Selasa, 19 Oktober 2010

Nuur Ila Nuur (part 1)



Kisah itu bermula di penghujung tahun 2007..


Hatiku mulai resah.. 23 tahun sudah aku menghirup udara bebas dengan status lajang.. Orang tuaku telah memberikan sinyal yang teramat terang.. tak seperti 3 tahun terakhir dimana mereka sangat tidak setuju dengan rencana nikah diniku.. Mungkin karena dulu mereka belum yakin dengan kesiapanku.. Entahlah.. Yang jelas di umur ke-23 tahun, aku telah memperoleh gelar S1-ku dan telah menyelesaikan 1 semester kuliah profesiku.. Mungkin ukuran itu telah memenuhi standar kesiapan bagi kedua orang tuaku..

Tahun 2007, kututup dengan doa akhir tahun..

“Rabb.., berikanlah jodoh yang terbaik untukku.. Jika memang telah tiba saatnya, datangkanlah mujahid terbaik yang telah Engkau tempa itu dengan cara yang baik menurutMu.. Namun bila memang belum tiba saatnya, maka jagakanlah diriku dan dirinya agar selalu istiqomah di jalanMu.. Tetapkanlah hatiku dan hatinya hanya untuk berjihad di jalanMu.. Engkau Mahatahu.. Sedangkan diri hamba tidak mengetahui apa-apa kecuali atas izinMu ya Rabb..”

***

Tahun berganti dan hari-hari penuh kesibukan terus mengisi..


Sampai pada suatu sore menjelang maghrib, aku baru saja menyelesaikan agenda pekanan yang begitu menyejukkan ruh dan membangkitkan semangat jihadku.. Saat itu, tak seperti biasanya, ustadzahku tiba-tiba meminta untuk pulang bersama.. Aku diboncengnya menuju asramaku..

Selama dalam perjalanan, kami hanya bercerita seadanya.. Aku pun tak berani menanyakan maksud kunjungan beliau ke tempatku.. Aku hanya mampu melemparkan tatapanku ke sepanjang jalan sambil mencoba mengira-ngira maksud dan keinginan ustadzahku..


***

Sampai di asrama, aku pun mengajak beliau masuk ke kamarku.. Masing-masing kami memperbarui wudhu.. kemudian kami pun shalat maghrib berjamaah di kamar kesayanganku itu..

Usai menunaikan shalat maghrib, kami pun hanya berbicara lepas seputar da’wah kampus yang ketika itu sedang melalui tahap renovasi dari pemimpin baru..

Awalnya, kupikir ustadzahku sengaja ingin berkunjung untuk melaksanakan sidak (inspeksi mendadak).. Sidak memang biasa dilakukan di kalangan akhwat untuk mengetahui sejauh mana seorang akhwat melaksanakan muwashofatnya dalam hal menjaga kebersihan tempat tinggal/ kamarnya.. Sebab hal ini sangat penting terutama bagi seorang akhwat yang mencerminkan kebersihan dan kerapiannya dalam melaksanakan amanah-amanah.. Jika ruang kecil seperti kamar saja tidak mampu untuk dijaga kebersihan dan kerapiannya, bagaimana mungkin ia mampu memanajemen amanah-amnahahnya di luar apalagi jika kelak akan membentuk keluarga.. Seperti itulah kira-kira gambaran urgensi dari sidak menurutku..


***

Namun tampaknya, ustadzahku sedang tidak melakukan sidak ketika itu.. Melainkan dalam rangka menyampaikan sebuah amanah untukku.. Sebuah amanah yang kemudian menjadi titik yang sangat menentukan bagi perjalanan hidupku.. Sebuah amanah yang mungkin merupakan jawaban Allah atas doa akhir tahunku ketika itu..


Sebelum pamit untuk pulang, ustadzahku memberikan sebuah amplop tertutup yang cukup tebal.. Beliau mengatakan bahwa itu adalah amanah berupa biodata seorang ikhwan yang berniat untuk berproses dan berniat baik untuk mengkhitbahku melalui seorang ustadz yang harus disampaikan kepadaku.. Siapa ikhwan itu, saat itu diriku pun tidak tahu.. Dan aku diminta untuk tidak membukanya kecuali setelah qiyamul lail di malam itu.. Dengan wajah penasaran, aku pun mengiyakan permintaan ustadzahku..


Jantungku mulai berdetak kencang saat itu.. Ustadzahku pun kemudian menanyakan kapan beliau bisa mendapatkan jawaban dariku.. Beliau mengatakan, kalau bisa secepatnya.. dan jangan terlalu lama berpikirnya..


Kurasakan saat itu jantungku semakin berdetak kencang.. Hatiku bertanya-tanya.. siapakah gerangan mujahid itu.. “Rabb.., beri aku kekuatan, kebijaksanaan, dan kemudahan dalam segala urusan..”


