kalah, namun kita dapat lihat disini bahwa hijrah pada hakikatnya memberikan pelajaran yang jelas, bahwa akibat dari suatu perbuatan baik adalah untuk orang yang bertaqwa; bahwa nabi saw melalui sirahnya mengajarkan kepada para mujahidin di jalan Allah untuk selalu tegas dihadapan kebatilan dan pengikut-pengikutnya, tidak merasa hina dihadapan mereka, tidak merasa gentar ketika berhadapan dengan orang-orang zhalim dan pengikutnya, namun harus tetap tegar dan teguh, bersemangat berjuang untuk menggapai ridha Allah; karena kebatilan pasti akan punah, dan para pencari dan yang kenyang dengan kebatilan akan menjadi sirna adapun akibat dari itu semua adalah bagi orang-orang yang bersabar dan orang-orang yang melakukan kebaikan, dan inilah yang selalu kami wasiatkan kepada para ikhwan kami, para mujahid di Gaza untuk bersabar dan meningkatkan kesabaran karena akibat dari itu semua adalah milik orang-orang bertaqwa

إِنَّ الْعاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya akibat dari semua adalah untuk orang-orang bertaqwa”
(Huud:49)

3. Tsabat dalam kondisi sulit

Hal tersebut sangatlah jelas pada jawaban Nabi saw kepada Abu Bakar saat keduanya berada dalam gua Tsur, ketika Abu Bakar berkata: sekiranya salah satu dari mereka melihat kebawah kaki mereka pasti kita akan kedapatan; maka Nabipun menjawab dengan tegas dan jiwa yang tenang : “Janganlah khawatir karena Allah bersama kita”.

Yang demikian adalah contoh dari kejujuran dan tsabat, tsiqah kepada Allah dan tawakkal kepada Allah saat kondisi sulit, serta yakin bahwa Allah tidak akan melepaskan kita pada saat-saat genting sekalipun.

Demikianlah seharusnya kondisi jiwa orang-orang yang beriman; berbeda dengan kondisi jiwa pendusta, nifaq, jahat dan penuh dengan maksiat; mereka adalah orang yang selalu cepat terhina dalam kondisi ketakutan, gentar dalam kondisi sulit. Karena itu pula kita tidak akan mendapatkan dari mereka pertolongan dan perlindungan selain Allah, karena Dialah Allah Maha Pelindung dan Penolong
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.
(Al-Anfaal:45)

4. Kemenangan bersama kesabaran

Bahwa perjalanan hijrah memberikan pelajaran akan keagungan nilai spiritual; karena itu bersama apa yang dijumpai oleh Rasulullah saw dari berbagai siksaan dan tekanan pada saat berada di kota Makkah, beliau tetap optimis pada Allah dan meminta untuk dihindarkan dari siksaan secara sekaligus darinya; sehingga jelas kesabarannya, dengan mengagugkan Allah akan ganjarannya. Dan hendaknya para duat menyadari dan para mujahid memahami bagaimana menghadapi kondisi sulit dan bersabar dalam menerima segala apa yang dijumpai dari berbagai siksaan baik kecil maupun besar.. ketahuilah bahwa kemenangan bersama dengan kesabaran dan bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan.

Pesan-pesan

1. Untuk para mujahid yang sabar dan tegar di Gaza

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (Ali Imran:200)

Maka dari itu, bersabarlah..!! dan ketahuilah bahwa kalian berada dalam kebenaran dan Allah selalu bersama kalian dan Dia akan selalu menjadi penolong kalian

وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

“Dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu”. (Muhammad:35)

Dan kami selalu berada dibelakang kalian; mendukung kalian dengan segala sarana yang kami miliki; karena itu bersabarlah sebagaimana bersabarnya para ulul Azmi dari para rasul dan orang-orang jujur dari para mujahid sejati.

Dan ketahuilah bahwa kemenangan adalah buah sedikit bersabar, dan Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolongnya

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa”. (Al-Hajj:40)

Karena itu pula bersimpuhlah kepada Allah dan jangan menunggu uluran tangan dan bantuan serta pertolongan dari orang lain, percayalah akan kemenangan Allah untuk kalian.

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِين

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”. (Ar-Ruum:47)

2. Untuk para Pemimpin dan Penguasa

Bertaqwalah kalian kepada Allah yang telah memberikan amanah kepada kalian, kembalilah pada jalan Allah dan bergabunglah bersama para mujahid untuk membela mereka dari kebiadaban zionis, bersikaplah dengan sikap yang diridhai Allah, sehingga kalian dapat selamat dari azab dan api neraka-Nya, terbebas dari akibat konspirasi kalian dalam perang yang sedang berkecamuk saat ini, berafiliasilah kepada umat dan kehendak-kehendaknya, wujudkanlah cita-citanya, dan ketahuilah bahwa jika kalian tidak membelanya maka pasti Allah yang akan membelanya, bahwa sejarah tidak akan memberikan belas kasih, semantara umat tidak akan pernah lupa, karena itu ambillah keputusan-keputusan dan sikap yang sebenarnya dan sungguh-sungguh untuk menghentikan kezhaliman dan permusuhan atas Gaza, dan mengembalikan kebenaran kepada pemiliknya.

***

وَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ. مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong”. (Ibrahim:42-43)

Terakhir… Ketahuilah, bahwa yang terjadi di Gaza menuntut seluruh umat untuk bangkit dan menunjukkan tanggungjawabnya dan membela saudaranya disana.. ketahuilah bahwa aku sudah menyampaikan?! Ya Allah saksikanlah, cukuplah bagi kami Allah sebaik-baik pelindung. Allah maha Besar dan segala puji hanya milik Allah

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)

Dan shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi kita Muhammad saw besarta keluarga dan para sahabat semua.

Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

Keep HAMASah !!!!!

Tidak ada komentar:

Template Design by SkinCorner