Aku pun berusaha menutupi rasa penasaranku dengan berusaha tetap tenang meskipun kurasakan jantungku tak berkenan berkompromi dengan mimik wajahku.. Kuminta waktu selama 1 pekan untuk memikirkan dan memutuskannya..


***


Malam itu aku sangat sulit memejamkan mata.. Rencanaku untuk mulai menyusun laporan kinerja BKM (badan kemuslimahan) KAMMI yang akan kulaporkan di agenda evaluasi 1 tahun kinerja KAMMDA Sulsel 1 bulan ke depan pun tak dapat kulakukan.. Bahkan tugas PKL apotek Kimia Farma pun tak kunjung bisa kurampungkan.. Pikiranku penuh tanda tanya.. Hatiku begitu gelisah ingin segera mengetahui isi amplop itu..


Untuk menenangkan hati, aku pun melakukan tilawah Qur’an sebanyaknya sambil mentadabburi terjemahannya.. Dan tiba-tiba aku meneteskan air mata.. Aku tertegun.. sebab dalam tilawah aku bertemu dengan sebuah surat dalam Al Qur’an yang didalamnya terdapat ayat yang telah sering kudengar, namun kali itu terasa begitu menyentuh hatiku.. Sangat menyentuh.. Kurasakan bahwa Allah sedang memberi petunjuk untukku..


“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)..” (QS An-Nur: 26)

Ayat ini membuatku terus bertasbih.. Mahasuci Allah.. Aku menghentikan tilawahku sejenak.. Air mataku terus mengalir.. Seluruh tubuhku terasa dingin.. Namun kurasakan keteduhan dan syukur yang teramat besar atas segala nikmat yang Allah beri padaku..

Aku pun melanjutkan tilawahku hingga beberapa ayat setelahnya.. Hingga kurasakan hatiku menjadi tentram..damai..

Kuperbarui wudhuku, lalu kutarik kasur kecilku dan kucoba memejamkan mata hingga akhirnya aku pun terlelap..


***
Tepat pukul 3 dini hari alarm hp-ku berbunyi.. Aku terbangun dan segera membasuh dan mensucikan diri dengan wudhu.. Kukenakan pakaian shalat dan kuhamparkan sajadah merahku.. Sebelum memulai qiyamul lail, kutatap lekat amplop putih itu sambil tersipu malu.. Hatiku terasa berbunga-bunga seolah akan segera bertemu pujaan hati.. Padahal aku pun belum tahu nama mujahid dibalik amplop itu.. Astaghfirullah.. Kuluruskan niatku.. lalu kutunaikan pertemuan indah dengan Sang Pemilik alam semesta..

***

Usai menunaikan qiyamul lail dan mencurahkan segala suka, duka, dan asa padaNya, aku pun mulai membuka amplop itu dengan perlahan.. Jantungku kembali berdebar kencang.. Rasanya hampir mirip debar-debar saat akan melihat papan pengumuman hasil tes SPMB .. Pun rasa itu mirip dengan saat-saat akan menerima hasil ujian sidang S1 penentu kelulusan dulu.. Harap cemas hingga seluruh tubuhku terasa ngilu dan ujung-ujung jariku terasa dingin dan kaku..


Amplop telah kubuka, perlahan kutarik lipatan kertas-kertas yang cukup tebal itu…

Hatiku begitu terperanjat.. Subhanallah.. Allahu akbar.. Antara percaya dan tidak.. Diakah mujahid itu ya Rabb.. Aku begitu tersipu malu..

Kulihat ada foto seorang ikhwan mengenakan jas dan berdasi dan tampak sangat rapi dalam ukuran 4x6 di sisi kanan atas pada biodata itu.. Wajahnya begitu menggambarkan ketenangan dan sifat kedewasaan.. Subhanallah..


Kucoba untuk tetap tenang.. Di malam yang sunyi itu, hanya aku dan Allah yang tahu..bercampuraduknya rasa di dadaku..


***

Kucoba memutar ulang memori-memoriku.. Mencoba mengingat-ingat apa saja yang kuketahui tentangnya..


Sungguh..sangat sedikit yang kutahu tentangnya.. Sebab meskipun aku dan dia berasal dari rahim peradaban kampus yang sama dan aktif pada organisasi ekstra kampus yang sama, namun kami dari generasi yang berbeda.. Sehingga di masa ketika aku aktif dalam dunia da’wah kampus, dia telah berada pada medan da’wah yang berbeda.. Hampir tak pernah kami bertemu apalagi berinteraksi dalam forum yang sama dalam organisasi mahasiswa baik ekstra maupun intra kampus.. Namun ketika itu namanya memang telah sering kudengar.. Bahwa dia adalah seorang ikhwan yang shaleh, berjiwa sosial, sangat baik, dan sangat tawadhu’..


Awalnya aku tak begitu yakin dengan cerita orang-orang tentangnya itu dan menganggapnya biasa dan sama saja dengan ikhwan lainnya.. Maklum, dulu aku termasuk akhwat yang cukup antipati terhadap ikhwan.. Hampir semua ikhwan yang pernah kukenal ataupun pernah berinteraksi denganku masuk dalam blacklist-ku.. Biasanya yang masuk dalam daftar hitam itu adalah mereka yang pernah kudapati berkata ataupun bersikap buruk terhadap orang lain terutama terhadap akhwat ataupun yang meremehkan dan tidak menghargai kiprah muslimah dalam pergerakan da’wah.. Seingatku tidak lebih dari 5 orang dari ikhwan-ikhwan yang berinteraksi denganku yang tidak masuk daftar itu..


Seingatku, dulu aku menganggapnya sama dengan yang lain hingga aku benar-benar mendapatkan bukti.. Setelah akhirnya kami pernah beberapa kali berinteraksi dalam medan jihad yang berbeda di luar kampus bernama Kepanduan.. Namun itu tak lama, sebab setelah beberapa lama aktif di Kepanduan Sulsel, seingatku dia pergi ke pulau lain untuk bekerja.. Mungkin sudah lebih dari setahun dia meninggalkan Sulsel.. Tapi bagaimanapun, dari momen yang sebentar itulah kudapati bahwa memang dia adalah seorang mujahid yang sangat baik dan tawadhu’.. Bahkan dapat kusimpulkan bahwa dia terlalu sempurna bagiku..


***

Kubaca kata demi kata biodata itu.. Dua lembar biodata dalam bahasa English.. sangat lengkap dan detil.. Lebih lengkap dari biodata seseorang yang akan melamar pekerjaan, beserta kriteria-kriteria yang diinginkannya.. Dari susunannya, kutangkap karakter seseorang yang rapi dan sangat tersistematis.. :-)


Satu persatu riwayat dan kriterianya kuterjemahkan dan kudalami maknanya.. Sungguh kriteria-kriteria yang berat menurutku.. Tergambar kriteria untuk muslimah yang sempurna.. Kelas berat.. Tapi mungkin wajar saja, sebab sejauh yang kutahu tentangnya, dia pun kelas berat.. dan memang terlalu tinggi untukku.. Sekali lagi, dia terlalu sempurna bagiku.. Rasanya aku tak mampu memenuhi kriteria-kriterianya.. “Rabb.., beri kebijaksanaan dan kemudahan padaku.. Beri aku petunjukMu..”


***

Kurang dari 1 jam lagi adzan subuh akan berkumandang.. Kuhentikan sejenak membaca biodata itu.. Kubuka kembali Al Qur’an kesayanganku.. Yang merupakan hadiah special dari seseorang yang sangat baik hati.. Kulanjutkan tilawahku..

Kumulai dengan ta’awudz dan kemudian membaca lanjutan dari ayat yang kubaca sebelumnya..
Sungguh Mahasuci Allah… Saat itu hatiku kembali bergetar.. Ayat pertama yang kubaca membuatku bukan hanya meneteskan namun menumpahkan banyak air mata.. Kurasakan bahwa Allah kembali memberiku petunjukNya..

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya), Maha Mengetahui… Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya… ” (QS An-Nur: 32-33)


“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Nuur ila nuur (cahaya di atas cahaya) (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang..” (QS An-Nur: 35-36)

***

Allah Mahabesar…

Sampai di ayat itu aku menghentikan tilawahku… Aku bersujud syukur pada Allah.. Yang telah memberikan petunjukNya padaku.. Yang telah menjawab doaku.. Yang telah memberikan anugerah terindah untukku.. Sejak dulu aku selalu yakin.. Bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untukku..

“Rabb.., jika memang dia jodoh yang terbaik untukku, maka mudahkanlah urusan kami untuk menggenapkan dienMu dan kuatkan kami untuk berjihad di jalanMu .. Namun jika dia bukan jodohku, maka berilah kami kekuatan dan mudahkanlah urusan kami untuk mendapatkan yang terbaik menurutMu.. Amiin”

Malam itu, petunjuk Allah sudah cukup bagiku untuk mengambil sebuah keputusan besar.. Bahwa aku memutuskan untuk berproses dengannya.. Aku pun telah berkomitmen pada diri sendiri.. Bahwa sebesar apapun rintangan yang akan kami hadapi dalam proses ke depan setelah ta’aruf nanti, aku tak akan pernah mundur dari keputusan ini.. dan akan tetap berjuang mengerahkan segenap ikhtiarku untuk sebuah tujuan mulia.. Kecuali jika dia yang meminta mundur terlebih dahulu..
(Bersambung)

***




2 komentar:

naw!r mengatakan...

Masya ALLAH...
sungguh crita yg menggugah
dan menggambarkan proses yg indah :)
salam ma abinya...

Ri mengatakan...

Nice ,,,subhanaallah,,,,ada hikmah yang dapat ana ambil dari tulisan anti, jazakillah, ana ri ukhti dari pontianak :)

Template Design by SkinCorner